Menyapa Alam di Danau Tanralili Kabupaten Gowa

08:11 0
Danau Tanralili

Kirim aku kedalam bait bait penuh makna dan bawalah daku terbang bersama burung dewata mengitari lingkaran air surga dari mata air salsabilah yang syahdu di surga sana. Tujuan liburan kali ini adalah danau tanralili. Sebuah surga kecil di lingkar kota Malino Kabupaten Gowa. Berangkat dari meet point di rumah Budi pada pukul 08.00 melalui jalur pintas, Batangase jalur Kostrad kariango, melalui pasar carangki belok kanan menuju Sipur dan tak lama kemudian meyatukan diri dengan pengendara lain di jalur Poros Malino.

Keramaian mulai terasa ketika memasuki jalan poros Malino. Memang pada saat liburan akhir pekan seperti ini, banyak yang suka nge-camp ataupun sewa villa di lokasi wisata alam yang terkenal dengan hawa dinginnya ini. Tidak begitu macet, tapi kami menghabiskan waktu sekitar kurang lebih tiga jam perjalanan. Hingga akhirnya tiba di pos registrasi.

Oiya, Jika ada yang bertanya dimana jalur menuju lokasi danau Tanralili ini, anda bisa memasuki jalur menuju air terjun Takapala, dan air terjun ketemu jodoh. Jika anda belum pernah ke air terjun ini, tenang saja, tak jauh dari pertamina akan ada papan petunjuk yang terpampang di tepi jalan poros yang menandakan arah menuju air terjun Takapala.

Letak strategis danau tanralili berada di kaki gunung bawakaraeng, pantas saja kabut sangat menggumpal kala di puncak puncak pendakian. Setelah menghabiskan waktu kurang lebih sepuluh menit di pos registrasi, kami melakukan doa bersama dan memulai perjalanan. Ada beberapa aturan untuk bisa ngecamp di danau tanralili, diantaranya dilarang membawa hammock, itu dikarenakan pohon pohon yang ada di sekitar danau tanralili memang masih kecil, jadi apabila bergelantungan dengan hammock disini maka akan mengganggu pertumbuhan pohon. Juga dilarang menyalakan api unggun karena rawan kebakaran, apalagi saat musim kemarau. Yang paling penting adalah dilarangnya laki laki dan perempuan yang bukan mahram menginap di satu tenda yang sama. Hal itu untuk mendukung terjadinya hal hal yang tidak sewajarnya. Syar’i banget. Salut sama pengelolah tempat wisata alam ini.

Perjalanan kali ini kami berempat, bersama Nawir, Ariawan dan Rahma (sepupu). Awalnya merencakan perjalanan ke lembah ramma, sesuai kesepakatan seminggu sebelumnya dengan Sudar, Evi, Idar dan teman teman yang lainnya.  Tapi, karena minim pengetahuan kami pikir lembah ramma sama dengan danau tanralili, apalagi Sudar dan Evi yang sudah berangkat sehari sebelumnya membuat kami semakin jauh dari haluan. Kami hanya menerka nerka dan memulai perjalanan dengan bismillah.

Perjalanan cukup santai, karena siang itu matahari tak begitu terik. Hanya pada langkah awal saja matahari menyengat, setelah itu sesekali awan mendung dan sesekali kabut yang menemani. Kami mulai berjalan di pukul 11.00 dengan membawa carel pada masing masing punggung yang begitu rapuh ini. Di perjalanan, begitu banyak pemandangan air terjun, baik yang dekat maupun hanya terlihat dari kejauhan. Ada yang bertingkat, ada pula yang terjal terjatuh, menghasilkan aliran sungai sungai kecil dari muaranya. Pada sisi kiri perjalanan terdapat sungai besar yang airnya sangat minim, padahal  pada saat kunjungan kesini musim belum kemarau parah hingga menyisahkan pemandangan bebatuan dan pasir yang menambah keelokan wilayah puncak kabupaten gowa.

Diperjalanan tidak usah begitu khawatir tersesat, karena jalur ke danau tanralili itu terbuka, dan banyak traveller yang lalu lalang pulang dan pergi. Ada pula beberapa warga yang berjalan berkelompok, entah kemana dan dari mana, saya tak sempat bertanya karena langkah mereka sedikit lebih cepat walaupun kebanyakan dari mereka kelihatan sudah tua.

Tanjakan pertama cukup menguras stamina, apalagi dengan carel yang lumayan berat diisi dengan air dan beberapa makanan serta perlengkapan camp. Tapi itu mampu  terlewati dengan bahu membahu serta saling menyemangati.
Perjalanan dua jam berlalu tanpa terasa, seolah lupa kalau ternyata masih berjalan di dunia, bukan akhirat. Berjalan dengan tertatih karena kami belum terlatih, tapi langkah kami pasti meskipun tujuan masih diterka terka. Di puncak kedua dari akhir, kabut tebal menyelimuti, sedikit mengganggu penglihatan yang memang payah ini. Akhirnya lelah yang disengaja harus dilawan untuk mempercepat langkah menuju tujuan utama. Pada tanjakan parah terakhir, belok kanan dan mata berbinar melihat sebuah kumpulan air yang menghijau. Alhamdulillah sudah terlihat. Tapi berada dipuncak ini seolah mengajak untuk istirahat sejenak, sembari menikmati gerimis yang basah, (iya basah kan air!). Sesekali mengambil pose terbaik dan bergantian mengambil gambar.

Tinggal beberapa langkah lagi sudah benar benar berada di danau tanralili. Pukul 13.30 dan akhirnya *hoaamm tiba juga. Suasana masih basah dari gerimis yang menyelimuti barusan, kabut pun perlahan mulai berjalan, ada yang menjauh ada juga yang mendekat.

Setelah sampai, karena nawir tiba lebih dulu, ia mencari Sudar, Evi, Idar dan beberapa teman lainnya yang diajak janjian. Ternyata nihil. Kami salah, ini bukan lembah ramma’. Ini Danau tanralili, surga kecil yang menyaingi ranu kumbolonya mahameru.  

Karena ketiga teman terlihat sudah kelelahan, maka kami memutuskan untuk istirahat sejenak, bertanya jalur menuju lembah ramma dari beberapa tenda yang sudah berada lebih dulu disini. Tenda pertama, tidak tahu, kedua pun begitu tenda ketiga juga tidak tahu tapi mengenal salah seorang warga yang kebetulan berada disekitar danau ini, “anda bisa bertanya kepada orang tua itu” katanya sambil celingak celinguk mencari seseorang yang disebutnya orang tua tadi. Karena lama tidak datang juga, akhirnya saya memutuskan mendatangi tenda yang ada diseberang sungai kecil yang kelihatannya lebih ramai.

“maaf  bolehji ber tanya, dimana jalur ke lembah ramma’?”  beberapa dari mereka menjawab bergantian, menjelaskan bahwa jalur ke ramma dari danau tanralili menghabiskan waktu sekitar dua jam lagi dari sini. Dan menyeberangi gunung serta sungai yang alirannya cukup ganas kalau musim hujan di maret seperti ini. Mereka sekelas remaja dan pemuda, wellcome dan berbaik hati menawari kami bergabung dengan kelompok mereka. Akhirnya karena melihat kondisi tenaga, cuaca dan pengetahuan yang minim tentang pendakian dadakan seperti ini, akhirnya kami memutuskan untuk ngecamp disini saja, karena awalnya bayangan kami memang lembah ramma itu disini, sama dengan danau tanralili. Hehe.

Saat setelah mendirikan tenda, mendung sudah menyelimuti langit yang terasa lebih dekat disini, dan tak lama kemudian hujan deras mengguyur, membasahi nafas yang sedari tadi tersengal. Perbincangan hangat ditemani kopi hangat dan cemilan yang kami bawa. Bersama dengan keluarga baru yang akan menemani dua hari satu malam kami disini. Mereka adalah mahasiswa dan anak SMA serta SMP yang satu kampung membentuk perkumpulan dan menamainya dengan MMJ (Mange Mange Jappa). Ma’ddi nama kepala sukunya, dan senang hati menyambut kami. Ini yang paling saya sukai dari setiap pendakian, bertemu dengan orang orang baik yang belum pernah ditemui sebelumnya tetapi sudah seperti keluarga dekat.


Sore yang masih teduh dari hujan yang sudah berakhir. Masih ada beberapa waktu ba’da ashar ini untuk explore bagian bagian kecil di surga ini. Mengambil beberapa peralatan untuk pose foto dan tak lupa baju tebal karena dingin. Terlihat beberapa pendaki lain baru sampai dan mencari lokasi untuk mendirikan tenda. Tak lama setelah itu malam pun menghampiri, semesta bertasbih untuk magrib yang sendu. Walaupun sunset tak terlihat hari ini, tapi pegunungan batu yang lembut ditumbuhi rerumputan dibalut kabut dari sisa hujan tetap saja bertengger dengan kekar membawahi air terjun yang terdengar bersahutan menyambut manusia manusia yang kurang piknik dan berusaha mensyukuri hidup melalui alam.

Malam pun semakin larut, bakwan yang dibuat keluarga baru ini membuat malam terasa nikmat. Di pertengahan malam mereka menghabiskan waktu untuk mendiksar anggota baru dari perkumpulannya dan sembari terdengar sahut menyahut dari beberapa pendaki yang baru datang dan mencari temannya. “Semoga teman kami yang ada di lembah ramma tidak khawatir tentang keberadaan kami” hanya itu doa yang selalu terucap dari lisan yang hina ini.

Hawa dingin di subuh itu menusuk sampai ketulang. Ingin rasanya pagi segera tiba menjemput jiwa jiwa yang kelelahan dibawah tenda kusam yang menyelamatkan kami dari hujan dan angin. Setelah pagi benar benar menjemput dan cahaya sudah semburat. Ternyata suara yang sahut menyahut semalam menghasilkan beberapa tenda yang sudah tak terhitung. Aku dan Nawir mencoba mencari spot baru untuk mengambil gambar. Akhirnya tiba di puncak lagi. Pemandangan danau tanralili benar benar terlihat dari puncak ini, danau yang bentuknya hampir menyerupai kupu kupu dan sayapnya yang dimekarkan.

Sungguh indah alam yang diciptakan Allah, alam sebagai sarana untuk tafakkur (mendekatkan diri kepada Allah dengan melihat ciptaanya) bukannya takabbur dari apa yang diucapkan.

Perjalanan kali ini mengajarkan akan indahnya berbagi. Saling mengenal, mengenal sesama manusia, mengenal alam dan mengenal pencipta sang ilahi rabbi.

Danau Tanralili 4 – 5 Maret 2017

Hanya Ada Dua Pilihan, Jomblo atau Menikah

02:00 3

Jomblo atau Menikah

   
"Kasihan jomblo !!" 
Ungkapan itu sudah sangat sering terdengar di kalangan remaja dan pemuda/pemudi saat ini. Seolah status jomblo adalah bahan ejekan dan sebuah status yang kedengarannya sangat miris dan memprihatinkan. Adapun yang jomblo menganggap dirinya tidak laku, tidak ada yang membutuhkan dan tidak ada yang menarik dari dirinya, akhirnya putus asa dan tak tahu arah jalan pulang (bukan lirik lagu butiran debu). 
Sebenarnya mengekspresikan cinta dalam islam tidak mesti harus pacaran. Aktualisasi dari rasa cinta dalam islam hanya ada pada dua pilihan yaitu : Jomblo atau Menikah. Bagi teman teman yang ingin menjadi generasi muslim di era modern saat ini sangat disarankan untuk memilih dua jalan ini. Pasti akan ada banyak alasan dan penolakan mengapa harus memilih kedua alasan jomblo atau menikah ini. Berikut pandangan saya.

Mengapa harus jomblo ?
Jomblo seolah spesies langkah yang hampir punah, dan selalu tersingkirkan serta menjadi bahan bully di setiap sendi pergaulan anak muda saat ini. Padahal jomblo adalah suatu status yang sangat mulia. Karena dengan meyakini dan menjalani sifat itu, maka jomblo bisa dijadikan motivasi untuk menjadi pribadi yang lebih taat dan lebih luwes dalam bergaul. Jomblo bebas bergaul dengan siapa saja (asal sesuai syariat). Jomblo itu membuat hidup lebih nikmat dan lebih mudah dinikmati.  

Sebenarnya jomblo itu tidak ada salahnya, yang salah adalah orang orang yang mencemooh dan menghina si jomblo. kasihan kan. Cemohan dan hinaan datang silih berganti, bertubi-tubi bagai penjajah jepang yang menjajah nenek moyang kita dulu. siang malam tanpa henti tanpa hati nurani. Selain di lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat (baca : teman sepergaulan) juga mempermasalahkan status jomblo seseorang. Kembali ke sekolah / tempat kuliah, masih saja dihina dengan status jomblonya, yang lebih parah lagi di tempat kerja, seolah status bujang sudah punya tag khusus didahinya "BEBAS DIBULLY, KARENA MASIH JOMBLO ALIAS BUJANG" kan miris sekali. 

Cinta adalah naluri, yang murni dari Allah swt. sedangkan pacaran hanya dari hawa nafsu manusia. dan itu sama sekali  tidak boleh dipelihara oleh  remaja saat ini. Mengapa pacaran tidak baik bagi remaja ?.  karena itu akan merusak dirinya, masa depannya, konsentrasinya untuk beribadah dan berprestasi di usianya. Jomblo adalah status yang sangat disarankan untuk dipelihara oleh para remaja. Berbagai kasus negatif sudah banyak kita dengar hanya karena status berkedok "pacaran". 

Tidak perlu malu dengan status jomblo, malulah dihadapan Allah SWT yang maha melihat dan mengetahui perbuatanmu. Masa mudamu akan lebih berharga dengan menjaga diri dan menundukan hawa nafsu, jangan mau kalah sama godaan syetan. Ayo sama sama mengagalkan renacana syetan untuk menarik kita kedalam maksiat.  Jadilah pemuda yang membuat kagum pencipta, jangan jadi pemuda yang membuat kagum seorang wanita hanya untuk menggodanya, memanfaatkannya atas nama cinta dan pacaran lalu merusaknya. 

"Sesungguhnya Allah ta'ala benar-benar kagum terhadap seorang pemuda yang tidak memperturutkan hawa nafsunya" (HR. Ahmad)

adapun hadis lain yang menguntungkan buat para jomblo, berikut :

"Barang siapa yang belum mampu menikah, maka berpuasalah, karena dengan berpuasa dapat menjadi penghalang (benteng) untuk melawan nafsu." (HR. Bukhari, Ibnu Majah dan Tirmidzi). 

Banyak hal positif yang lebih produktif yang bisa dilakukan oleh para jomblo tanpa harus mengharap pamrih dari  seseorang yang disebut "pacar". Lakukan saja hal hal dengan ikhlas, insya allah hanya Allah SWT yang berhak menilai. Dan hanya kepada Allah SWT kita harus takut, tunduk dan patuh. 

Mengapa harus menikah ?
 "Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kamu sekalian yang telah mampu, maka hendaklah menikah, karena sesungguhnya menikah itu dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan, dan barangsiapa yang belum mampu menikah, maka berpuasalah, karena dengan berpuasa dapat menjadi penghalang (benteng) untuk melawan nafsu."  (HR. Bukhari, Ibnu Majah dan Tirmidzi). 

Seperti kata pertama dalam hadist diatas, "wahai para pemuda" menikah sebaiknya untuk para pemuda yang mapan dari segi kelayakan harta dan iman, belum berlaku bagi para remaja yang masih usia produktif untuk belajar dan mengejar mimpi serta cita citanya. Jika dirimu sudah mampu/mapan dalam segi harta dan iman serta kedewasaan maka sangat dianjurkan menikah. Karena dengan menikah banyak hal yang menguntungkan misalnya menjaga hawa nafsu dan melampiaskan kepada hal yang diridhoi Allah. Dengan menikah maka separuh agama telah terpenuhi. 

"Lebih baik sendiri dalam takwa dari pada berdua dalam dosa" Itu prinsip mantap buat teman teman yang masih memilih menjomblo, tapi yang sudah mantap untuk menikah mungkin lebih  baik semboyan itu di remake sedikit "Lebih baik berdua dalam membangun surga dan proses taat, dari  pada menjadi mayat yang hina karena tak mau menikah". 
"Seburuk buruk kalian adalah yang tidak menikah, dan sehina hina mayat kalian adalah yang tidak menikah" (HR. Bukhari)

Keistimewaan menikah sangat banyak, proses perhitungan pahalanya pun berlipat ganda dari pada si jomblo. Berpandangan (penuh nafsu) dengan yang bukan mahram membangun dosa. Sedangkan berpandangan dengan pasangan halal akan menambah pahala, begitupun dengan berjabat tangan, jika bergandengan dengan lawan jenis yang bukan mahram maka akan menambah pundi pundi dosa, sedangkan dengan  pasangan halal akan mengugurkan dosa. Nah pilih mana, pacaran atau menikah ?. 

Sangat jelas pacaran tidak ada artinya buat kita sebagai remaja/pemuda islam. Itu hanya budaya barat yang mereka upayakan menjadi  trend  untuk mengalihkan dunia para generasi islam, agar mereka melupakan pencipta dan agar mereka mengurangi waktu untuk mempersiapkan kematian. 

Tidak ada pilihan untuk pacaran, yang ada hanya jomblo atau menikah. Jika masih ingin berprestasi dan berbakti kepada kedua orang tua, maka menjomblolah, tapi jika ingin membangun surga dan menyempurnakan separuh  agama maka menikahlah, dan jika ingin menikah  tapi belum punya modal maka jaminkanlah BPKB motor anda ehh salah, maka berpuasalah, karena sesungguhnya  berpuasa bisa menjadi benteng hawa nafsumu. 
Salam pemuda muslim. 

Syukron, 11 Maret 2017 di - Teras BM.

Air Terjun Wae Sai' Barru dan Kisahnya

06:05 1

Ke Air Terjun Wae Sai’ Kabupaten Barru.



05 Februari 2017, Pukul 08.00 berangkat dari rumah Nawir menuju meet point, Pangkep Jappa – Jappa yang ada di seberang sungai tugu khas Pangkep yang dijuluki “Bambu Runcing”. Sebuah tugu dengan gambar bambu yang diruncingkan menggambarkan kepahlawanan di Pangkep.



Sejak pukul 08.15 saat sampai disini, hingga pukul 10.00 Wita, orang orang yang join dalam trip yang diadakan komunitas Pangkep Jappa Jappa baru terkumpul. Tujuan tripnya adalah air terjun Tondong Tallasa yang ada di perbatasan Pangkep Bone. Air terjun tersebut masuk dalam kawasan Kabupaten Bone. Dari gambar yang ditampilkan dan video pendek dari crew PJJ yang pernah cek lokasi sebelumnya, disana terlihat keren dan sangat menarik. Maka dari itu, Nawir merasa tertarik untuk join dalam trip yang diadakan komunitas traveling di daerahnya. Nawir mengajak empat orang temannya, termasuk saya. Dan kami menunggu bersama selama kurang lebih dua jam. -_-



Sejak perjalanan yang dimulai pada pukul 10.00, untuk tiba dilokasi diperkirakan satu jam seperdua sampai dua jam perjalanan. Alhasil, pada saat itu, kami singgah di warung pinggir jalan untuk membeli minum. Sekedar untuk melepas dahaga. Rombongan yang berangkat lebih awal dengan sigap melajukan motornya kearah timur Kabupaten Pangkep. Ditinggal beberapa menit dari rombongan pertama, kami berusaha mengejar ketertinggalan. Dengan bekal dahaga yang telah dibasuh air berwarna, Nawir tak kalah sigapnya melajukan motornya. Putaran demi putaran, lingkaran demi lingkaran, dan pacu yang dibuat dari tali gas membuat matic biru kesayangnnya melaju dengan pesat. Hingga akhirnya ........



Kami tetap tertinggal. Entah karena mereka yang melajukan motor dengan kencang atau karena kami yang terlalu lama. Tapi tenang, hal itu tak menjadi masalah buat Nawir, dia masih sibuk dengan tali gasnya, mengitari belokan demi belokan, dan akhirnya belok kiri ke arah Barru hanya menggunakan feeling (hebat sekali). Rombongan pertama tadi menuju ke arah yang sama sekali tidak kami ketahui. Sayang sekali tak ada sinyal waktu itu, jadi kami tak bisa menghubungi salah seorang diantara mereka.



Sebenarnya masih ada satu rombongan lagi yang menyusul, tapi jika harus menunggu mereka yang dibelakang, yang dikejar didepan kita akan semakin jauh meninggalkan. (owalah baper).



Air Terjun Wae Sai Barru
Satu jam melakukan perjalanan mendaki dan dengan tikungan tajam yang tidak setajam tikungan Palopo – Toraja. Kami merasa sudah tertinggal jauh disana, tanpa kabar, tanpa kabar angin yang setidaknya bisa menenangkan. Kami merasa sudah putus asa dan tiada harapan lagi x_x , hanya senyum indah dari pelangi yang kami nantikan siang itu. Tapi sayang hari itu tak ada hujan yang membasahi bumi, jadi mustahil untuk menunggu kabarnya pelangi. Beberapa saat setelah ungkapan kecewa itu muncul, signal akhirnya masuk mengisi kotak yang sedari tadi kosong pada kolom signal di handphone . Wah, telephone dari salah seorang teman yang ikut di rombongan pertama tadi. Isinya kurang lebih seperti ini “woi, dimana meki? Sampai maka saya di air terjun!, banyakna air weh -_-”  ungkapan itu seolah menghantam kami, tiba tiba saja mendung menghiasi langit langit naluri dan keinginan kami dan dengan tiba tiba lagi kami hanya bisa mengendorkan niat yang terlalu membumbung tadi. Bukannya patah semangat, tapi karena kenyataan bahwa kami sudah kesasar jauh, dan tak mungkin kembali lagi.



“Dimana meki ini, saya jemputki diluar, kususul nah”.


Jawaban Nawir : “ Sudahlah teman mundurma, tidak bisa ma lanjutkan lagi, terlalu baikka untuk menuju kehatinya ianu”.


 “Woi Nawir, sadarko, kesasarki inie”(diiringi lagu galau “siapalah aku ini, untuk meminta buih yang me .... xxxxxx).


Yah, akhirnya sudah benar benar kesasar jauh, dan sekarang kita sudah di kabupaten Barru. Tidak apalah, perjalanan kembali dihidupkan, tanpa berbalik ke arah yang begitu terjal tadi, sebenarnya hal yang membuat Nawir malas putar balik, karena kondisi jalan yang berbatu tajam dan menukik keras itu.



Ba’dda Duhur kami sudah berada di Kabupaten Barru, Kecamatan Tanete Riaja. Wah sepertinya ada satu air terjun yang bisa jadi guling disaat merindu seperti saat ini. dari kunjungan sebelumnya ke Celebes Canyon dan pohon jomblo di  Kabupaten Barru, Ada papan petunjuk yang menginformasikan arah ke air terjun wae sai ±7 km.  Yah, kamimemilih alternatif itu. Bismillah, di depan harus lebih baik.



Sekitar kurang lebih tujuh atau entah berapa kilometer, jalan yang kami lalui dari poros Barru Soppeng dimulai dengan perjalanan menanjak lagi. Melewati beberapa kampung dengan suguhan panorama indah ciptaan yang maha kuasa. Dari kejauhan terlihat dua air terjun yang sangat megah membawa air keluar dari celah pegunungan.



Akhirnya, kami harus memarkir kendaraan karena jalanan sudah tidak memadai lagi untuk mengendarai motor. Kami harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sekitar kurang lebih 200 meter. Melewati sengkedan, rumput gajah, dan pengairan langsung dari air terjun wae sai. Jembatan gantung yang membelah diantara sungai itu, menjadi alternatif untuk mencari jalan baru sembari menikmati kemegahan air terjun wae sai dari kejauhan. Setelah beberapa menit berjalan, akhirnya gemuruh air terjun sudah bergitu dekat terasa. Masya allah, indah bukan ?



Kami mengambil tempat strategis ditengah sungai di batu yang besar. Ornamen ornamen batu yang begitu besar ini berjejer tak beraturan dengan bentuk bulat yang tidak sepenuhnya bulat, ada lonjong, gepeng dsb, yang pasti ini hanyalah batu jadi bayangkan saja batu.


Air terjun yang sesekali menghembuskan air dari angin yang berasal dari celah pepohonan di pegunungan membuat suasana yang sedari tadi gerah menjadi adem semadem. Dibekali coklat dan air mineral (merk disensor)  cukup melegakan hal yang mengecewakan tadi.

Membayangkan proses perjalanan hari ini. begitu indah balasan yang diberikan dari proses perjuangan. Perjuangan yang pastinya akan membuahkan hasil, karena kami kembalikan  dan sandarkan kembali jiwa dan raga kami kepada sang maha pemilik keindahan. Air Terjun ini cukup menjadi  saksi perjuangan kami hari ini.

Quotes :  Restu dari orang orang kesayangan adalah yang utama bila melakukan perjalanan. Jika tidak, bisa saja terjadi hal hal yang tidak diinginkan. 

Tiga hari di Kota Palopo

21:56 0

Kira kira seperti ini ceritanya.



Pukul 20.00 kita sudah diantar sama Muhlis menunggu mobil di stasiun Maros (baca : pinggir jalan, depan SMK Kebangsaan). Alhasil, bus langsung tiba beberapa menit kemudian, barangkali tak cukup sepuluh menit. Setelah terjadi proses tawar menawar yang dramatis yang intinya menjual status (mahasiswa) biar harganya murah. Akhirnya dibolehkan naik *Mungkin dengan sedikit terpaksa*. Perjalanan pun berlangsung murah  meriah, dengan bekal seadanya (untuk kebutuhan perjalanan sendiri, masih sendiri, masih bujang).  Hujan yang mengguyur selama perjalanan membuat tidur semakin lelap. Begitupun dengan penumpang lain. Karena kondisi bus yang lebih banyak kursi kosong, membuat saya lebih leluasa berpindah tempat, dan membaringkan badan (asal tidak berjoget ria). Dan pemberhentian pertama untuk istirahat adalah di kabupaten Barru (supirnya lapar), selama kurang lebih tiga puluh menit.



Melintasi beberapa kabupaten menyusur bagian utara Sulawesi Selatan, tak terasa waktu sudah menunjukan Pukul 03.30. Akhirnya sampai ke Songka’ kecamatan Wara Selatan kota Palopo. Sebenarnya dari beberapa kali kunjungan ke Palopo, baru kali ini mendengar lokasi itu. Tapi, setelah dapat kabar dari kanda Ardi, bahwa tidak usah langsung ke terminal, turun didepan polsek wara selatan saja. Jadilah kita tiba di songka. Rumah baru kace.



Beberapa jam setelah adzan subuh berkumandang. Matahari sudah menampakan wajah lugunya, saatnya buka mata dan rasakan kilaunya. “Don’t you excited when your open your eyes, you in new place”. Benar,  sekarang kita berada lagi ditempat yang berbeda dari biasanya dan sedikit excited, walau belum telusur.



Kebetulan rumah baru kace beberapa kilometer saja dari laut, dan sebelum itu, terpampang empang yang cukup luas (untuk di telusuri). Jadilah kita pagi itu telusuri desa sekitar bersama Nabil. Pemandangan pertama yang terlihat, adalah gerombolan ikan bolu (bandeng) yang menantikan makanan, selanjutnya gerombolan udang dari empang yang lainnya. Dan kepiting yang sesekali menampakan wajah malu malunya sama kita pendatang baru dari area persawahan. Berjalan lebih jauh lagi, eh ketemu pohon jomblo *pohon jomblo lagi* bedanya sama pohon jomblo postingan sebelumnya di Barru yang berada di  bukit ditengah padang rumput yang luas. Kali ini pohon jomblonya berada di tengah empang yang berair hijau.



Budidaya Kepiting Cangkang lunak



                Telusur lebih jauh lagi, terdapat sebuah empang luas yang isinya bukan ikan dan udang, tetapi kepiting yang dimasukan dalam kotak hitam yang sudah dimodel sedemikian rupa. Jika diperhatikan lebih dalam sedalam empang, ada view menarik disini. Cukup interview pekerjanya (ibu – ibu), ternyata kepiting dimasukan dalam kotak agar bisa diambil cangkang yang lunak. Selama sehari bisa tujuh kali panen. Dan pekerjanya dibagi dalam tiga shift, karena cangkang yang sudah siap panen harus selalu dicek setiap saat.  Dan menurut info, cangkang dari kepiting ini diimpor ke luar negeri loh, bukan hanya di pasarkan di Indonesia.

                Walaupun pada pagi itu hanya terdapat sekitar sepuluh lebih pekerja yang memanen cangkang kepiting soka. Tapi mereka bekerja dengan giat untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

                Tak jauh dari budidaya kepiting soka ini, sekitar seratus meter, akhirnya tiba di pantai yang tadi hanya bisa diperhatikan dari kejauhan. Airnnya surut, jadi penampakan hutan kayu lapuk dari pohon bakau begitu terasa. Dan angin laut yang sepoi datang menyambut kami dengan riangnya.



***

Hari Kedua, setelah hari kerja yang dijadikan hari cuti. Serbuan teror dari supplier dan rekan kerja kemarin, tergantikan dengan tidur lelap dari kegiatan yang meletihkan semalam. Mengecat rumah sembari mengiringi canda ketiga saudara kandung yang terlalu kegirangan ini. Sambil menunggu pisang goreng buatan mamak yang kabarnya paling enak sedunia (bagi anak anaknya). Saat fajar menyingsing, pagi ini tidak ada jelajah empang lagi (mungkin trauma karena kemarin sempat ditegur saat sedang berjalan di industri kepiting milik warga sekitar yang melarang memotret kegiatan pekerja, tapi alhasil sudah banyak gambar yang diambil. hehe).  Jadilah hari ini, kace masuk ke rumah barunya (peresmiannya). Suara ribut kerabat serta rekan kerjanya yang turut meramaikan acara syukuran cukup membuat kebisingan di pagi hingga siang itu. Rencana mau pergi sejenak, tapi motor terpakai. Jadilah kita jadi pagar ayu siang itu.



Tidak berapa lama, mungkin malaikat mendengar ucapan saya tadi untuk keluar sebentar. Ada seorang nenek yang ingin diantar pulang ke Balandai’ (nama daerah di Palopo).  Saya menawarkan diri untuk mengantar *wujud bakti kepada orang  yang lebih tua* .  Akhirnya punya kesempatan juga ngetrip bareng nenek - nenek. Selama perjalanan, nenek yang baru saya temui ini bercerita panjang tentang kisahnya yang baru seusia SMP sudah menikah, pekerjaan anak anaknya, kegiatan cucu – cucunya. Waktu gadis ngapain saja, pokoknya panjang lebar, sehingga perjalanan menjadi begitu hidup. Pesan hidup yang ditawaran untuk saya adalah “Orang tua bekerja keras diwaktu muda. Di hari tua,  mereka hanya menunggu kebaikan dari anak anaknya”. Dari perjalanan yang begitu hidup ini, saya sempat menanyakan sesuatu ; “nenek masih ingat jalan pulang ?”  Spontan jawaban dari pertanyaan singkat yang saya ajukan ini dijawabnya dengan kisah lagi. -_-. Kurang lebih seperti ini “Saya tuh waktu masih gadis tinggal di sana (sambil nunjuk suatu tempat di kota), dan setelah nikah, saya ikut suami ke Lamasi (nama daerah di luwu) jadi bla bla bla. Jadilah sebuah cerpen. Sebenarnya tujuan saya bertanya, karena saya juga lupa jalan menuju Balandai’.

“waduh, kita kesasar nek. Tapi tenang saja, saya bisa baca petunjuk jalan (berusaha menenangkan). Dari beberapa liku jalan yang dilalui, akhirnya jalan poros menuju Masamba kelihatan. Syukurlah, akhirnya bisa membuat nenek ini tidak khawatir lagi.



Cerita tentang nenek berakhir.



Sepulang mengantar nenek tadi, kita coba telusur wilayah Balandai lagi, masuk ke pemukiman warga yang dipenuhi dengan rumput laut yang dikeringkan, melalui pantai, dan beberapa pekuburan cina, kristen yang tersusun di gunung. Tujuan yang dicari adalah view yang berbeda dari biasanya. Setelah lelah telusur, terpercik ide untuk mengunjungi Masjid yang kemarin ditunda untuk sholat jum’at disana. Masjid Jami Tua Palopo.



Masjid Jami Tua Palopo



Siang yang sudah hampir memasuki waktu duhur itu, membuat saya penasaran mengunjungi masjid tertua kedua di Sulawesi Selatan. Setelah mendengar cerita dari kakak, bahwa disana terdapat pohon cinaguri yang paling besar, dan susunan tembok masjidnya yang hanya disambung dengan menggunakan putih telur, (mirip pembuatan piramida di Mesir). Jadilah kita sholat duhur disana. Subhanallah, benar benar indah dan penuh dengan nilai sejarah disini, Arsitektur yang menarik dengan batu yang berwarna abu abu dan begitu tebal, seukuran tujuh kali lipat dari masjid dikampung saya. Atap masjid yang bersusun tiga, dan pintu masjid yang berwarna coklat dengan pengait (paccala) yang masih model dulu.



Disana sudah terdapat banyak ummat muslim yang sedang menantikan waktu zuhur, sembari melihat lihat perlengkapan sholat dan pakaian muslim yang dijual di pelataran masjid. Walaupun ukuran masjid ini sedikit lebih rendah dari masjid masjid baru yang dibangun saat ini. Masjid tua ini merupakan titik nol kota Palopo. Jadi hitungan kilometer dikota ini dimulai dari masjid ini.



Memasuki ruangan masjid, nuansa religius begitu kental terasa, akhirnya terlihat juga cinaguri yang berbatang paling besar ini. biasanya hanya dijadikan sapu (sejenis sapu lidi untuk menyapu halaman, atau dijadikan kayu penunjuk saat mengaji waktu kecil dulu). Cinaguri ini  merupakan tiang utama yang menyangga empat tiang lainnya di masjid ini. menyangga empat tiang artinya (eppa’ sulapa’) dimana arah mata angin ada empat.



Di masjid ini kita berkenalan dengan seorang gadis cilik yang bernama Rika. Katanya dia senang sekali menghabiskan waktu disiini setiap pulang sekolah. Kadang mengendarai ojek, tak jarang juga dia hanya berjalan kaki. Saat menawari pegang kamera, saya langsung memberikannya, dari dialah saya dapat beberapa informasi mengenai keberadaan masjid ini. Berjalan ke arah cinaguri yang berada dalam ruangan berkaca, itu membuatnya kembali bercerita. Konon katanya, orang yang menebang pohon cinaguri ini berikrar bahwa tidak akan ada lagi pohon cinaguri yang sebesar ini. Makanya sekarang cinaguri yang tumbuh hanya sebesar induk jari. Saya sempat menanyakan mengapa pohon ini dipagari dengan dinding kaca. Ternyata, banyak orang yang mengambil potongan kayu dari pohon tua ini sebagai obat atau semacammnya.



Dari papan informasi yang tertera juga terdapat sejarah singkat masuknya islam ke wilayah wilayah yang ada di sulawesi selatan juga terdapat keterangan skema ukuran masjid tua Palopo.  Terima kasih deik Rika sudah berbagi informasi. See you next time.



Pantai labombo

Masih dihari yang sama, sore disaat acara sudah berlangsung dengan meriah tanpa tepuk tangan dari penonton karena ini bukan pertunjukan, ditemani Nabil yang belum mandi seharian karena memegang janji dari omnya untuk mengajaknya berenang di pantai Labombo. konon kabarnya pantai itu yang paling terkenal di kota Palopo ini. Mencoba menyusuri jalan yang sebelumnya belum pernah kami lewati. Hanya sedikit info dari kakak, jadilah explore pantai terjadi lagi.



Karcis masuk ke pantai ini sebesar Rp. 15.000 dihari libur, berhubung karena ini hari sabtu maka tergolong hari libur, itu berlaku untuk semua kalangan baik itu anak anak, dewasa maupun om – om. Lokasi pantai yang menghadap ke arah timur dan memanjang ini membuat pengelola berusaha meningkatkan wahana wisata didalamnya. Terdapat kolam yang berbatasan langsung dengan pantai, terdapat kebun bunga, gazebo dan tempat memesan makanan / minuman. Banyak keluarga yang menghabiskan waktunya disini, sembari menikmati jus dan kue kue ringan disuguhi dengan pemandangan laut dan angin sepoi darinya.



Tak lama berada di pantai ini, karena hari sudah semakin gelap, dan hujan yang mengguyur di bagian utara kota Palopo awalnya kami pikir hujan itu akan segera mengguyur sampai ke selatan palopo akhirnya kami buru buru. Tapi tidak, sampai ke daerah pegunungan saja yang hujan.



***

Di hari ketiga, saatnya jelajah pasar, menemani mamak dan kakak ipar, sudah dua kali bolak balik ke pasar ini, untuk sekedar membeli oleh oleh. Dan oleh oleh utamanya adalah sagu (sebuah makanan yang terbuat dari batang pohon sagu yang dibungkus dengan daun). Makanan ini menjadi bahan utama dalam pembuatan kapurung (papeda).



Its day to quality time. Mengajak kemanakan kemanakan ke time zone, bakar ikan sama mamak tercinta :* saudara saudara dan istri istrinya (istri saya mana?) sama anak anaknya (anak saya mana?) dan semua semuanya. Semoga keluarga kami akan berkumpul juga di syurga kelak. Amin !!!



Dan malamnya pun kembali bersama bus pesanan yang mengantarkan kami kembali ke daerah asal dengan tidur lelap. Dan ada cerita lucu lagi disini, pas lagi nyenyak nyenyaknya tidur. Mamahnya Nabil, tiba tiba teriak, karena bus oleng “Woi, pak supir kenapa, Pak supir kenapa? (dengan dialek dan ekspresi kaget, pake berdiri lagi). Saya dan beberapa penumpang lain keheranan. “Zonkkk”.  Hahah. Tapi langsung ketawa karena bus dan pak supir tidak apa apa. Katanya dia mimpi dan itu wujud ekspresi dari mimpinya. Sudahlah.

Dari pukul 22.30, akhirnya bisa tiba di Maros dengan selamat sentosa, menghantarkan sagu yang harus dipikul sendiri. Dan kembali ke rutinitas hari senin. SENIN.



Terima kasih untuk perjalanan 27-29 Januari bersama keluarga kali ini.

Like this ya