Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Tiga hari di Kota Palopo

21:56 0

Kira kira seperti ini ceritanya.



Pukul 20.00 kita sudah diantar sama Muhlis menunggu mobil di stasiun Maros (baca : pinggir jalan, depan SMK Kebangsaan). Alhasil, bus langsung tiba beberapa menit kemudian, barangkali tak cukup sepuluh menit. Setelah terjadi proses tawar menawar yang dramatis yang intinya menjual status (mahasiswa) biar harganya murah. Akhirnya dibolehkan naik *Mungkin dengan sedikit terpaksa*. Perjalanan pun berlangsung murah  meriah, dengan bekal seadanya (untuk kebutuhan perjalanan sendiri, masih sendiri, masih bujang).  Hujan yang mengguyur selama perjalanan membuat tidur semakin lelap. Begitupun dengan penumpang lain. Karena kondisi bus yang lebih banyak kursi kosong, membuat saya lebih leluasa berpindah tempat, dan membaringkan badan (asal tidak berjoget ria). Dan pemberhentian pertama untuk istirahat adalah di kabupaten Barru (supirnya lapar), selama kurang lebih tiga puluh menit.



Melintasi beberapa kabupaten menyusur bagian utara Sulawesi Selatan, tak terasa waktu sudah menunjukan Pukul 03.30. Akhirnya sampai ke Songka’ kecamatan Wara Selatan kota Palopo. Sebenarnya dari beberapa kali kunjungan ke Palopo, baru kali ini mendengar lokasi itu. Tapi, setelah dapat kabar dari kanda Ardi, bahwa tidak usah langsung ke terminal, turun didepan polsek wara selatan saja. Jadilah kita tiba di songka. Rumah baru kace.



Beberapa jam setelah adzan subuh berkumandang. Matahari sudah menampakan wajah lugunya, saatnya buka mata dan rasakan kilaunya. “Don’t you excited when your open your eyes, you in new place”. Benar,  sekarang kita berada lagi ditempat yang berbeda dari biasanya dan sedikit excited, walau belum telusur.



Kebetulan rumah baru kace beberapa kilometer saja dari laut, dan sebelum itu, terpampang empang yang cukup luas (untuk di telusuri). Jadilah kita pagi itu telusuri desa sekitar bersama Nabil. Pemandangan pertama yang terlihat, adalah gerombolan ikan bolu (bandeng) yang menantikan makanan, selanjutnya gerombolan udang dari empang yang lainnya. Dan kepiting yang sesekali menampakan wajah malu malunya sama kita pendatang baru dari area persawahan. Berjalan lebih jauh lagi, eh ketemu pohon jomblo *pohon jomblo lagi* bedanya sama pohon jomblo postingan sebelumnya di Barru yang berada di  bukit ditengah padang rumput yang luas. Kali ini pohon jomblonya berada di tengah empang yang berair hijau.



Budidaya Kepiting Cangkang lunak



                Telusur lebih jauh lagi, terdapat sebuah empang luas yang isinya bukan ikan dan udang, tetapi kepiting yang dimasukan dalam kotak hitam yang sudah dimodel sedemikian rupa. Jika diperhatikan lebih dalam sedalam empang, ada view menarik disini. Cukup interview pekerjanya (ibu – ibu), ternyata kepiting dimasukan dalam kotak agar bisa diambil cangkang yang lunak. Selama sehari bisa tujuh kali panen. Dan pekerjanya dibagi dalam tiga shift, karena cangkang yang sudah siap panen harus selalu dicek setiap saat.  Dan menurut info, cangkang dari kepiting ini diimpor ke luar negeri loh, bukan hanya di pasarkan di Indonesia.

                Walaupun pada pagi itu hanya terdapat sekitar sepuluh lebih pekerja yang memanen cangkang kepiting soka. Tapi mereka bekerja dengan giat untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

                Tak jauh dari budidaya kepiting soka ini, sekitar seratus meter, akhirnya tiba di pantai yang tadi hanya bisa diperhatikan dari kejauhan. Airnnya surut, jadi penampakan hutan kayu lapuk dari pohon bakau begitu terasa. Dan angin laut yang sepoi datang menyambut kami dengan riangnya.



***

Hari Kedua, setelah hari kerja yang dijadikan hari cuti. Serbuan teror dari supplier dan rekan kerja kemarin, tergantikan dengan tidur lelap dari kegiatan yang meletihkan semalam. Mengecat rumah sembari mengiringi canda ketiga saudara kandung yang terlalu kegirangan ini. Sambil menunggu pisang goreng buatan mamak yang kabarnya paling enak sedunia (bagi anak anaknya). Saat fajar menyingsing, pagi ini tidak ada jelajah empang lagi (mungkin trauma karena kemarin sempat ditegur saat sedang berjalan di industri kepiting milik warga sekitar yang melarang memotret kegiatan pekerja, tapi alhasil sudah banyak gambar yang diambil. hehe).  Jadilah hari ini, kace masuk ke rumah barunya (peresmiannya). Suara ribut kerabat serta rekan kerjanya yang turut meramaikan acara syukuran cukup membuat kebisingan di pagi hingga siang itu. Rencana mau pergi sejenak, tapi motor terpakai. Jadilah kita jadi pagar ayu siang itu.



Tidak berapa lama, mungkin malaikat mendengar ucapan saya tadi untuk keluar sebentar. Ada seorang nenek yang ingin diantar pulang ke Balandai’ (nama daerah di Palopo).  Saya menawarkan diri untuk mengantar *wujud bakti kepada orang  yang lebih tua* .  Akhirnya punya kesempatan juga ngetrip bareng nenek - nenek. Selama perjalanan, nenek yang baru saya temui ini bercerita panjang tentang kisahnya yang baru seusia SMP sudah menikah, pekerjaan anak anaknya, kegiatan cucu – cucunya. Waktu gadis ngapain saja, pokoknya panjang lebar, sehingga perjalanan menjadi begitu hidup. Pesan hidup yang ditawaran untuk saya adalah “Orang tua bekerja keras diwaktu muda. Di hari tua,  mereka hanya menunggu kebaikan dari anak anaknya”. Dari perjalanan yang begitu hidup ini, saya sempat menanyakan sesuatu ; “nenek masih ingat jalan pulang ?”  Spontan jawaban dari pertanyaan singkat yang saya ajukan ini dijawabnya dengan kisah lagi. -_-. Kurang lebih seperti ini “Saya tuh waktu masih gadis tinggal di sana (sambil nunjuk suatu tempat di kota), dan setelah nikah, saya ikut suami ke Lamasi (nama daerah di luwu) jadi bla bla bla. Jadilah sebuah cerpen. Sebenarnya tujuan saya bertanya, karena saya juga lupa jalan menuju Balandai’.

waduh, kita kesasar nek. Tapi tenang saja, saya bisa baca petunjuk jalan (berusaha menenangkan). Dari beberapa liku jalan yang dilalui, akhirnya jalan poros menuju Masamba kelihatan. Syukurlah, akhirnya bisa membuat nenek ini tidak khawatir lagi.



Cerita tentang nenek berakhir.



Sepulang mengantar nenek tadi, kita coba telusur wilayah Balandai lagi, masuk ke pemukiman warga yang dipenuhi dengan rumput laut yang dikeringkan, melalui pantai, dan beberapa pekuburan cina, kristen yang tersusun di gunung. Tujuan yang dicari adalah view yang berbeda dari biasanya. Setelah lelah telusur, terpercik ide untuk mengunjungi Masjid yang kemarin ditunda untuk sholat jum’at disana. Masjid Jami Tua Palopo.



Masjid Jami Tua Palopo



Siang yang sudah hampir memasuki waktu duhur itu, membuat saya penasaran mengunjungi masjid tertua kedua di Sulawesi Selatan. Setelah mendengar cerita dari kakak, bahwa disana terdapat pohon cinaguri yang paling besar, dan susunan tembok masjidnya yang hanya disambung dengan menggunakan putih telur, (mirip pembuatan piramida di Mesir). Jadilah kita sholat duhur disana. Subhanallah, benar benar indah dan penuh dengan nilai sejarah disini, Arsitektur yang menarik dengan batu yang berwarna abu abu dan begitu tebal, seukuran tujuh kali lipat dari masjid dikampung saya. Atap masjid yang bersusun tiga, dan pintu masjid yang berwarna coklat dengan pengait (paccala) yang masih model dulu.



Disana sudah terdapat banyak ummat muslim yang sedang menantikan waktu zuhur, sembari melihat lihat perlengkapan sholat dan pakaian muslim yang dijual di pelataran masjid. Walaupun ukuran masjid ini sedikit lebih rendah dari masjid masjid baru yang dibangun saat ini. Masjid tua ini merupakan titik nol kota Palopo. Jadi hitungan kilometer dikota ini dimulai dari masjid ini.



Memasuki ruangan masjid, nuansa religius begitu kental terasa, akhirnya terlihat juga cinaguri yang berbatang paling besar ini. biasanya hanya dijadikan sapu (sejenis sapu lidi untuk menyapu halaman, atau dijadikan kayu penunjuk saat mengaji waktu kecil dulu). Cinaguri ini  merupakan tiang utama yang menyangga empat tiang lainnya di masjid ini. menyangga empat tiang artinya (eppa’ sulapa’) dimana arah mata angin ada empat.



Di masjid ini kita berkenalan dengan seorang gadis cilik yang bernama Rika. Katanya dia senang sekali menghabiskan waktu disiini setiap pulang sekolah. Kadang mengendarai ojek, tak jarang juga dia hanya berjalan kaki. Saat menawari pegang kamera, saya langsung memberikannya, dari dialah saya dapat beberapa informasi mengenai keberadaan masjid ini. Berjalan ke arah cinaguri yang berada dalam ruangan berkaca, itu membuatnya kembali bercerita. Konon katanya, orang yang menebang pohon cinaguri ini berikrar bahwa tidak akan ada lagi pohon cinaguri yang sebesar ini. Makanya sekarang cinaguri yang tumbuh hanya sebesar induk jari. Saya sempat menanyakan mengapa pohon ini dipagari dengan dinding kaca. Ternyata, banyak orang yang mengambil potongan kayu dari pohon tua ini sebagai obat atau semacammnya.



Dari papan informasi yang tertera juga terdapat sejarah singkat masuknya islam ke wilayah wilayah yang ada di sulawesi selatan juga terdapat keterangan skema ukuran masjid tua Palopo.  Terima kasih deik Rika sudah berbagi informasi. See you next time.



Pantai labombo

Masih dihari yang sama, sore disaat acara sudah berlangsung dengan meriah tanpa tepuk tangan dari penonton karena ini bukan pertunjukan, ditemani Nabil yang belum mandi seharian karena memegang janji dari omnya untuk mengajaknya berenang di pantai Labombo. konon kabarnya pantai itu yang paling terkenal di kota Palopo ini. Mencoba menyusuri jalan yang sebelumnya belum pernah kami lewati. Hanya sedikit info dari kakak, jadilah explore pantai terjadi lagi.



Karcis masuk ke pantai ini sebesar Rp. 15.000 dihari libur, berhubung karena ini hari sabtu maka tergolong hari libur, itu berlaku untuk semua kalangan baik itu anak anak, dewasa maupun om – om. Lokasi pantai yang menghadap ke arah timur dan memanjang ini membuat pengelola berusaha meningkatkan wahana wisata didalamnya. Terdapat kolam yang berbatasan langsung dengan pantai, terdapat kebun bunga, gazebo dan tempat memesan makanan / minuman. Banyak keluarga yang menghabiskan waktunya disini, sembari menikmati jus dan kue kue ringan disuguhi dengan pemandangan laut dan angin sepoi darinya.



Tak lama berada di pantai ini, karena hari sudah semakin gelap, dan hujan yang mengguyur di bagian utara kota Palopo awalnya kami pikir hujan itu akan segera mengguyur sampai ke selatan palopo akhirnya kami buru buru. Tapi tidak, sampai ke daerah pegunungan saja yang hujan.



***

Di hari ketiga, saatnya jelajah pasar, menemani mamak dan kakak ipar, sudah dua kali bolak balik ke pasar ini, untuk sekedar membeli oleh oleh. Dan oleh oleh utamanya adalah sagu (sebuah makanan yang terbuat dari batang pohon sagu yang dibungkus dengan daun). Makanan ini menjadi bahan utama dalam pembuatan kapurung (papeda).



Its day to quality time. Mengajak kemanakan kemanakan ke time zone, bakar ikan sama mamak tercinta :* saudara saudara dan istri istrinya (istri saya mana?) sama anak anaknya (anak saya mana?) dan semua semuanya. Semoga keluarga kami akan berkumpul juga di syurga kelak. Amin !!!



Dan malamnya pun kembali bersama bus pesanan yang mengantarkan kami kembali ke daerah asal dengan tidur lelap. Dan ada cerita lucu lagi disini, pas lagi nyenyak nyenyaknya tidur. Mamahnya Nabil, tiba tiba teriak, karena bus oleng “Woi, pak supir kenapa, Pak supir kenapa? (dengan dialek dan ekspresi kaget, pake berdiri lagi). Saya dan beberapa penumpang lain keheranan. “Zonkkk”.  Hahah. Tapi langsung ketawa karena bus dan pak supir tidak apa apa. Katanya dia mimpi dan itu wujud ekspresi dari mimpinya. Sudahlah.

Dari pukul 22.30, akhirnya bisa tiba di Maros dengan selamat sentosa, menghantarkan sagu yang harus dipikul sendiri. Dan kembali ke rutinitas hari senin. SENIN.



Terima kasih untuk perjalanan 27-29 Januari bersama keluarga kali ini.

Ketika Mikha Mengajak #01

05:43 0
"Dir, ikut aku keluar sebentar yah". Mikha mengajaknya keluar dari kelas yang diajar oleh dosen yang tidak dianggap killer di kampus ini. 
"Buat apa? kita lagi ada kuliah ini". Takdir berusaha menolak
"Sebentar saja. Ayolah" pintanya lagi dengan memelas kasih.

Terpaksa Takdir mengikuti pinta Mikha untuk mengikutinya sejanak keluar. Setelah sampai di samping tangga di depan kantin kecil bu Idah dia berkata sesuatu yang sepertinya serius kepada Takdir. 
Aku sengaja mengikutinya dari belakang, karena kebetulan hendak ke wc juga.

"Takdir, mengapa kamu tidak menyukai ku? sudah sangat lama aku mencoba mencari perhatian dari kamu tapi kenapa kamu tidak menghargai perasaan yang aku tunjukan selama ini? masih kurang apa aku? Kamu suka gadis berhijab dan hijab itu sudah menutupi tubuhku" Tiba - tiba Takdir memotong pembicaraan.

"Tidak Mikha, Hijab belum menutupimu. Hanya menutupi kepalamu saja, tidak dada dan pinggulmu, sedangkan etika berhijab sampai menutupi dada dan bagian tubuh wanita yang bisa mengundang syahwat bagi kami kaum lelaki".

"Iya tapi saya telah berhijab dan mencoba memperbaiki diri". Bela Mikha

"Saya sangat menghargai perjuangan kamu. Kalau kamu mengatakan saya hanya menyukai gadis berhijab, toh di kampus ini juga semua gadis berhijab, ini kan kampus islam. Saya tidak hanya mencari gadis yang menghijabi kepalanya saja. Yang tidak hanya berhijab dari covernya tapi yang bisa menghijabi hatinya juga. dan tingkah kamu yang seperti ini tidak manandakan kamu berhijab sesuai dengan kata hati kamu".

Penjelasan tersebut memaksa Mikha mencari seribu alasan untuk menangkis kata kata lelaki pujaanya. "Katanya kamu menghargaiku, tapi mana wujud penghargaan kamu dir?

Takdir berusaha menggerakan tubuhnya menjauh sedikit dari Mikha yang lebih mendekat kepadanya. "Penghargaanku, nanti kamu akan tahu jawabannya. Selama kamu masih bisa menjaga diri kamu dan menjauhi pergaulan bebas kamu".

***

Ternyata ada Sella di dalam kantin bawah tangga itu, dia sedang sibuk mengerjakan tugas dari dosen yang akan masuk pada jam selanjutnya. Sella berasal dari kelas B3. Tapi sepertinya dia memiliki hubungan yang baik juga kepada Takdir. Terbukti pada saat dia mengikuti ospek dulu, hanya Sella yang selalu bersamanya. Begitupun pada saat pengurusan berkas masuk kampus ini. Sella selalu berada di bangku terdepan mobilnya selain teman teman Takdir yang satu kampung dengannya.

Sella memang satu kampung dengan Takdir, tapi Sella jarang memakai motornya kekampus. mungkin karena tumpangan dari Takdir sudah terasa nyaman buatnya. Terlebih lagi sikap ramah dan sopan yang ditunjukkan Takdir tak bisa dihindari oleh siapapun yang ditawari untuk ikut dimobilnya. 

Hal itu yang membuat Sella kagum kepadanya, bahkan pada mata pelajaran akutansi Takdir tak segan mengajari Sella yang dosennya tidak bisa membuatnya paham. Sehingga Sella sering menghabiskan banyak waktu dengan Takdir. Baik itu bertanya masalah pelajaran, maupun hanya sekedar silaturahmi dengan ayah dan ibu takdir.

Setelah  mendengar semua apa yang dikatakan Mikha kepada Takdir, Sella terasa tersontak, kaget hebat yang dialaminya saat itu hanya bisa membuatnya terdiam dalam kantin kecil itu, tanpa suara, tanpa gerakan. Ingin rasanya ia keluar, menegur Mikha yang berani berkata selancang itu kepada Takdir. Tapi tubuhnya terasa sangat kaku. Entah perasaan seperti apa yang mengganggu dan bergejolak dalam hatinya saat itu. Tapi ia benar - benar cemburu kepada gadis sekelas Takdir yang cantik dan lebih langsing darinya.

Bersambung.......

Cerpen - Keangkuhan Mimpi Kahfi #01

05:53 0

Baru saja usai melepas penat bekerja di subuh ini. Ibu menyuruh lagi membersihkan sampah bekas sayur yang tercecer di tumpangan bapak. Pekerjaan yang keluarga saya tekuni semenjak saya mulai sekolah. Sebelumnya bapak hanya menanam sayur,dan menjualnya kepada tetangga yang berdagang. Tapi beliau memutuskan untuk menjualnya sendiri. Membawa sayur yang sebagian besar dihasilkan dari kebun sendiri dan dijual keliling kampung sampai melintas ke dusun lain yang ada di desaku.

Sebelum ayam berkokok, yang menandakan fajar telah menjemput kami telah usai mengisi penuh motor bapak yang dimodifikasi untuk menampung banyak sayur. Bergegas kami sekeluarga mengucap syukur kepada sang pemberi rejeki dengan melaksanakan sholat subuh berjamaah dilanjutkan tadarrus singkat dari bapak.

Beliau sangat menikmati pekerjaannya, bahkan semangatnya pun menular kepada saya yang tak henti hentinya berjuang.

Tak lama lagi tes masuk SMA favorite yang ada di kabupaten saya berlangsung. Saya harus belajar lebih giat lagi untuk bisa lulus.

Alhamdulillah, setelah melewati masa SMP yang terkesan singkat ini, saya cukup puas dengan urutan ketiga di sekolah saya.  Meski tak banyak prestasi yang bisa saya hasilkan dari sekolah yang mengutamakan kesopanan dan keramahtamahan ini, saya bisa mengetahui dan mengenal banyak hal yang mendukung terciptanya pribadi yang tulus dan ikhlas menjalani hidup.

Setelah berhasil berjuang bersama bapak, saya yang tidak segan membawa sayur dan hasil kebunnya  untuk dijajakan ke penjual dipasar menjadi terbiasa bangun subuh. Hal itu yang saya bawa hingga saat ini.

***
Setelah tes masuk SMA favorite berlangsung. Dunia baru telah datang. Mereka yang datang dengan membawa segala keangkuhan yang dimiliki membuat saya menjadi kecil bahkan sangat kecil disini. Mereka semua anak pejabat, PNS, Pengusaha sukses, Dokter, bahkan direktur dari perusahaan perusahaan yang berasap di kota saya. Menjadi sangat hebat dengan gaya yang mereka miliki.

Disaat masa orientasi siswa mereka dengan angkuhnya melantangkan pekerjaan orang tua mereka. Saya tak mau kalah hebat. Dengan bangga saya melantangkan "bapak saya seorang penjual sayur"  kepungan mata mengarah padaku saat itu. Kenapa mereka seperti itu? Apa ada yang salah dengan kata kata yang baru saja kuucapkan?. Atau saya melantangkannya dengan nada keangkuhan? Seperti mereka tadi.

Kakak senior yang menjadi pendamping dikelas saya ini juga ikut ikutan menatap sinis. "Memangnya ada yang salah?" Tanyaku dalam hati. Suara bisikan mengejek tetangga tempatku duduk sempat terdengar samar "dia hanya seorang anak penjual sayur? Mana bisa dia membayar uang SPP disekokah ini?"

Saya hanya menelan ludah mendengar bisikan mereka. Dan berikrar dalam hati untuk bisa lebih hebat dari mereka yang seorang anak pejabat. 

Saya merasakan ada yang ganjil disekolah ini. Adanya tindakan diskriminasi dari pihak sekolah untuk anak bangsawan. Kelas mereka dibedakan. Lebih mewah, lebih adem dengan segala perabotan yang dimiliki.

Kebetulan arah menuju mushollah melewati kelas mewah ini. Mereka yang menjadi penghuninya ternyata seangkuh ruangannya. Dengan segala aksesoris mewah bak model di tv, mereka bertingkah sinis kepada kaum yang tidak se level dengan mereka. "Tuh anak penjual sayur lewat". Ejekan salah seorang dari kaum itu. 

 ***
Semua ejekan itu menjadi motivasi bagiku untuk terus berkarya. Berprestasi dan membuat diriku lebih baik, terutama dari segi ahlak yang mulai luntur pada sebagian generasiku.  Tapi sungguh, Saya tidak dendam kepada mereka. Saya berharap Allah swt menunjukan jalan dan hidayahnya kepada teman teman yang seperti ini. 

To be C
ontinued ......

Cerpen - Cerita dari Kampung Halaman (Cinaguri Manjalling)

13:54 2

 Oleh : Muhammad Syukur (@zyuk_ron)
Sungai di Manjalling (Taken ; myself)

Masih dengan ember yang bergelantungan di kedua tangan Nisa. Dengan jilbab yang masih agak kebesaran untuk ukuran tubuhnya yang mungil, dia dengan semangatnya memenuhi gumbang (bak air) yang ada di kolom rumah guru mengajinya. Telihat beberapa tangan yang memerah dari beberapa temannya yang sudah mengaji sedari tadi,  itu karena pukulan batang cinaguri (sebuah batang yang digunakan masyarakat dikampung sebagai penunjuk pada saat membaca al-qur’an) dari guru yang sedang mendidik santri yang tajwidnya masih salah.
Sebenarnya, didikan dengan pukulan batang cinaguri itu meninggalkan bekas yang tak bisa dilupakan, sama halnya al-qur’an yang kami pelajari juga menitihkan bekas yang tak bisa dilupakan sepanjang hayat kami hingga akhirat kelak. Air yang diambil dari sumur yang jaraknya sekitar 20 meter dari kolom rumah guru mengaji membuat kami menjadi  semangat dan tidak mudah mengantuk pada saat belajar mengaji. Karena untuk belajar dibutuhkan perjuangan dan proses yang indah.
Nisa hari ini tidak sempat belajar mengaji karena harus membantu kakaknya memanen padi disawah yang letaknya tidak jauh dari rumah pamannya “Saeni”.  Merasa bersalah dan tidak enak kepada gurunya, Nisa pun memutuskan untuk beranjak sejenak meninggalkan kakaknya yang sudah berkeringat deras. “kak saya mengaji sebentar yah, tidak enak kalau hari ini harus absen mempelajari kitab suci yang diturunkan oleh Allah swt”. Niatnya sudah bulat untuk belajar mengaji.
“Ya sudah, pergi saja dulu sana, sebentar habis ngaji, jangan lupa kembali kesini lagi ya, karena kita tidak bisa makan kalau tidak bekerja seperti ini dek. Untung saja paman tidak memberikan sawahnya kepada saudagar yang memiliki mobil panen itu, kalau sampai dia memanen sawahnya dengan mobil. Dapat beras dari mana lagi kita”.
“Iya kak, saya pasti kembali untuk membantu. Mau ambil uang dari mana lagi saya kalau bukan dari kakak. Ini kan untuk sekolah saya juga”
Salah seorang teman Nisa memberi tahu kepada guru mengajinya, tentang kondisi Nisa yang sangat miskin setelah ditinggal ibunya. Ayahnya yang menikah lagi dan merantau ke Kalimantan sangat jarang memberinya uang, hingga membuat Junaidil (kakak Nisa) yang harus menjadi tulang punggung bagi Nisa bekerja keras banting tulang setiap hari. Membantu siapa saja yang membutuhkan bantuannya dan berharap mendapat upah walaupun kadang hanya diberi ucapan terima kasih dari warga yang telah dibantunya. Namun Junaidil sangat ikhlas melakukan semua itu dalam rangka ibadah dan mengumpulkan bekal untuk akhirat.
 Setelah mendapat informasi itu. Gurunya yang sekaligus pemimpin pada beberapa acara adat dikampung ini, memberi sedikit bantuan kepada Nisa dan kakaknya, sawah yang dikerjakannya lumayan banyak dan dia meminta agar kakak Nisa saja yang memanennya.
Guru mengaji Nisa mengerti, kalau bukan dia yang memperhatikan anak yatim seperti Nisa. Siapa lagi yang hendak melakukannya. Di jaman yang serba modern seperti sekarang ini, semua orang lebih senang berhura hura tanpa memikirkan nasib orang lain.
***
Selain melakukan panen, Junaidil juga sering memasang pukat di sungai belakang rumahnya. Sehari, kadang dapat dua ekor ikan yang lumayan besar, tapi kadang tidak ada sama sekali. Memang, memasang pukat ini sangat cocok dilakukan pada saat musim kemarau.
Di sore hari, anak anak lebih sering bermain sepak bola di pinggir sungai yang sebagian badannya sudah mengering. Lokasi ini sangat menarik dan membentang sepanjang dua puluh meter dari arah timur ke barat, sehingga anak anak kampung lebih leluasa melakukan berbagai permainan yang mereka sukai di sungai. Ada yang membuat kerajaan pasir yang diatasnya dihiasi dengan kerang yang dalam bahasa kampung kami dikenal dengan baja’ – baja’ dan biri – biri. Ada yang memungut buah asam yang pohonnya tepat condong kesungai. Ada juga yang sekedar mandi dan berenang menggunakan jergen agar terapung.
Mereka lebih senang bermain di sungai, karena suasana sungai yang dingin dan sejuk, sehingga anak anak itu merasa lebih nyaman dan aman untuk bermain di sungai ini.  Selain pukat, masyarakat juga sering menggunakan jala  untuk menangkap ikan mas yang sedang memakan lumut yang melekat di bebatuan kecil di sepanjang sungai yang dangkal ini.
Banyak manfaat yang bisa dinikmati dari sungai ini. Sungai yang bersumber langsung dari “Bantimurung” salah satu objek wisata terbesar di Sulawesi Selatan. Memberi manfaat kepada petani yang sawahnya sedang kekeringan. Dengan menggunakan pompa air, air sungai ini bisa mengaliri sawah mereka yang sedang kekeringan. Selain airnya, pasir yang juga ada disungai ini digunakan untuk campuran semen dalam pembangunan masjid yang sementara dalam tahap renovasi. Junaidil juga selalu turut gotong royong bersama para masyarakat untuk mengangkat pasir hingga ke wilayah mesjid yang akan direnovasi. Sangat terlihat jelas semangat kebersamaan dari masyarakat yang selalu mengikat silaturahmi ini.
Para remaja masjid akhwan tengah mempersiapkan makanan dan minuman yang akan disuguhkan sebagai pelepas dahaga masyarakat yang sudah bercucuran keringat mengangkat pasir. Junaidil yang sesekali memperhatikan salah satu remaja akhwan ini tidak terlihat lelah, dan malah dia sangat bersemangat ketika mendapat senyuman balasan dari Sari.
“Owh ternyata si Sari yang selalu kamu perhatikan dari tadi’?” sapa Agung dengan nada mengejek kepada Junaidil.
“Ah bukan, yang saya perhatikan kue mereka, lanjutkan saja angkat pasirnya terus sebentar kita cicipi kue buatan para akhwan itu”. Sanggah Junaidil.
Para remaja masjid dikampung ini selalu mencoba memberi warna dan gerakan baru dalam masyarakat, memberikan kemudahan kepada anak anak  yang ingin belajar iqra’. Berbekal kemampuan yang dipelajari dibangku sekolah masing masing mereka menyatukan niat dan tekad untuk memberi pembelajaran kepada adik adik yang ingin belajar iqra agar bacaan kitab sucinya lancar. Tentu tanpa pungutan biaya, dan salah satu penggeraknya adalah Sari.
Pada malam itu, ada salah seorang warga yang istrinya sedang berada di tanah suci mekkah untuk menunaikan salah satu rukun islam yaitu berhaji. Sesuai tradisi adat dalam kampung kami, warga yang di tanah suci ini dibacakan “Barazanji” (sebuah sajak indah yang isinya mengenai sejarah nabi Muhammad Saw) yang dibacakan setiap malam jum’at. Mulai dari minggu pertama keberangkatan hingga tibanya kembali kekampung halaman. Kebetulan malam ini yang sedang berhaji adalah ibunya Sari. 

Junaidil yang juga pandai membaca barazanji  tak ingin ketinggalan pada setiap malam jum’at” dia selalu pergi lebih awal dari teman temannya yang lain. Selain untuk barazanji, dia juga memanfaatkan kesempatan ini agar bisa berjumpa dengan Sari sang dambaan hati.
Walau tanpa kedekatan yang terlalu nampak, masing masing mereka menyimpan perasaan suka. Namun sebagai tradisi di kampung ini remaja dan pemuda kampung harus menjunjung tinggi yang namanya siri’ (malu). Karena dengan membudayakan siri’ maka ketika melakukan perbuatan tercela kita akan masiri’ (malu) kepada orang lain.

“Tolong berikan batang cinaguri untuk Nisa’. Semoga dia bisa jadi muslimah yang soleha dan menjadi kebanggaan buat kamu Junaidil”. Pesan  Sari ketika Junaidil hendak pulang.

“Ia, semoga dengan batang cinaguri ini dia bisa pandai mengaji seperti kami Sari, Amin”.
Batang cinaguri itu selalu Nisa gunakan ketika belajar mengaji. Dia sangat berharap menjadi seperti Sari yang pandai mengaji qira’ah  dan mengikuti MTQ tingkat provinsi dengan mewakili Manjalling kampung halamannya. Semoga saja cita cita sucinya bisa terkabulkan. Amin.

Karya Asli zyukron ; Pernah diikutkan dalam lomba CDK (Cerita dari Kampung Halaman)

Cerpen - Yang Tertahankan

06:15 0
Cerpen : Yang Tertahankan 
Oleh : M. Syukur

Sore itu sangat sejuk, cuaca yang cerah sepanjang hari membawa bercak kemerahan di ufuk barat. Nampak dari kejauhan tubuh matahari terbenam dari genangan air sawah yang sudah siap untuk ditanami, dan beberapa petani yang sudah kembali dari sawahnya dengan cangkul membentang di bahu mereka.

Like this ya