MENEPIS RASA - BAB I - Sebuah Nama

00:20 0
Gagah perkasa melantunkan adzan di ruangan persegi sebuah rumah bersalin. Ayah dengan suara merdunya diiringi tangis yang sakral membersamai kalimat terakhirnya. Sebuah tangis yang dinanti setelah perjalanan dibalut perjuangan mengandung sembilan bulan. Triani Nur Rahma. Sebuah nama yang ayah sematkan padaku dihari kedua udara dunia seutuhnya menyelinap, menyatu memasuki pori pori dan pernapasanku. Entahlah,  atas dasar apa ayahku tiba tiba saja menjadikan nama itu pilihan terakhirnya. Jika saja aku sudah bisa bicara waktu itu, aku akan protes mengapa harus Triani, aku anak pertama bukan anak ketiga. Harusnya nama yang ia sematkan pakai imbuhan yang kesannya ‘pertama’, semisal fisrtiani, agak kebarat barat dan itu lebih keren. Uhh... ayah!.
Kata mamah, namaku baru ditemukan di hari kedua. Itu karena ayahku harus menghubungi paman yang katanya seorang ustad. Dan kebetulan waktu aku lahir, ayahku tidak memiliki handphone, jadilah ia harus meminjam handphone suster yang waktu itu minim pulsa. Ayah menelpon pamanmu sampai kedengaran bunyi tutt..tutt..tutt.. Itu pertanda bahwa pulsanya sudah habis. Hihihi.
Hari ini aku sedang bersantai dirumah. Kuminta Mamah menceritakan tentang kisah kenapa nama ini disematkan padaku.
“Suster, boleh saya meminjam handphone suster?” Pinta ayahmu dengan wajah memelas.
            “Mau ngapain pak?” Tanya suster itu penasaran, karena baru kali ini ada pasien yang mengemis untuk meminjam handphonenya. Maklum saja, waktu itu handphone masih menjadi barang asing yang hanya dimiliki oleh para bangsawan yang memiliki kuasa untuk memasuki toko elektronik, membeli dan membawanya pulang. Untuk orang sekelas ayahmu itu yahh mana bisa !.
            “Ke wartel aja pak” Suster itu menyarankan.
            “Wartel Jauh Mba’, lagian saya Cuma mau minjam sebentar doang kok”. Pinta ayahmu dengan nada sedikit memaksa.
“Karena kasihan dengan ayahmu, yang saat itu lagi kere-kerenya ditambah lagi harus membiayai persalinan. Akhirnya suster itu meminjamkannya. Mungkin suster itu cukup pengertian karena melihat kondisi kami pasangan muda yang belum begitu berkecukupan.  Dan saat itu tidak ada sanak saudara yang mengunjungi kami. Kamu begitu dadakan keluarnya, perut mamah rasanya sakit sekali kau tendang dari dalam. Seperti pemain bola yang bertanding pakai jurus silat, entah jurus tendangan macam apa yang kau keluarkan. Saat itu ayahmu sangat kelabakan melihat mamah mengerang kesakitan.”
Saat bercerita kulihat wajah perjuangan mengalahkan sepuluh banteng terkuat didunia ini dari mamahku. Saat berhasil Kembali ia ceritakan masa ketika aku dilahirkan.
“Malam itu mamah merasakan sesak yang teramat, jantung mamah berdetak dengan kecepatan yang sangat tinggi. Mengalahkan detak ketika pertama kali bertemu ayahmu. Perut mamah sakit bukan main. Saat itu mamah berdoa semoga diberi anak yang kuat, sebagaimana kuatnya mamah menahan sakit itu. Selama perjalanan kerumah bersalin kamu terus terusan menendang, seolah tempat tinggal kamu selama sembilan bulan ini sudah begitu kecil, sekecil bola. Dan lihatlah dirimu ini engkau mirip samsonwati, sangat kuat.” Ujar mamah sambil mengelap peluh dikeningnya.
“Ah mamah.. Kupeluk mamah erat dan manja setelah menceritakan hal itu.
“Jangan kau cekik mamah dengan pelukanmu, sudah cukup mamah merasakan sakit waktu itu.” Mamah menggosok kepalaku dengan tangannya yang lembut. Aku dan mamah tertawa. Aku senang sekali ketika mamah mendongeng tentang masa kecilku. Meskipun aku tergolong cewek yang agak keras dan sedikit jail, menurutku pelukan mamah adalah pelukan terhangat sedunia.
Dalam pelukan mamah yang begitu hangat, membersamai hujan deras diluar sana kupinta mamah melanjutkan ceritanya.
“Dulu waktu ayahmu menelpon paman untuk menentukan namamu, pamanmu malah menyarankan nama hmm... siapayah dulu itu?” Tanya mamah pada dirinya sendiri seolah mengingat kejadian belasan tahun yang lalu.
“Siapa yah waktu itu? mamah lupa. Ttapi namanya tidak terlalu menarik sih menurut mamah. Mamah minta pilihan yang lain, nah dia kasih Nur Rahma ini” tutup mamah dengan ekspresi senyum centil.
“Lah, kok namaku ada Trianinya itu ngambil dari mana mah?” tanyaku penasaran.
“Biarpun kita orang kampung, ayahmu lah pencetus nama itu. Triani itu Tri dan Ani. Tri karena kamu lahir di tanggal tiga dan Ani adalah panggilan sayang ayah ke Mamah. Ayahmu itu sering memanggil Mamah dengan Ani, sambil berusaha menyamai suara Rhoma Irama si penyanyi dangdut legendaris itu.”
“Ayah kreatif juga yah mah, dia juga romantis ke mamah” Kulihat senyum merekah di wajah mamah ketika aku mengutarakan itu, mamah sangat sayang sama ayah dan itu terbukti dari kesetiaannya selama ayah pergi.
Sepengetahuanku, kalau namaku diartikan secara harfiah “Triani Nur Rahmah” adalah tiga-cahaya-kesayangan. Tapi setelah kupikir pikir lagi, kalau nama itu terlalu manis dan anggun melihat kelakuanku yang sekarang. Aku belum paham betul makna sebenarnya dari tiga cahaya kesayangan itu. Dan aku tidak begitu percaya dengan Tri yang disematkan ayahku hanya karena alasan tanggal kelahiranku, aku yakin pasti ada makna lain dari nama Triani itu. Akan kucari dan kutemukan kelak ! lihat saja.

Jejak di Lappa Laona Barru

23:06 1
Gazebo di Lappa Laona Barru
18 Agustus 2018. Kesempatan baru berpihak kepada kami untuk mengukir jejak di salah satu wahana andalan baru Kabupaten Barru. Kawasan wisata Lappa Laona, Desa harapan, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan. Padahal tempat ini telah diresmikan pada tanggal 13 Mei 2018.

Selang tiga bulan sejak diresmikannya, tempat ini telah memiliki beberapa spot menarik. Tentunya untuk kembali menyejukkan imajinasi. Salah satu yang menarik adalah berdirinya rumah-rumah gazebo yang berjejeran dengan model minimalis.
.
Perjalanan kesini. Kami berangkat dari maros sekitar pukul setengah 2 siang. Panas yang sedikit dirisaukan tidak menjadi   masalah besar yang harus selalu dikeluhkan, toh juga sekarang memang musim kemarau. Dan panas salah satu anugerah yang patut disyukuri jika dibandingkan dengan mahluk yang hidup di daerah kutub.
.
Berangkat dari maros bersama Muhlis dan Bill, berencana bertemu di meet point (Pangkep) dengan Kahfi, Nawir dan Dedy. Kami berangkat berenam. Motor melaju dengan kecepatan cukup diatas rata rata (diatas 50 km/jam). Kami mengejar view sunset yang indah (padahal sunset tidak akan kemana), karena konon katanya di Lappa Laona adalah  "highland" (dataran tinggi).
.
Benar, aroma dataran tinggi terasa ketika kami mulai melewati jalan ke salah satu tempat wisata "Celebes Canyon". Kalau ada yang bertanya, jalan ke Lappa Laona, itu berada satu jalur poros dengan tempat wisata andalan Barru yang lainnya yaitu Celebes Canyon, Pohon Jomblo dan Air Terjun Wae Sai. Hanya saja lorongnya (jalur masuk) yang berbeda beda. Jika dari arah Makassar, di Lampu merah pertama yang ditemui setelah perbatasan Pangkep Barru, Silahkan belok kanan ke Tanete Rilau jalan Poros yang menghubungkan Kabupaten Barru dan Kabupaten Soppeng lewat jalur Bulu'dua anda akan melewati fly over yang dibawahnya merupakan jalur kereta api.

Area ketinggian yang menyelaraskan alam dengan keramahan penduduk sekitarnya sangat kental ketika kami bertanya tempat tembal ban terdekat. Maklum, motor kahfi yang langganan mengalami kebocoran akhirnya terjadi lagi. Tepat di siang hari dengan terik yang begitu hebat namun hawa sejuk sangat terasa. Berhubung karena disini dataran tinggi, jadi walaupun matahari memaksa kami untuk kepanasan, tetap saja cuaca masih berkompromi.

Kondisi ban motor kembali normal setelah operasi ringan yang memakan sedikit biaya karena harus disesar (diganti). Kami melanjutkan perjalanan, sampai di gerbang perbatasan Bulu'dua silahkan belok kanan. Kurang lebih 8 kilometer lagi motor harus dilajukan. Diantara rentang 8 kilometer ini ada salah satu spot foto yang menarik "Hutan Pinus" bentuknya yang sedikit padat, dengan getah yang dimanfaatkan oleh warga untuk diolah menambah ke "adem"an hutan pinus ini. Hampir mirip dengan hutan pinus lembanna Gowa.
Pohon Pinus


Kembali kami menyusur jalan yang cukup menantang, dengan kondisi batu yang belum diratakan (sebagian) dan sebagiannya lagi sudah cor. Tak perlu risau untuk beribadah. Karena ada mesjid disalah satu perkampungan yang dilewati, dengan kondisi air kran yang lumayan dingin.

Tiba di puncak. Anda cukup membayar Rp. 2.000/ motor dan Rp. 5.000/mobil untuk masuk. Pemandangan padang rumput yang luas akan menjadi suguhan pertama di tempat ini. Juga beberapa hewan ternak yang mencari penghidupan. Yah, sedikit saran, jika anda ingin melihat padang rumput nan hijau jangan datang di bulan agustus, karena kondisi sedang kemarau dan rumput agak kecoklatan.
Salah satu spot foto di tepi gunung


Kami langsung memilih area tertinggi untuk menikmati senja yang sebntar lagi akan tumbang. Ada banyak Wahana yang dapat dinikmati diantaranya Lokasi Camping Ground, Photo Spot, Flying Fox, Mountain Bike Park, Gazebo, dan Uno Stones (batu batu).

Ketulusan angin senja yang jarang dirasakan dari ketinggian menjadi pengikis rindu dari keterasingan hidup. Angin yang sangat kencang akan menerbangkan puing puing yang ingin dihilangkan dari benak yang ingin segera terobati.





Salah satu spot foto

.
team
Saat kami kesini. Cukup banyak pengunjung. Rata rata adalah muda mudi yang masih haus akan tempat menarik seperti ini. Dan jangan khawatir jika tidak membawa bekal, karena warung warung kecil akan menjadi penolong anda ketika hendak merasa tercurangi oleh kehausan dan kelaparan.

Jadi Relawan, Menjadi Bermanfaat

06:14 3

Salam Maulidun Rasul.

Allahumma Sholli Ala Sayyidina Muhammad Waala ali Sayidina Muhammad.


Melatih kepekaan empati dengan melakukan aktivitas yang berhubungan langsung dengan orang lain adalah salah satu hal yang baik. Salah satunya dengan menjadi relawan. Relawan adalah orang yang siap, baik dengan tenaga dan pikiran untuk melakukan hal hal yang bermanfaat bagi orang lain tanpa pamrih. Itu menurut saya. 


Mengutip salah satu hadits yang berbunyi “Dan sebaik baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia (HR. Ahmad, Ath-Thabrani, ad-Daruqutni). 


Hadits tersebut merupakan salah satu hadits favorit. Dari sekian banyak hadits yang pernah saya temukan baik di buku pelajaran atau artikel internet (berhubung belum ada satu buku hadits pun yang pernah saya baca, tapi insha allah akan). Berusahalah menjadi manusia seperti yang dimaksud dalam hadits tersebut, tidak ada salahnya.


Menjadi bermanfaat bagi orang lain tidak harus memilih orang itu keluarga atau bukan, kerabat, teman, kenalan atau bukan. Selama ia masih manusia kita wajib berbuat baik kepada semua orang. Bahkan semua mahluk. Rasulpun berkata demikian. 


Saya pernah membaca novel “Hujan” karya Tere Liye. Ini novel kedua yang kubaca dari seorang akuntan. Yang pertama berjudul “pulang” membahas shadow economy dan Bujang yang tidak minum alkohol serta tidak makan Babi. Di novel hujan ini, membahas Lail dan Maryam dan hiruk pikuknya menjadi seorang relawan muda. Kedua remaja yang memiliki jiwa sosial yang tinggi ini adalah korban dari keganasan bencana yang membuat mereka kehilangan anggota keluarga. Karena kehilangan Itu membuat mereka berusaha untuk bisa menjadi lebih berguna bagi orang lain. Sungguh suatu kejadian yang dapat menjadi pelajaran berharga dan pengalaman untuk menjadi lebih baik. Jika belum menemukan faedah dari kejadian anda setiap harinya, segeralah mencari. Membuat orang lain merasa bahagia, merupakan tindakan yang mulia. Mengukir senyum dimulai dari senyum diri sendiri kepada orang lain. karena senyum adalah ibadah. 


Saat ini banyak kepekaan yang saya temukan di beberapa lini pergaulan. Teman kuliah, komunitas, OKP, teman kerja dll. Mungkin ini dampak positif dari beredarnya istilah “baper” (bawa perasaan). Apa apa dihubungkan dengan perasaan. Dan orang yang mudah baper akan mudah berempati. Asal empatinya dilatih untuk ke hal hal yang positif semisal membantu penderitaan orang lain, kesusahan orang lain, tidak melulu tentang perasaan “cinta yang keliru”.


Di Maros, ada komunitas yang dapat membantu anda menemukan jati diri menjadi seorang relawan (orang yang mewadahi/terjun langsung) mengatasi beberapa masalah kemanusiaan di kabupaten ini. Banyak program kerja yang dijalankan selain berfaedah bagi fakir, juga bagi anak anak serta masjid masjid. Namanya komunitas Maros berbagi. Berisikan anak anak muda yang tinggal diseputaran Maros yang memiliki kepekaan sosial yang tinggi dan lebih berani berekspresi. Sebaik baik sedekah adalah yang dilakukan secara terang terangan, tapi apabila dilakukan secara sembunyi sembunyi itu lebih baik. Dengan berkomunitas kita akan lebih bersemangat. Walaupun kegiataanya terlihat terang terangan itu adalah syiar, sebuah ajakan “ayo berbagi” seperti slogannya let’s share the care. 
Bukannya riya’ tapi komunitas (yang berisikan orang orang) adalah wadah untuk memperluas jaringan baik masukan/informasi tentang siapa yang mesti dibantu atau mencari donatur donatur. 


Ada banyak tempat / wadah / karcis untuk meraih surganya Allah. Selain menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain, berbakti kepada orangtua merupakan hal yang “sangat” dianjurkan juga. So, temukan karcismu sob.


Jum;at 12 Rabiul Awal 1439 hijriah (01 Desember 2017)

Salam MaulidurR asul (Allahumma Sholli ala Sayyidina Muhammad, Waala Ali Muhammad)

Sebuah Kata Maaf, Sebaiknya Dibiasakan

15:48 1
Yuk Minta maaf !
Acap kali kata maaf dianggap sesuatu yang aneh, jarang terdengarkan dan hal yang benar benar tidak lumrah jika bukan di hari raya. 

Pernah saya kirim pesan ke beberapa  teman yang kurang lebih isinya begini “Saya mohon maaf atas segala salah dan khilaf yang tercipta. baik dari perilaku maupun ucapan. syukron”
Langsung hal tersebut mendapat respon yang beragam. Ada yang ketawa, ada yang balik meminta maaf, ada yang heran, ada yang sedih ada yang jadiin itu lelucon buat dibahas di grup, dll.

Katanya ada tiga hal yang ajaib diucapkan. Terima Kasih, maaf dan tolong.  Nah, kata maaf ini yang saya berusaha terapkan. Mungkin ada baiknya membiasakan meminta maaf. kan ajal tidak ada  yang tahu kapan akan menghampiri. 

Salah satu jawaban dari kata maaf yang saya kirim dari pemilik instagram @accculu_ “Nggeh. Kematian tak bisa di setting. Jadi logikanya malaikat israil selalu ada di samping setiap insan” Sebuah jawaban persfektif yang mengikuti pernyataannya di awal yang bilang “Tumben minta maaf, biasanya menghina *diikuti icon LOL””. wqwq. 

Belajar tidak selamanya harus dengan guru kan? Kadang beberapa pelajaran hidup justru kita dapat dari keseharian kita, teman bergaul dan sahabat atau siapapun yang ditemui. Sisa kita yang menyaring, mana pelajaran baik yang bisa dijadikan pedoman, mana pelajaran buruk yang bisa dijadikan pengalaman agar tak seperti demikian.
Sebuah kata maaf, sepertiniya “harus” dibiasakan sebelum hal tersebut menjadi kaku untuk diucapkan karena kesombongan yang membuat kita merasa tak memiliki kesalahan sama orang lain. Toh, kata maaf juga kadangkala membuat orang malu dengan sikap angkuh yang dipeliharanya itu. Padahal bisa saja dari hal hal biasa yang kita anggap kecil itu merugikan orang lain. Parkir sembarangan misalnya. Memperoleh maaf juga bisa membuat urusa/hajat kita menjadi lebih lancar. karena dari keseharian yang berlalu, kadang  tidak kita sadari sebagai manusia biasa melakukan hal kecil yang menyinggung atau menyakiti hati orang lain. maka dari itu diperlukan “Maaf”. 

Mengucap kata maaf tidak membuat kita lemah ataupun kalah. Malah itu akan memberi kedamaian dalam diri kita. Pernah salah satu ustadz menceritakan kisah seseorang yang ibadahnya biasa saja tapi orang itu adalah yang paling beruntung dan paling damai hidupnya.  Ialah orang yang setiap sebelum tidur selalu memaafkan kesalahan orang lain dalam hidupnya. Masya allah, mulia sekali.

Main Air di Air Terjun Tomagelli Barru

15:13 1
Barru, salah satu tempat yang paling menarik untuk dijamah. Alamnya yang asri, masih alami dan tidak terlalu tergerus modernisasi. meskipun sudah ditumbuhi rel kereta api di beberapa bagian. Potensi air terjun di kabupaten Barru sangat banyak, menyaingi Maros. Karena sebagian besar air terjun di maros sudah menjadi background berfoto, maka dari itu, kami memilih mencari keindahan lain di tempat lain yang belum pernah disentuh oleh kaki yang lemah ini. 

Air Terjun tomagelli adalah pilihannya. Terletak di Dusun Panasa (bugis;nangka), Desa Kamiri Kecamatan Balusu Kabupaten Barru. Untuk mempermudah pencarian, setelah melewati kota Barru ke arah utara, ada baiknya bertanya ke warga sekitar mengenai lokasi ini. Yang pastinya, kalau dari arah Makassar, letak lorong Air terjun ini berada di sebelah kanan jalan setelah melewati jembatan Takkalasi.

Hari itu kami sempat nyasar, karena berusaha menyusuri tempat ini dengan menggunakan google map. yang ditunjukkan adalah lorong menuju pesantren Mangkoso, tempat mencetak para penghafal al-qur’an dan ahli aga
Derasnya Air - Ayo Main !!!
ma. Yah, kami huznudzon saja, mungkin kami disuruh untuk jadi  ahli agama. Mulia sekali google map ini. 

Sayang, tempat yang ditunjukkan google map ini kejauhan. Jadi kami putuskan lebih baik bertanya saja sama warga. Menyusuri jalan yang seperti biasanya, pada umumnya untuk mencapai sebuah air terjun kami menysuri jalan yang menanjak, gunung, pebukitan bebatuan dan pemandangan indah. Seru!. Dan pastikan kondisi kendaraan anda sehat. 

Setelah melewati jalanan yang kurang lebih 8-9 km dari jalan poros. Hari itu kalender sedang bertinta merah. itu hari libur. Kalau tidak salah saat itu hari kesaktian pancasila.  Karena hari itu jum’at. Sebagai umat islam yang baik, kami memilih masjid yang lokasinya tidak jauh dari papan petunjuk ke air terjun tomagelli. Sekitar ±200 meter ke arah timur. 

Pada trip kali ini, ada seorang wanita yang ikut. Mayang.  Ia kami tugaskan untuk menjaga tas dan barang bawaan lainnya, maaf mayang. Tapi tugasmu sungguh mulia.
Ba’dda jum’at, kami langsung menuju ke lokasi tujuan. Setelah  sedikit bercengkrama dengan warga sekitar yang sangat ramah, mereka memberikan petunjuk ke air terjun dan menyarankan agar motor dikunci leher (diamankan). 

Berjalan menurun, semakin dalam semakin deras dentuman air terjun terdengar. Itu menandakan bahwa tubuh ini sudah semakin dekat ke tujuan. Masih dari suaranya saja kesegaran sudah mulai  terasa, ditambah hawa dingin dari rindangnya pepohonan selama perjalanan. 

Seolah surga yang tersembunyi, kami menelusuk air terjun yang tingginya lumayan. Tak ada taksiran tinggi untuk air terjun ini. Kebetulan kami lupa bawa meteran dan kami rasa mengukur tingginya juga tidak terlalu penting, karena tujuan kami  adalah untuk “Menikmatinya”. Ayo main air!!!. 

Nawir-Aku-Yudha-Iccank_Ari'-Kahfi-Uki'
Arsitektur batu yang  terlihat rapi tersusun, semakin melengkapi background foto hari ini. Sebagai pemuas kebutuhan yang menghampiri kebutuhan primer ala anak muda saat ini, tempat wisata yang sepertinya belum terlalu dijamah memberikan kesejukan dengan percikan air saat kita hanya memilih bersantai diatas bebatuan datar disekitarnya. 

Sembari menikmati cemilan rasanya tidak lengkap kalau tubuh belum ditenggelamkan dalam air yang begitu segar ini. Serasa ingin menyerap dinginnya dan membuatku serasa memiliki kekuatan air ala avatar.  

Setelah memastikan stock foto sudah mumpuni dan penat yang sedikit sudah terusir, kami menyelesaikan trip dengan mampir diperbatasan Barru Pangkep. Menikmati kemilau senja yang turun perlahan. Melengkapi tangkapan memori indah hari itu.



 

Like this ya