Showing posts with label Traveling. Show all posts
Showing posts with label Traveling. Show all posts

Jejak di Lappa Laona Barru

23:06 1
Gazebo di Lappa Laona Barru
18 Agustus 2018. Kesempatan baru berpihak kepada kami untuk mengukir jejak di salah satu wahana andalan baru Kabupaten Barru. Kawasan wisata Lappa Laona, Desa harapan, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan. Padahal tempat ini telah diresmikan pada tanggal 13 Mei 2018.

Selang tiga bulan sejak diresmikannya, tempat ini telah memiliki beberapa spot menarik. Tentunya untuk kembali menyejukkan imajinasi. Salah satu yang menarik adalah berdirinya rumah-rumah gazebo yang berjejeran dengan model minimalis.
.
Perjalanan kesini. Kami berangkat dari maros sekitar pukul setengah 2 siang. Panas yang sedikit dirisaukan tidak menjadi   masalah besar yang harus selalu dikeluhkan, toh juga sekarang memang musim kemarau. Dan panas salah satu anugerah yang patut disyukuri jika dibandingkan dengan mahluk yang hidup di daerah kutub.
.
Berangkat dari maros bersama Muhlis dan Bill, berencana bertemu di meet point (Pangkep) dengan Kahfi, Nawir dan Dedy. Kami berangkat berenam. Motor melaju dengan kecepatan cukup diatas rata rata (diatas 50 km/jam). Kami mengejar view sunset yang indah (padahal sunset tidak akan kemana), karena konon katanya di Lappa Laona adalah  "highland" (dataran tinggi).
.
Benar, aroma dataran tinggi terasa ketika kami mulai melewati jalan ke salah satu tempat wisata "Celebes Canyon". Kalau ada yang bertanya, jalan ke Lappa Laona, itu berada satu jalur poros dengan tempat wisata andalan Barru yang lainnya yaitu Celebes Canyon, Pohon Jomblo dan Air Terjun Wae Sai. Hanya saja lorongnya (jalur masuk) yang berbeda beda. Jika dari arah Makassar, di Lampu merah pertama yang ditemui setelah perbatasan Pangkep Barru, Silahkan belok kanan ke Tanete Rilau jalan Poros yang menghubungkan Kabupaten Barru dan Kabupaten Soppeng lewat jalur Bulu'dua anda akan melewati fly over yang dibawahnya merupakan jalur kereta api.

Area ketinggian yang menyelaraskan alam dengan keramahan penduduk sekitarnya sangat kental ketika kami bertanya tempat tembal ban terdekat. Maklum, motor kahfi yang langganan mengalami kebocoran akhirnya terjadi lagi. Tepat di siang hari dengan terik yang begitu hebat namun hawa sejuk sangat terasa. Berhubung karena disini dataran tinggi, jadi walaupun matahari memaksa kami untuk kepanasan, tetap saja cuaca masih berkompromi.

Kondisi ban motor kembali normal setelah operasi ringan yang memakan sedikit biaya karena harus disesar (diganti). Kami melanjutkan perjalanan, sampai di gerbang perbatasan Bulu'dua silahkan belok kanan. Kurang lebih 8 kilometer lagi motor harus dilajukan. Diantara rentang 8 kilometer ini ada salah satu spot foto yang menarik "Hutan Pinus" bentuknya yang sedikit padat, dengan getah yang dimanfaatkan oleh warga untuk diolah menambah ke "adem"an hutan pinus ini. Hampir mirip dengan hutan pinus lembanna Gowa.
Pohon Pinus


Kembali kami menyusur jalan yang cukup menantang, dengan kondisi batu yang belum diratakan (sebagian) dan sebagiannya lagi sudah cor. Tak perlu risau untuk beribadah. Karena ada mesjid disalah satu perkampungan yang dilewati, dengan kondisi air kran yang lumayan dingin.

Tiba di puncak. Anda cukup membayar Rp. 2.000/ motor dan Rp. 5.000/mobil untuk masuk. Pemandangan padang rumput yang luas akan menjadi suguhan pertama di tempat ini. Juga beberapa hewan ternak yang mencari penghidupan. Yah, sedikit saran, jika anda ingin melihat padang rumput nan hijau jangan datang di bulan agustus, karena kondisi sedang kemarau dan rumput agak kecoklatan.
Salah satu spot foto di tepi gunung


Kami langsung memilih area tertinggi untuk menikmati senja yang sebntar lagi akan tumbang. Ada banyak Wahana yang dapat dinikmati diantaranya Lokasi Camping Ground, Photo Spot, Flying Fox, Mountain Bike Park, Gazebo, dan Uno Stones (batu batu).

Ketulusan angin senja yang jarang dirasakan dari ketinggian menjadi pengikis rindu dari keterasingan hidup. Angin yang sangat kencang akan menerbangkan puing puing yang ingin dihilangkan dari benak yang ingin segera terobati.





Salah satu spot foto

.
team
Saat kami kesini. Cukup banyak pengunjung. Rata rata adalah muda mudi yang masih haus akan tempat menarik seperti ini. Dan jangan khawatir jika tidak membawa bekal, karena warung warung kecil akan menjadi penolong anda ketika hendak merasa tercurangi oleh kehausan dan kelaparan.

Main Air di Air Terjun Tomagelli Barru

15:13 1
Barru, salah satu tempat yang paling menarik untuk dijamah. Alamnya yang asri, masih alami dan tidak terlalu tergerus modernisasi. meskipun sudah ditumbuhi rel kereta api di beberapa bagian. Potensi air terjun di kabupaten Barru sangat banyak, menyaingi Maros. Karena sebagian besar air terjun di maros sudah menjadi background berfoto, maka dari itu, kami memilih mencari keindahan lain di tempat lain yang belum pernah disentuh oleh kaki yang lemah ini. 

Air Terjun tomagelli adalah pilihannya. Terletak di Dusun Panasa (bugis;nangka), Desa Kamiri Kecamatan Balusu Kabupaten Barru. Untuk mempermudah pencarian, setelah melewati kota Barru ke arah utara, ada baiknya bertanya ke warga sekitar mengenai lokasi ini. Yang pastinya, kalau dari arah Makassar, letak lorong Air terjun ini berada di sebelah kanan jalan setelah melewati jembatan Takkalasi.

Hari itu kami sempat nyasar, karena berusaha menyusuri tempat ini dengan menggunakan google map. yang ditunjukkan adalah lorong menuju pesantren Mangkoso, tempat mencetak para penghafal al-qur’an dan ahli aga
Derasnya Air - Ayo Main !!!
ma. Yah, kami huznudzon saja, mungkin kami disuruh untuk jadi  ahli agama. Mulia sekali google map ini. 

Sayang, tempat yang ditunjukkan google map ini kejauhan. Jadi kami putuskan lebih baik bertanya saja sama warga. Menyusuri jalan yang seperti biasanya, pada umumnya untuk mencapai sebuah air terjun kami menysuri jalan yang menanjak, gunung, pebukitan bebatuan dan pemandangan indah. Seru!. Dan pastikan kondisi kendaraan anda sehat. 

Setelah melewati jalanan yang kurang lebih 8-9 km dari jalan poros. Hari itu kalender sedang bertinta merah. itu hari libur. Kalau tidak salah saat itu hari kesaktian pancasila.  Karena hari itu jum’at. Sebagai umat islam yang baik, kami memilih masjid yang lokasinya tidak jauh dari papan petunjuk ke air terjun tomagelli. Sekitar ±200 meter ke arah timur. 

Pada trip kali ini, ada seorang wanita yang ikut. Mayang.  Ia kami tugaskan untuk menjaga tas dan barang bawaan lainnya, maaf mayang. Tapi tugasmu sungguh mulia.
Ba’dda jum’at, kami langsung menuju ke lokasi tujuan. Setelah  sedikit bercengkrama dengan warga sekitar yang sangat ramah, mereka memberikan petunjuk ke air terjun dan menyarankan agar motor dikunci leher (diamankan). 

Berjalan menurun, semakin dalam semakin deras dentuman air terjun terdengar. Itu menandakan bahwa tubuh ini sudah semakin dekat ke tujuan. Masih dari suaranya saja kesegaran sudah mulai  terasa, ditambah hawa dingin dari rindangnya pepohonan selama perjalanan. 

Seolah surga yang tersembunyi, kami menelusuk air terjun yang tingginya lumayan. Tak ada taksiran tinggi untuk air terjun ini. Kebetulan kami lupa bawa meteran dan kami rasa mengukur tingginya juga tidak terlalu penting, karena tujuan kami  adalah untuk “Menikmatinya”. Ayo main air!!!. 

Nawir-Aku-Yudha-Iccank_Ari'-Kahfi-Uki'
Arsitektur batu yang  terlihat rapi tersusun, semakin melengkapi background foto hari ini. Sebagai pemuas kebutuhan yang menghampiri kebutuhan primer ala anak muda saat ini, tempat wisata yang sepertinya belum terlalu dijamah memberikan kesejukan dengan percikan air saat kita hanya memilih bersantai diatas bebatuan datar disekitarnya. 

Sembari menikmati cemilan rasanya tidak lengkap kalau tubuh belum ditenggelamkan dalam air yang begitu segar ini. Serasa ingin menyerap dinginnya dan membuatku serasa memiliki kekuatan air ala avatar.  

Setelah memastikan stock foto sudah mumpuni dan penat yang sedikit sudah terusir, kami menyelesaikan trip dengan mampir diperbatasan Barru Pangkep. Menikmati kemilau senja yang turun perlahan. Melengkapi tangkapan memori indah hari itu.



 

Pesona Bukit Kanari Cenrana Maros

15:33 4
1) Pintu langit katanya
Hari itu Sabtu 02/09/2017, komplotan anak muda yang hendak mengikuti trend kekinian tempat wisata mencoba meracik rencana. “Mau kemana hari ini ?”. Sepertinya  pertanyaan itu yang pertama terusik dihati kala ayam dikandangnya sudah mulai  berkokok. 

Tempat wisata yang menarik dan indah didukung oleh tersebarnya gambar gambar di akun media sosial, menjadi hal yang banyak digandrungi anak muda  saat ini. Lokasi yang belum pernah dijamah sebelumnya adalah tujuan langkah kaki yang belum menemui kepastian. Bukan kepastian mengenai jodoh, tapi kepastian tentang jalan seperti apa yang mestinya ditapaki. Jiahhh....

Akan menjadi salah satu tempat wisata andalan kabupaten Maros. Bukit kanari namanya, biasa kami ucapkan dengan bukit kenari karena kata itu lebih familiar, Cuma beda “a dan e”. Sebuah  tempat wisata yang terletak di Dusun Malaka  desa Cenrana baru Kecamatan Cenrana Kabupaten Maros. Jalur masuknya  sama dengan jalur Air terjun lacolla, hanya saja di beberapa kilometer terakhir sebelum mencapai Air terjun Lacolla, ada tikungan ke arah kiri yang menanjak (ditandai dengan papan petunjuk). Kondisi jalan saat kami kesana masih dalam tahap perbaikan. Jadi apabila ada dua orang pengunjung yang berpapasan salah satunya harus mengalah. Kami memanfaatkan jalan lebih mulus yang ada ditepi, karena dibagian tengah jalan masih dipenuhi batu putih yang apabila melintas diatasnya memberi guncangan yang berbeda dari naik odong odong. Mungkin saat ini kondisi jalannya  sudah lebih baik. Amin!.

Meet point kali ini di Pertamina Jawi Jawi, menunggu mereka yang satu persatu sudah memenuhi tangki motornya dengan bahan bakar yang saat ini sudah mulai dikurangi kapasitas pemakaiannya dimasyarakat oleh pemerintah. setelah semua Ready go!! perjalanan baru kami mulai ba’dda duhur. Sembari memenuhi kewajiban, di Desa Samanggi yang dikenal dengan jagungnya yang melimpah.

 Cuaca cukup cerah di awal September ini. Membawa para anak muda dan beberapa anak dara melintasi kawasan yang biasa disebut tikungan delapan. Sebuah jalan di poros Maros Bone yang cukup menantang kalau hanya ingin dijadikan arena latihan menyaingi pembalap Valentino Rossi. 

Sejuk daerah ketinggian mulai terasa ketika sudah masuk di kampung Pangia. Roda motor terus berputar hingga membawa kami sampai ke puncak bukit kanari. Di pintu gerbang, ada pengelola yang terlihat masih seusia SMA bertugas untuk membuka dan menutup palang bambu yang dibuat sederhana. Biaya karcis untuk ke bukit kanari ini ditetapkan lima ribu rupiah, sebagai balas jasa bagi mereka yang berusaha mengelolah keindahan alam ciptaan Allah swt. 

Bagi pengunjung yang tidak membawa air atau cemilan, tenang saja, karena tepat di depan tempat parkir, ada pedangang kaki lima (padahal hanya punya dua kaki) yang mungkin bermukim tidak jauh dari tempat ini. 

Di lokasi pertama ada empat tempat yang bisa dijadikan area untuk berfoto atau berselfie ria; 1) pintu 2) sayap 3) balai yang memiliki bendera dan 4) love. Silahkan mencicipi keempatnya , kalau kuat. Kalau berusaha hemat foto silahkan pilih saja salah satunya. Bukan hanya itu, apabila ketempat yang lebih tinggi anda akan menemukan spot yang lain. sayang, hari kami tidak begitu panjang, jadi kami putuskan untuk dilokasi yang pertama ini saja. Next time, insha Allah. 
 
2) Balai - Bukit Kanari Maros
3) Sayap - Bukit Kanari Maros
3) bentuk Love - Bukit Kanari Maros
Tempat wisata baru. Salah satu daya tariknya adalah adanya foto keren yang berusaha dikeren kerenkan agar bisa mendapat peringkat di media sosial sebagai penjelajah awal. Bukan penjelajah dunia fantasi.  Resikonya kalau pas hari libur, kadang harus mengantri. Ini hanya urusan dunia. Jadi, tidak ada salahnya mendahulukan orang lain. kecuali urusan akhirat, jangan mau kalah. Karena kita dianjurkan berfastabiqul khairat “Berlomba lomba dalam kebaikan”. 

Sejatinya berada di ketinggian membuat kita bisa melihat hal hal yang lebih dibawah. Dan itu tampilannya lebih kecil. Ibarat sebuah foto yang berbingkai, dari bukit kanari ini kita bisa melihat bingkai kota camba yang begitu hijau dan asri. Keramahan penduduk, esensi budaya dan keanekaragaman flora yang masih bisa hidup dengan nyaman. Mayoritas penduduknya yang masih mengandalkan tanah sebagai pusat mata pencaharian menjadikan tanaman menjadi komoditas utama bagi perekonomian keluarga. Hasil pangan, sayuran serta buah buahan berasal dari kota Camba ini  banyak dijual dikota, bersaing dengan hasil dari Malino. 
 
Bukit kanari sedikit terbuka menerima panas matahari dibanding puncak Makkaroewa, jadi disarangkan pakai kacamata, topi dan bahan pelindung panas lainnya (boleh pinjam baju pelindung  panas dari pemadam kebakaran) yang menambah kenyamanan anda berpetualang di tempat terbuka. Tapi jika itu mustahil dilakukan, berpenampilan santai, oke juga!. Karena sepertinya akan sangat indah menyaksikan sunset dibalik gunung dari puncak bukit kanari ini. Sayang jika dilewatkan. 
 
Team : Harusnya tujuh belas orang.
Air terjun Lacolla saat kemarau
Oiya, setelah menjelajah bukit kenari ini, kami sempatkan ke air terjun lacolla. Pernah saya kunjungi sebelumnya di 2015, penasaran ingin melihat seperti apa wajahnya saat ini.  Alhasil, dari  hasil kunjungan, ada perasaan lega, karena kondisi jalan yang sudah mumpuni dibanding dua tahun lalu. Dan trek ke air terjun yang dulunya lumayan terjal dan licin saat ini sangat aman dengan anak  tangga yang saya lupa menghitungnya  sampai ke  tepi sungai. Saat kemarau seperti ini debit air sangat sedikit jadi, tidak beda dengan musim hujan.

Pesona Gunung Bawakaraeng di Ketinggian 2830 MDPL

02:23 0


H-1, Besok sudah berangkat. Beberapa persiapan harus dirampungkan malam ini. Sebagai pemenuhan kebutuhan konsumsi Asrul dan Wawan sebagai leader dan co-leader yang mengurus semuanya. Kami berangkat dari Bontolabbu Bantimurung pada pukul 08.00  wita, bergerak melajukan motor ke arah selatan Maros kemudian masuk ke wilayah Malino.

Karena sudah pernah ke tempat / jalan yang sama sebelumnya, saya tidak usah jelaskan, baca saja disini (Trip ke hutan pinus lembbanna) :D. 


Kami tiba di rumah warga sekitar pukul 10.30 karena perjalanan yang cukup santai, sembari menunggu Fandi, si guru yang harus menunaikan kewajibannya untuk mengajar. Kebetulan hari itu hari jum’at, kami menunaikan sholat jum’at di kampung Lembanna yang air nya seperti air lembah. Sangat dingin, walaupun siang itu sangat cerah. Sebelum nanjak, tak lupa Wawan si bendahara membeli bakso yang sengaja tidak diberi air untuk dikonsumsi dengan bumbu pecel nanti malam. 



Pukul 16.00 kurang lebih, ba’dda ashar perjalanan baru dimulai. Setelah memastikan posisi kendaraan dalam keadaan aman, kami tinggalkan rumah yang dijadikan base camp alias tempat penitipan motor dan helm. Melewati kampung lembanna yang umumnya warga disini bekerja sebagai petani sayur membuat perjalanan sehat ini terasa begitu sehat. Semoga saja sehat sampai ke atas dan sehat pulang kembali. 


Titik nol berada di hutan pinus lembanna. Kami berdoa disana, berdoa yang baik baik saja tentunya. Kami tidak saling mendoakan yang buruk antara satu dengan yang lain karena kami tidak saling bersaing memperebutkan hati seseorang, kami hanya ingin menaklukkan puncak Bawakaraeng. Puncak tertinggi kedua di sulawesi selatan. Berangggotakan tujuh orang, kami satu tim sekarang, dan kami wajib saling menjaga satu sama lain. Apapun yang terjadi satu lelah, harus lelah semua, satu makan, makan semua, satu tidur, tidur semua, bercerai kita runtuh eh salah, Bercerai kita akan kawin lagi. kwkwkw.


Pos nol ke pos satu dilalui dengan santai karena masih ada sisa tenaga dari warung bakso tadi. Meskipun sudah dibanjiri keringat itu sangat lumrah bagi pendaki amatiran seperti kami. Eh, kecuali Accul, Fandi dan Wawan, mereka mungkin sudah menyabet gelar pendaki menghampiri handal karena mereka didikan sispala buterfly waktu SMA dulu. Tapi yah, pendaki handal adalah manusia juga pastilah ada lapar dan haus yang menjadi kawan dalam perjalanan. 


Dari pos nol ke pos satu ini kami masih dapat jaringan internet. Meskipun samar samar dan terkesan dipaksakan karena kami sepertinya harus update status “otw gunung,.. bla bla bla” atau kata kata alay semacam itu yang pasti cukup memberi kabar masyarakat dunia maya bahwa kami ke gunung dan kami akan bahagia, udah itu saja. 
 

Cukup panjang dan trek yang dilalui cukup landai karena masih tahap awal, akhirnya ditemukan pohon yang diatasnya tertempel papan hitam berukuran kecil sekitar dua puluh kali sepuluh centimeter yang bertuliskan “pos satu”. Tulisan semacam ini akan menjadi tujuan kebahagiaan kami sebanyak sepuluh pos kedepan. Di pos satu, terdapat dua jalur, kalau ke kiri maka itu adalah jalur ke Pos dua Gunung Bawakaraeng, kalau ke kanan itu adalah jalur ke lembah Ramma. 
Pos satu ditandai dengan pohon ini


Pos satu menuju dua perjalanan lebih singkat dari sebelumnya, yah, namanya gunung kami hanya melihat pohon, tanah, batu, langit dan sesekali bentangan kayu yang tumbang menantang kami untuk terus berjalan. Di pos dua ditandai dengan adanya aliran air yang biasa digunakan hewan hewan disini untuk minum. Sapi sapi yang berkeliaran disini cukup gemuk, mungkin karena makanannya sehat sehat dan jauh dari bahan kimia. 


Pos dua ke pos tiga juga relatif singkat karena sore yang membuat udara sejuk  semakin dingin. Di pos tiga ini, saran dari fandi sebaiknya tidak usah istirahat kalau memang masih kuat. Konon katanya ada cerita mistis disana. Kami mengikuti saja sarannya karena kami memang masih kuat. Bukan pura pura kuat. Hutan lumut sudah mulai menyambut disini, beberapa batang pohon terlihat sangat putih seputih salju, katanya pohon itu sudah ganti kulit, kayak ular. Entah itu benar atau tidak untuk amannya saya percaya saja. 



Kondisi semakin gelap, sampai di pos empat ditandai dengan adanya kuburan yang konon katanya itu adalah kuburan pendaki tempo dulu. Setiap pejalan yang melewati pos empat ini singgah untuk mengirimkan doa (Islam;Al-fatiha) untuk penghuni kuburnya, semoga arwahnya tenang di alam sana.  Para pejalan sudah terbiasa dengan letak kuburan yang pas di bentangan pos empat, jadi tidak begitu horor. 


akibat telah terbakar
Dari pos empat ke pos lima kondisi sudah benar benar gelap, kami mengupayakan pencahayaan dari head lamp, power bank, ataupun dari senter hape masing masing. Agar kami bisa berjalan sesuai arah yang benar, Fandi tetap menjadi garda terdepan dan Asrul sebagai garda terbelakang (maksudnya yang paling belakang;penutup). Kondisi yang gelap gulita dan dingin yang sudah mulai menyeruak merasuk ke tulang tulang pemuda kelaparan ini, langkah yang terus dipacu karena kami harus sampai ke pos lima. Pos ini biasanya digunakan para pendaki untuk camp  sembari memulihkan tenaga. Kurang lebih pukul delapan malam, kami tiba di pos lima, berbagi tugas, ada yang memasang tenda, ada yang menyiapkan makanan, dan ada yang mengambil air dari di jarak yang cukup menguras tenaga. Setelah tenda terpasang, tak lupa sholat yang menjadi kewajiban setiap muslim harus kami tegakkan. Bukan hanya kebenaran dan keadilan yang harus ditegakkan. 

Lapar dan dingin yang menggerogoti membuat kami harus makan untuk energi yang bertahan. Wawan yang koki andalan memasak menu kesayangannya, bumbu pecel dicampur bakso yang dibeli tadi sore. Kami melahapnya dengan sangat girang, seperti anak ayam yang sangat kelaparan dan bersorak gembira ketika melihat makanan. 


Setelah makan, ngopi sebagai menu sunnah tak lupa kami kerjakan. Setelah itu, jangan lupa tidur. Jangan tidur terlalu larut karena mau dibilang jago begadang. Ini di gunung dan ketahanan fisik adalah hal yang utama kalau mau pulang dengan selamat. Otot yang dipacu sedari sore tadi harus diistirahatkan untuk melewati lima pos lagi besok. 


Malam yang indah, kurasakan lagi rasanya tidur diatas tanah yang dilapisi matras dibawah naungan kemah, beratapkan langit dipenuhi bintang. Dari pos lima terlihat di kejauhan kota Makassar kilauan cahaya lampu penemuan Thomas Alfa Edison yang menjadi sejarah dan memberi terang rumah warga kala malam tiba. Tapi dari sini kurasakan kilauan cahaya dari sang pencipta manusia, sang pencipta penemu penemu hebat yang memberi cahaya dan penerang kehidupan bagi seluruh ummat manusia, ialah Allah Swt.



Sabtu malam dilewati dengan mimpi mimpi indah yang diceritakan kala pagi menghampiri. Bersama segelas energen dan hewan "guk guk" yang menggeliat hebat di sekitaran tenda kami. Pagi yang teduh, setelah makan kami kembali membereskan tenda dan perlengkapan lainnya untuk melanjutkan perjalanan ke puncak. Tak lupa jeprat jepret ria mengisi aktivitas pagi itu. 

Pantai Bira dan Hempasan Air Laut di Tebing Apparalang

07:07 0
Bira, pantai pasir putih terbaik Sulawesi Selatan
Pantai Bira

Ya, tepat hari ketiga pasca lebaran 1438 H (2017 Masehi), 28-30 Juni 2017. Rencana untuk kedaerah pantai pasir putih ini akhirnya terealisasi. Tepat pukul 10.30, sepeda motor yang sudah memenuhi standar untuk melakukan perjalanan jauh akhirnya melakukan tarikan gas pertamanya menuju arah selatan pulau sulawesi ini. Dua kendaraan roda dua ini melaju dengan kecepatan standar, karena satu mobil belum berangkat. Sembari menikmati perjalanan melalui Kabupaten Maros, memasuki kota Makassar dan Melalui kabupaten Gowa akhirnya tiba di kabupaten Takalar untuk menanti waktu sholat dhuhur. 

Mobil yang berisikan sepuluh orang baru berangkat ba’dda duhur. Saya Nawir dan Ariawan mendahului beberapa puluh kilometer, kami menyempatkan singgah di rumah ayah nawir yang ada di Jeneponto, sembari bersilaturahmi menikmati makanan khas lebaran, dan melanjutkan ke masjid Agung kabupaten Jeneponto saat ashar tiba. Ba’dda azhar, perjalanan kembali dilanjutkan. Kabupaten Jeneponto yang terlihat kering di beberapa tempat membuat para penambak garam bahagia, beberapa hektar tambak garam terlihat memenuhi pandangan dengan rumah rumah khas untuk menampung garam.

Alun Alun Pantai Seruni
Setelah melalui tambak garam, Kabupaten Jeneponto yang cukup subur terlihat di sisi selatan ketika hendak memasuki kabupaten Bantaeng. Cukup menarik perhatian, Setelah memasuki kabupaten Bantaeng yang begitu tertata rapi kami menyempatkan singgah di  pantai seruni, setelah memarkir motor yang diatur langsung oleh satlantas bukan juru parkir liar.  Keramaian Kabupaten Bantaeng cukup terlihat disini, pantai yang di depannya berdekatan dengan rumah sakit dan lapangan membuat banyak masyarakat menghabiskan waktu sorenya disini. Ada yang bermain di lapangan sambil berkejaran, ada yang olahraga, dihiasi penjual halus manis yang kebanyakan penjualnya adalah anak anak. Di luar lapangan disediakan dokar yang beberapa pengunjung bisa menyewanya untuk berkeliling sekitar kawasan ini, di pantai seruni juga tersedia beberapa permainan anak - anak membuat kawasan pantai ini menjadi sentral kunjungan pantai yang menarik. Kami tiba disini sekitar pukul 17.00  sembari menunggu teman yang berkendara roda empat tadi. Cafe cafe juga berjejer rapi di tepi pantai seruni ini. kebanyakan dari mereka menjual jus yang bisa membantu melepas dahaga setelah seharian berkendara. Kami memilih box cafe, yang uniknya cafe ini terbuat dari box container yang di modifikasi sekreatif mungkin. Letaknya pun berdampingan dengan masjid yang pada saat waktu sholat tiba, masjid ini full bahkan sampai diteras, itu yang membuatku beranggapan bahwa kabupaten ini cukup beradab, disamping  banyaknya slogan slogan islami semisal “sudahkah anda sholat” yang terpampang di pinggir jalan.

Ba’dda isya perjalanan kembali dilanjutkan, kami sempatkan singgah di “Balla Lompoa Bantaeng”. Jika tampak dari depan ukurannya terlihat lebih kecil dibanding Balla Lompoa Gowa. Tapi desainnya begitu tradisional dengan dinding kayu yang mengkilap diterpa sinar lampu LED. Didalamnya pun begitu khas dengan gemerlap lamming  khas bugis makassar. 

Balla Lompoa Bantaeng
Melewati rentetan pepohonan, rumah warga dan laut kabupaten Bantaeng yang tertata rapi, akhirnya kabupaten Bulukumba pun menyapa. Aktifitas warga sudah tidak begitu nampak karena waktu sudah menunjukan pukul 21.00. Karena saya berada pada tempat duduk kedua di atas sadel motor, saya bebas mengamati keadaan sekitar, bagaimana kondisi masyarakat, bentuk bentuk rumah, tatanan kota dsb. (maklum baru kali ini kesini). Gas kendaraaan kembali dikendorkan kala tiba di alun alun kota Bulukumba. Sembari memastikan tuan rumah yang akan kita datangi rumahnya sudah siap menyambut kami tiga belas pemuda lajang yang katanya hendak berlibur ini.

Pukul 21.30 kendaraan kembali bersandar di salah satu rumah teman kuliah dari Adi (sebut saja leader). Rumah panggung yang berada di jalan poros menuju pantai Bira ini berhadapan langsung dengan rumah warga dan empang setelahnya. Kami yang sedari tadi sudah sangat kelelahan tingkat sedang ini mencoba membersihkan diri, mengisi perut dan mencari pembaringan yang memenuhi tingkat nyaman untuk meluruskan punggung yang mencoba kokoh di atas motor seharian. Bukannya sok kuat, tapi kami hanya ingin merasakan bagaimana si penunggang kuda pada masa peperangan di jaman nabi dulu merasakan kehebatan berkuda (bedanya kami hanya penunggang motor).

Subuh kembali menyingsing, adzan subuh yang sayup sayup kedengaran di telinga orang orang yang kelelahan akan sangat minim bahkan bisa sampai hilang. Jika tidak dibarengi keinginan untuk bangun yang lebih besar habislah kita dengan godaan syetan yang terkutuk.

Suasana pagi sama saja. Sejuk dengan suara burung yang berlomba, kebetulan burung disini berada dalam sangkar, di teras rumah panggung milik Feri. Di seberang jalan terlihat empang milik warga sekitar, dan di kejauhan terlihat kubangan  air yang biasa disebut  laut. Beberapa anak muda yang masih melanjutkan tidurnya dengan lelap, terpaksa harus bangun karena ibu Feri yang sangat antusias menyambut kami selalu mengajak makan dengan ajakan yang sulit kami tolak. Beberapa anak muda yang tahu diri hendak membantu pekerjaan dapur seperti; memasak dan cuci piring mendapat teguran keras (ala guru BP) dari ibu yang memiliki nama Marliang ini. Beliau sangat memuliakan tamu, membuat kami merasa tidak enak karena Feri tidak memiliki saudara perempuan yang bisa membantu ibunya. Untung saja ada tante Feri yang turut membantu . Mereka menyiapkan semua persiapan piknik kami dari segi logistik (makanan), ada ayam dan cobe’  cobenya serta makanan lain.

Pantai Bira

Pukul 10.00 kami melanjutkan perjalanan ke tujuan utama “pantai bira” jarak tempuh dari rumah Feri ke pantai  bira memakan waktu sekitar kurang lebih satu jam. Suasana laut begitu kental terasa ketika sudah melewati gerbang pembayaran karcis yang dikenakan per orang dan per motor. Kami memilih  lokasi istirahat yang bersentuhan langsung dengan pasir. Pasir putih tepatnya. Kami tiba saat matahari menyengat apa saja yang berada diatas kilauan pasir putih ini (harap memakai kacamata). Tapi, meskipun panas begitu menyengat itu tidak menghalangi para pengunjung libur lebaran ini menikmati  suguhan air laut  di salah satu pantai terbaik Sulawesi.  Ada beberapa wahana yang ditawarkan, seperti permainan banana boat, donat boat, dan bagi traveler yang ingin melihat penyu bisa mengunjungi pulau liukang dan pulau kambing.

Keseruan bermain di pantai dengan suguhan pemandangan laut yang begitu biru tidak lengkap tanpa santap siang di gasebo yang disediakan. Tak lupa kami membuka bekal yang dibuatkan oleh ibu Feri, masakannya lezat apalagi dinikmati oleh para pemuda yang kelaparan.

Beberapa teman yang berusaha menikmati  permainan airnya mencoba banana boat, mungkin rasanya sama saja di pantai lain, sensasinya saja yang beda dengan lokasi yang beda dan teman yang beda. Pasir putih yang terhampar di sepanjang pantai membuat anda bebas menikmati dari sisi mana saja. Pengunjung yang tidak mempunyai kerabat di sekitar kabupaten Bulukumba bisa memanfaatkan fasilitas penginapan dengan tarif yang berbeda beda, tergantung jenis dan ukuran penginapan yang diinginkan.

Tebing Batu Apparalang

Petunjuk arah ke Apparalang
Setelah lelah bermain air di pantai bira, kami melanjutkan trip ke Apparalang, suguhan tebing batu menjadi ciri khas tempat dengan karcis hanya Rp. 5000 per motor ini. Lokasinya cukup luas bisa dinikmati dari beberapa spot. Kami memilih spot yang paling tinggi dengan pemandangan cekungan tebing yang terlihat mengerucut ke laut. Setelah puas mengambil gambar disana, kami mencoba spot dimana pengunjung bisa menuruni anak tangga yang berjumlah puluhan. Cukup tinggi dan terbuat dari kayu.  Di bagian bawah, banyak pengunjung yang membasahi tubuhnya dengan loncatan loncatan indah ke laut, mandi disini terlihat lebih menantang, dengan hantaman air laut ketebing yang membunyikan suara hempasan.

Sungguh indah apa saja yang diciptakan tuhan, untuk dinikmati dan dimanfaatkan anak cucu adam. Dari sisi lain mungkin sisi utara apparalang, terdapat spot yang juga menarik, beberapa teman sudah berada disini lebih dulu. Mengambil beberapa gambar lebih banyak  dari  kami. Disisi ini terdapat jembatan kayu yang menghubungkan daratan batu yang ada disisi tebing batu. Pengunjung terlihat begitu bahagia dengan spot spot terbaik pilihan mereka. Kami disini hingga magrib menjelang. Sayang sekali sunset tidak bisa terlihat di  sisi timur Bulukumba ini. karena seharian berpetualang meskipun hanya dua spot yang sempat kami kunjungi (karena akan ada trip selanjutnya kesini), lelah yang menyeringai membuat kami memutuskan untuk kembali ke rumah Feri. Menikmati malam dan esoknya kembali ke kampung halaman.

Perjalanan pulang dihiasi dengan hujan di  beberapa titik di beberapa kabupaten, hanya di Takalar sampai Maros saja yang tidak diguyur hujan, alhamdulillah perjalanan aman aman saja. Semoga seaman dan setentram perasaan yang didamaikan ketenangan hamparan laut dan menghempas perasaan buruk ke tebing apparalang hingga tak tersisah.
 
Tebing Apparalang

Pantai Bira
Nawir-Agus-Idul-Heril-Hanaf-Agung-Surya-Syukur



Like this ya