Pilkada, Tips Memilih Pemimpin yang Baik Seperti Apa?

07:37
Berbicara tentang Pilkada (Pemilihan kepala daerah) yang akan diadakan serentak tanggal 09 Desember 2015 di seluruh wilayah Indonesia, sangat luas cakupannya. Jika mendengar pemilihan umum, maka tak jauh dari kata kampanye. dalam kampanye kita bisa menyaksikan sang calon pemimpin berkoar koar dengan lagu pop, melayu, dangdut dan biduan sewaan untuk menarik minat masyarakat. Tak jauh pula dalam pilkada ini aksi sogok menyogok yang dilakukan oleh tim sukses masing masing kubu. 

Kampanye dengan menampilkan berbagai aksi ini mendapat kecaman dari para pemerhati agama, contohnya saja dalam aksi kampanye yang digelar di Malang Raya yang menampilkan bule berbikini.  Apa yang dilihat dalam kampanye bule berbikini, sudah melanggar UU nomer 44 tahun 2008 tentang pornografi. “Bahwa mengesankan ketelanjangan itu dilarang. Apalagi ini kampanye. Naik panggung dan mengesankan ketelanjangan dan ini tidak diperbolehkan. 

Artis terkenal yang menjadi papan atas ikut mengambil peran dalam menyuarakan suara calon pemimpin ini, dengan bayaran yang lumayan mahal, mereka diundang untuk menghibur para peserta kampanye. 

Seperti yang dikutif dalam arrahmah.com "Atas nama demokratisasi, rakyat diajak berpesta meski sering menelan pil pahit. Tak lekang oleh jaman dan tak jengah oleh keadaan. Rakyat sepertinya berada di dasar kebodohan politik. Saat ini merupakan masa kampanye menuju pilkada serentak, Rabu, 9 Desember 2015. Calon Kepala Daerah (Kada) menunjukan kebolehannya. Komunikasi politik pun dibangun untuk menjaring simpati. Aksi kampanye dibuat semenarik mungkin. Bahkan ada yang sampai menciderai kondisi sosial masyarakat. Sungguh apakah ini yang diinginkan dari demokrasi?

Demokrasi Itu demoralisasi
Rakyat seharusnya tahu, demokrasi tak melulu pergantian pemimpin. Bukan pula sekadar coblos kertas lalu jadi kepala daerah. Juga bukan lima menit untuk kesejahteraan. Keikutsertaan rakyat dalam pencoblosan bukan indikasi kedewasaan politik dalam berdemokrasi. Rakyat harus tahu demokrasi sendiri berasaskan kebebasan (liberal). Juga memisahkan agama dan kehidupan. Demokrasi bisa menjadi ajang demoralisasi (merusak moral)."

Banyak yang bertanya bagaimana sih tipsnya memilih calon pemimpin yang baik ?
Tips memilih calon pemimpin yang baik adalah :

1) Se-Agama. 
Beberapa ayat menarik menjadi pilihan untuk direnungkan dalam memilih seorang pemimpin.
Dalam surah al-Maidah ayat 51 yang artinya : Hai orang orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang orang yahudi dan nasrani menjadi pemimpin - pemimpinmu. sebahagian dari mereka adalah pemimpin bagi sebahagian  yang lain. Barang siapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang orang yang zalim.
Ayat diatas jelas menerangkan bahwa kita sebagai umat islam tidak dianjurkan untuk memilih pemimpin yang tidak berasal dari agama kita. Sebagaimana nilai nilai islam hanya bisa diterapkan oleh orang islalam itu sendiri. Nah, bagaimana jadinya jika yang memimpin kita bukan dari kaum seagama?. kita bisa diikut sertakan dalam mengikuti paham komunis mereka. Ayat diatas juga minitik beratkan jika kita mengikuti pemimpin yang tidak seagama maka kita akan termasuk kedalam golongan mereka. maukah kita disebut sebagai golongan nasrani? tidak bukan?. jadi Pilihlah calon pemimpin yang sesuai dengan agama kita. 

2) Coba cari tahu profil calon pemimpin

Semua calon pemimpin akan mendeksripsikan tentang dirinya, tapi semua hal yang baiknya saja, mereka tidak akan mengatakan apakah mereka pernah korupsi atau tidak. calon pemimpin ini alangkah baiknya diadakan diskusi terbuka yang disaksikan oleh masyarakat yang hendak memilih. Agar bisa memantapkan pilihan, pilihlah mereka yang punya etika baik, dan sejarah hidup yang baik, tidak mungkin kan' kita memilih pemimpin yang baru saja keluar dari lapas. jadi perhatikan baik baik background dari calon pemimpin pilihan anda.
3) Pilih yang merakyat
Biasanya calon pemimpin baru berbaur dengan masyarakat  saat ingin menarik hati dan suara rakyat. Kebanyakan yang kita saksikan dan kita amati bersama. Pemimpin mah gitu, kalau ada maunya baru datang berkunjung ke kampung, kalau sudah menjabat mungkin sudah lupa nama kampung yang dikunjungi itu apa. Yang lebih parahnya kalau sudah mengucapkan janji untuk mensejahterakan rakyat desa, tapi setelah menjabat, malah mensejahterakan diri sendiri. Pemimpin yang baik akan peduli terhadap nasib rakyatnya, bukan hanya kepada rakyat yang sedang bahagia, juga kepada yang sedang dilanda duka, sosok pemimpin yang baik akan terlihat jika ada rakyat yang sedang berduka dan dia turut andil dalam kedukaan tersebut. 

4) Pilih yang bisa mengajak kedalam kebaikan
Dalam surah As-Sad ayat 59 : (Dikatakan kepada mereka): "Ini adalah suatu rombongan (pengikut - pengikutmu) yang masuk berdesak desakan bersama kamu (ke neraka)". Berkata pemimpin pemimpin mereka yang durhaka: Tiadalah ucapan selamat datang kepada mereka karena sesungguhnya mereka akan masuk neraka

Pemimpin yang baik akan mengajak kita bersama sama dalam kebaikan, maka pilihlan calon pemimpin yang visi misi sesuai dengan karakter dan cara pandang mereka, jika mereka mampu menerapkan nilai nilai islam yang baik dalam caranya memimpin, maka kita tidak akan menjadi pengikut pengikut yang berdesak desakan masuk neraka. Karena pemimpin yang bathil akan mengucapkan selamat datang di neraka jika mereka mampu mengajak kita untuk menuruti kebijakan yang tidak sesuai dengan syariat islam.

5) Kenali Figur pilihan anda
Masyarakat harus melihat figur, lebih dekat dengannya dan tahu betul figur yang dipilih seperti apa. jika ingin mengenali figur yang tidak setiap hari ditemui, bisa dengan membaca koran atau media online yang memberitakan tentang calon figur pemimpin. Jika calon figur belum terjajah sosial media, anda bisa mengenali dengan bertanya kepada orang orang yang setiap hari bersamanya, yang sahabat sahabatnya atau paling tidak orang yang satu kerja / satu kampung dengan calon figur pilihan. Penting juga bagi anda yang hendak memilih, memperhatikan latar belakang dan kebiasaan masa lalu calon pemimpin. Karena masa lalu yang bisa membentuk karakter calon pemimpin itu maka ada baiknya kita mengetahui figur masa silam calon pemimpin.

Setiap kita pasti mengharapkan pemimpin yang bisa mensejahterakan, jika kita ingin menjadi pemilih yang baik, maka jadilah pemimpin untuk diri sendiri. memimpin diri untuk memilih pemimpin yang sesuai dengan yang dicontohkan para sahabat nabi terdahulu. 
Apa yang dilihat dalam kampanye bule berbikini, sudah melanggar UU nomer 44 tahun 2008 tentang pornografi. “Bahwa mengesankan ketelanjangan itu dilarang. Apalagi ini kampanye. Naik panggung dan mengesankan ketelanjangan dan ini tidak diperbolehkan,” paparnya. - See more at: http://www.arrahmah.com/rubrik/pilkada-demokrasi-itu-demoralisasi.html#sthash.GHRZmsu6.dpuf
Apa yang dilihat dalam kampanye bule berbikini, sudah melanggar UU nomer 44 tahun 2008 tentang pornografi. “Bahwa mengesankan ketelanjangan itu dilarang. Apalagi ini kampanye. Naik panggung dan mengesankan ketelanjangan dan ini tidak diperbolehkan,” paparnya. - See more at: http://www.arrahmah.com/rubrik/pilkada-demokrasi-itu-demoralisasi.html#sthash.GHRZmsu6.dpuf
Apa yang dilihat dalam kampanye bule berbikini, sudah melanggar UU nomer 44 tahun 2008 tentang pornografi. “Bahwa mengesankan ketelanjangan itu dilarang. Apalagi ini kampanye. Naik panggung dan mengesankan ketelanjangan dan ini tidak diperbolehkan,” paparnya. - See more at: http://www.arrahmah.com/rubrik/pilkada-demokrasi-itu-demoralisasi.html#sthash.GHRZmsu6.dpuf

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Like this ya