Trip ke Hutan Pinus dan Air Terjun Lembanna Malino

07:34 0

Apa rasanya puasa 17 jam di beijing ?
Salah satu pertanyaan yang bisa dilontarkan untuk umat muslim disana. Wah, hebat yak. Di Indonesia saja yang puasanya 13 jam sudah ngos ngosan. Apalagi cobaan di sana lebih dahsyat lagi dengan musimnya, dengan aroma makanan khasnya juga orang orang dengan cara berpakaiannya. Beijing salah satu negara tropis yang cuacanya lumayan dingin beberapa derajat celcius. Sama halnya di Indonesia, beberapa daerah bagian di Indonesia memiliki suhu yang mencekam, utamanya di daerah pegunungan. Tidak jauh Jauh, Salah satu bagian di Indonesia bagian timur khususnya di Sulawesi Selatan ada salah satu objek wisata andalan yang terkenal dengan cuaca dinginnya. Malino, orang orang menyebutnya.
Hutan Pinus Lembanna Malino

Oke, trip kali ini saya akan menceritakan kisah sebulan yang lalu tepatnya di 24 - 25 April 2017. Bersama kawan trip, Nawir, Budi, Ariawan, Kahfi dan Ucup, kami melakukan diskusi, setelah menimbang lalu memutuskan dan memantapkan tujuan terciptalah sebuah keputusan bersama “Lembanna”. Salah satu lokasi camp yang bertaraf kekinian di kalangan anak muda.

Minggu 24 April, kami sempat memenuhi lima mata kuliah yang menjadi tuntutan wajib sekaligus amanah yang harus dilaksanakan. Kami tidak bolos, itu bukan tipe anak muda sejati. Meskipun dikampus mungkin sudah ada yang pikirannya bercabang sampai ke lembanna. Setelah jam mata kuliah berakhir, perlengkapan camp seadanya yang telah dikumpulkan di meet point (rumah Budi) kembali kami packing. Setelah semua siap, kami melakukan perjalanan di pukul ± 17.30 wita (menjelang magrib).

Dari jalur Maros kota, kami memilih jalur alternatif, berbelok masuk ke kostrad kariango, melalui sipur dan tembus ke Poros Malino pas Magrib tiba. Tak lupa kembali mengingat kepada sang pemilik bumi, karena kami bermusafir ke bagian lain dari buminya.

Motor kembali berbunyi, setelah menyaksikan kejadian kejadian tragis di magrib itu (biar kawan trip yang ingat) kami melanjutkan perjalanan dengan santai, menyiapkan beberapa bekal dan bergabung bersama pengendara lain yang juga hendak berlibur ke Malino. Suasana jalan poros cukup ramai dengan pengunjung yang lalu lalang. Ada yang baru pergi dan ada yang telah menghabiskan sabtu minggunya di sana.
Hutan Pinus Lembanna Malino


Dingin serasa mulai mencekam, mungkin karena sudah semakin dalam motor kami melaju. Beberapa warga lokal yang mendekap tubuh mereka dengan sarung sudah terlihat, pertanda bahwa disini sudah benar benar dingin. Perjalanan cukup santai, karena Ucup dan budi mengendarai vespa yang beberapa kali mengalami masalah alias mogok. Vespa Biru dan vespa merah ini mungkin sudah berumur tapi mereka tetap setia menjadi barang tunggangan yang baik dengan suara yang khas.  Setelah melewati beberapa tempat keramaian, terlihat dari beberapa villa sekelompok manusia tengah menikmati malam dengan asap mengepul dari gelas gelas keramik di hadapannya. Ada yang meneguknya dengan penuh cinta bersama keluarga, sahabat dan hubungan apapun yang mengikat diantara mereka. Bahagia sekali.

Sekarang tiba di lokasi tanjakan tanjakan yang terakhir. Suasana sepi kembali menyapa dan gelap menghampiri,  karena sepertinya lampu jalan disini mati, atau memang tidak ada. Untung saja masih ada nyala lampu motor yang menjadi penerang ditengah longlongan anjing yang terdengar menakut nakuti. Nah, sekarang motor Nawir lagi yang mengalami masalah, standar dari honda beat biru ini terlepas. Karena kontak otomatis membuat motornya pun ikut mati. Beberap menit dihabiskan untuk mencari standar yang lepas ini kemudian kembali memasangnya.

Bertanya kepada warga tentang lokasi Pendakian ke Bawakaraeng mungkin solusi yang cukup jitu. Berhubung karena ini langkah perdana kami ke tempat ini, makanya belum ada yang tahu jalur. Selang berapa menit setelah bertanya, melewati kebun pemetikan strowberry akhirnya kami menemukan tikungan ke arah kanan dengan papan petunjuk =>Lingkungan Lembanna, Air Terjun Lembanna, Hutan Pinus, Lembah Ramma dan Gunung Bawakaraeng.

Lokasi camp di hutan pinus Lembanna

Setelah memasuki lorong ke pendakian bawakaraeng, anda akan menemukan palang yang dijaga oleh warga setempat dan mungkin dijadikan sebagai tempat menambah pengasilan. Satu motor dikenakan tarif Sekitar Rp. 3.000 – Rp 5.000. Pemandangan malam dari jalur masuk ini luar biasa. Gemerlap lampu buatan manusia yang terlihat terpendar dari arah kota Makassar terlihat indah ketika disaksikan di daerah ketinggian Kabupaten Gowa ini. Masya Alllah.

Kembali ke palang tadi, Kami bertemu rombongan anak muda yang usianya terlihat lebih muda dari kami, karena mereka juga menuju Lembanna kami menawarkan diri untuk ikut, akhirnya mereka menerima (meskipun para tetua ini berusaha untuk tidak terkesan ikut ikutan).

Dari pertigaan yang menjadi pilihan setelah melewati palang tadi, untuk menuju jalur pendakian Bawakaraeng silahkan belok kiri dan parkir motor anda di rumah rumah warga. Semua warga disini cukup welcome dan menerima pendaki dengan senang  hati, asalkan para pendaki tahu diri juga, bisa menjaga etika. Hampir semua rumah warga disini dipadati kendaraan baik roda dua maupun roda empat yang mungkin para pemiliknya juga sedang melakukan pendakian atapun camp di sekitar sini.

Suasana sejuk mulai amat terasa, beberapa hembusan nafas sudah terlihat berasap, cuaca semakin dalam bersama malam yang kian larut. Sudah hampir pukul 22.00. Kami melanjutkan dengan berjalan kaki sekitar kurang lebih lima belas menit. Tidak begitu terjal, tapi melewati sungai kecil atau lebih cocok disebut pengairan warga.

Setelah sampai di lokasi camp, cukup dua menit mencari tempat mendirikan tenda dan melakukan persiapan masak lalu makan malam, kondisi perut tidak bisa menyesuaikan dengan tempat dingin seperti ini. Tak lupa menggantung hammock, diantara pohon yang berdekatan. Ada empat hammock yang dibawa namun hanya tiga yang bisa digunakan, selebihnya dijadikan tempat penyimpanan barang.

Satu camp untuk enam orang cukup membuat sesak, awalnya budi dengan selimut tebal yang memenuhi carell hanya menggantung diri di hammock, tapi karena malam membuat dingin semakin mencekam ia memutuskan untuk bergabung kedalam tenda yang sudah sesak ini.

Malam kian larut bersama nyanyian pengunjung lain yang masih samar samat terdengar. Subuh pun menyambut dengan embun yang masih basah. Masih terdengar suara ngorok dari manusia manusia yang (antara kelelahan atau menikmati tidur). Suasana masih gelap, dan bara api dari perapian dekat kantin milik warga setempat masih menyala, hal itu mengundang langkah kaki untuk menghampirinya sekedar untuk menghangatkan badan. Apabila anda pengunjung yang rajin menabung, masalah toilet dapat teratasi, karena disediakan disini. Air pun terus mengalir dari ledeng – ledeng yang tersedia disini.

Pagi yang ditunggu - tunggu membuat mata melek dengan hamparan sayuran yang terlihat landai berbukit bukit. Dekapan pohon pinus pun membuat teduh pagi ini. Mentari yang bersinar cerah dari ufuk timur membuat para pemuda menyiapkan perlengkapan mengambil gambar. Sepertinya itu juga dilakukan oleh pengunjung lain, seolah berfoto adalah salah satu agenda rutin yang tidak bisa terlepas bagi manusia saat ini. Cengkarama yang bersahabat membuat kopi hangat terasa semakin hangat. Berbagai kesibukan liburan terlihat juga dari beberapa tenda yang ketika pagi terlihat semakin banyak. Mungkin ada yang datang juga setelah kami.           

Air terjun Lembanna
Air Terjun Lembanna (Malino, Gowa)
Pukul sepuluh, setelah semua kebutuhan telah terpenuhi termasuk jeprat jepret ria, kami melanjutkan perjalanan ke Air Terjun Lembanna. Salah satu agenda yang bisa dirangkaikan apabila mengunjungi hutan pinus Lembanna adalah air terjun ini. Letaknya, apabila dari tempat parkir untuk menuju gunung bawakaraeng terdapat sebuah gerbang  yang terbuat dari seng, belok kanan untuk menuju hutan pinus lembanna/star point ke bawakaraeng, dan belok kiri untuk menuju wisata air terjun. Dari pertigaan pertama jaraknya sekitar satu kilometer.

Cukup santai karena treknya tidak begitu culas. Suguhan pemandangan alam serta bukit bukit sayuran segar membuat mata semakin segar dengan yang hijau hijau seperti ini. Semakin dekat semakin terdengar suara gemuruh air. Akhirnya terlihat juga, Pas sampai ke air terjun ini posisi awal kita sejajar dengan puncak air terjun. Ada dua pilihan berfoto, dari atas air terjun atau dari bawah air terjun sembari menikmati dinginnnya air. Kami pilih yang kedua. Menyegarkan mata dengan pemandangan alam, menyegarkan hati apabila dekat dengan ilahi, menyegarkan pikiran dengan refreshing dan untuk membuat segar suasana badan, berenang dan menikmati air terjun salah satunya caranya (versi saya).



Rupanya disini ada camp juga yang didirikan oleh anak muda lain. Salah satu alternatif menarik untuk camp yang recomended. Semakin lama menikmati air terjun lembanna, pengunjung pun semakin bertambah. Kahfi yang punya jadwal cuci piring membersihkan piringnya disini, karena air cukup bersahabat. Menjelang dhuhur kami sudahi petualangan hari ini, kembali kelokasi parkir terlihat ada beberapa warga yang sedang membersihkan ladangnya, ada pula yang memetik buah yang terlihat sangat segar. Biaya parkir disini tidak ditentukan, biasanya warga hanya memasang semacam toples tertutup yang bisa diisi oleh pengujung sebagai ucapan terima kasih seadanya.

Cukup sekian trip singkat hari ini, Pengalaman berfoto di tugu pendakian bawakaraeng sudah bisa membuat kita merasakan bagaimana serunya bisa berdiri disana (Insha Allah next trip ke Puncak Bawakaraeng)
Jalur pendakian ke Bawakaraeng


Kalau lapar, Jangan lupa beli bakso ditengah kabut.

Terima Kasih.
 Homes, 01 Juni 2017 - Hari Pancasila

Nenek Patih dan Pesona Bukit Maddo Barru

16:27 0


Hujan masih lembab membasahi subuh ini. Suasana pagi masih redup bersama sayup sayup lantunan adzan yang baru saja terdengar.



Setelah proses ngojek selesai, sobat sobat fillah yang telah dikabari semalam sebelumnya sudah siap untuk menarik putaran gas di lengan motornya.  Sudar dkk yang lain star dari masjid Almarkas Makassar, Bill dan Herman dari Villa mutiara, Akbar dari Bosowa. Nawir, Mikha dll menunggu di Pangkep. Untuk menyatukan beberapa lokasi yang jaraknya bisa membentuk rasi bintang apabila dilihat dari Google Map, butuh kesabaran hingga akhirnya terkumpul di Maros pukul 11.30 wita.



Perjalanan pun dimulai dengan arus Maros – pangkep yang cukup lancar, hingga akhirnya tiba di meet point “taman musafir Pangkep” istirahat sejenak mengingat sudah masuk waktu dzuhur.



Tujuan awal hari ini adalah ke Ma’rang kab. Pangkep, sekedar jumpa dengan nenek patih, yang tinggal sendiri. Sudah tua dan tinggal sendiri, astagfirullah. Dia bercerita tentang masa mudanya, bagaimana ia bisa ke Malang-Surabaya, menikah dengan pemuda Pinrang, pandangan pertama di Pelabuhan Makassar dan banyak kisah menarik yang ia ceritakan dengan bahasa campuran bugis-indonesia, tapi lebih sering memakai bahasa bugis.

Suasana kampung yang menjadi penghasil jeruk terbesar di Kabupaten Pangkep ini terasa bersahabat, karena sobat sobat fillah antusias mendengar cerita dari pejalan senior ini.



Nenek Patih - Pejalan Senior
Setelah puas menikmati (dengan pandangan) buah jeruk yang ada di depan rumah setiap warga disini, muncul sebuah saran yang melenceng dari tujuan sebelumnya yang mengajak ke leang surukang. “Bukit ma’ddo”, adalah tujuan selanjutnya, sebuah gambar di instagram yang memikat hati untuk dikunjungi. Sebenarnya sudah masuk ke daftar kunjungan bulan lalu setelah mengunjungi air terjun tomagelli, tapi batal karena waktu tidak merestui.



Kembali kami melajukan sepeda motor ke arah utara pulau sulawesi. Masuk di kabupaten Barru dengan panorama laut disebelah kiri membuat perasaan terasa tersungut. Bukit Ma’ddo terletak di dusun Maddo Kecamatan Tanete Rilau Kabupaten Barru. Jalurnya apabila berjalan dari arah Makassar, sebelum jembatan kembar-Bottoe terdapat masjid Mujahidin-Bottoe berwarna hijau yang cukup besar. Di depan masjid terdapat belokan ke kanan, kembali mengarahkan motor ke selatan, dan apabila anda menemukan lorong pertama kekiri setelah belok tadi, silahkan masuki lorong tersebut. Kami coba bertanya kepada warga pemilik bengkel yang ada di pertigaan jalan, tentang keberadaan bukit yang kami sebut dengan bukit ma’ddo ini. Tapi warga lebih mengenalnya dengan bukit teletubies. Setelah dapat petunjuk bahwa jarak sekitar kurang lebih 4 km dari bibir jalan poros melewati jalanan beraspal dan di penghujung jalan sebelum lokasi dasar bukit kondisi menanjak dan sesekali berlubang akan menjadi tantangan.



Motor diparkir didasar bukit, dan kembali melanjutkan langkah dengan semangat. Untuk mendapatkan view yang menarik dibutuhkan kesabaran dan tenaga untuk mencapai pertengahan bukit. Nah, dari posisi tengah ini, background sungai yang berbentuk S mengecil yang menjadi pengikat hati pengunjung, bisa didapatkan. Setelah puas jeprat jepret, kami berlima (saya, Akbar, Bill, Nawir dan Herman) melanjutkan perjalanan ke puncak bukit. Para ukhti (Sudar, Evhy, Rheni + Idar (bukan ukhti)) yang sedang berpuasa sudah tidak sanggup lagi untuk mencapai puncak, akhirnya mereka memutuskan untuk beristirahat saja di bawah pohon teduh (bukan pohon jomblo). Bagi yang tidak berpuasa dan mengkonsumsi cemilan atau minuman dan menghabiskannya disini, harap untuk tidak membuang sampahnya sembarangan. Karena untuk ketempat ini tidak dipungut biaya, dan tidak ada tukang kebersihan, penikmat alam tidak akan berani mengotorinya dengan sampah.

Atas (Nawir- Syukur-Akbar-Herman-Bill-Idar), Bawah (Rheni -Sudar - Evi)


Langkah yang tertatih, akhirnya bisa dikumpulkan hingga puncak, Subhanallah amazing view lebih dinikmati disini. Suasana timur dengan sungai, hutan dan jejeran pegunungan menjadi rangkaian gambar yang indah. Menilik ke arah barat tidak kalah kerennya. Suasana kota Barru dengan rumah rumah warga yang berjejer laksana itik yang berjalan di pematang sawah melengkapi pemandangan laut yang membentuk garis horisontal di penghujung pandangan. Matahari yang berada setinggi kurang lebih tiga puluh derajat lagi membuat kilauan cahaya dari arah laut, menerpa mata dan untuk memandangnnya dibutuhkan tangan yang menempel di atas mata (laksana seorang pelaut yang mencari daratan). Rasanya ingin berlama lama dan bangun camp disini. Tapi libur hanya sehari.




Setelah puas berfoto ria, rombongan anak muda yang mencari ketenangan di alam ini memutuskan untuk pulang, karena sore telah menyambut dengan sekias senyum.



Ceritanya lagi di rel - Bill - Nawir - Syukur - Herman - Akbar
Di perjalanan ke poros kami melewati rel kereta api, Maklumlah di sulawesi ini rel pertama yang dibuat, tak ada salahnya berfoto di atas rel ini. dan lihatlah aksi anak muda yang sebenarnya sudah sering melihat rel dijawa (Bill) hehe. Dia lebih antusias. Selang berapa menit menikmati pemotretan ala cover boy disini kembali kami lajukan motor ke arah selatan, melewati penjual dange di Segeri dan Jeruk di Ma’rrang. Tak lupa mereka membungkus sebagai oleh oleh atas perjalanan singkat hari ini.



Terima Kasih !!!


25 Mei 2017

Perjalanan ke Puncak Makaroewa Camba Maros

15:53 0

Hari ini, Kamis 12 Mei 2017. Bertepatan dengan tanggal merah yang selalu dinanti nantikan oleh para pekerja dan anak sekolahan. Suasana hari tampak bersahabat, sehangat perjanjian yang telah disepakati seminggu yang lalu.

Tujuan utama perjalanan ini adalah Puncak Makkaroewa atau puncak telkom yang terletak di Dusun Nahung, Desa Labuaja Kecamatan Cenrana Kabupaten Maros. Tempat ini baru baru saja jadi trend anak muda kekinian, disamping suasana alamnya yang begitu indah, letaknya juga yang berada di puncak memberikan kesan seperti halnya mendaki ke puncak gunung.



Meet point kali ini di rumah Haerul (Manuruki – Poros Bt. Murung km 7), sembari menunggu teman yang berangkat dari Kab. Pangkep kami mengecek kendaraan apakah layak pakai atau tidak. Dari aksi cek per cek, ada satu motor yang di nyatakan tidak bisa digunakan. Hal ini disinyalir karena sudah beberapa tahun akinya belum diganti dan harus melewati masa rehabilitasi di bengkel terdekat. Sekian laporan dari kami.



Lanjut, Siang itu fix berangkat pada pukul 10.00 wita, molor dari perkiraan awal yaitu pukul sembilan. Tapi tidak masalah, jam karet sudah sering kami temui.  Kurang dari sejam perjalanan, melewati liku jalanan menanjak dan sesekali tikungan delapan, tak terasa akhirnya sampai juga. Di Kecamatan Cenrana, bukan hanya puncak Makkaroewa yang menjadi tujuan utama kami, tapi disana, dirumah Mayang sari ia telah menyediakan beberapa makanan lezat yang mengisi perut perut lapar kami. Rumah mayang yang satu jalur ke wisata tanah tengah membuat kami menambah jadwal kunjungan hari ini. Melalu grup whatsapp Mereka saling share tempat tempat yang hendak dikunjungi. Dan akhirnya yang fix hanya air terjun Maddenge dan puncak makkaroewa saja, itu karena keterbatasan waktu sehari yang kami gunakan.



Trip baru kami mulai ba’dda duhur. Setelah puas mengisi bahan bakar untuk energi tubuh, kami yang sejumlah enam belas orang kurang separuh dari teman kelas di  keuangan dua,  melaju dengan kecepatan santai. Tujuan awalnya di Air terjun Maddenge’/Bantimurunge. Sebelumnya sudah pernah berkunjung kesini sekitar setahun yang lalu, tapi karena ada beberapa teman yang belum pernah, akhirnya ke sini lagi. Ternyata jalurnya sudah diperbaiki dan lebih memanjakan pengunjung. Untuk sampai ke puncak air terjun yang lebih mirip tebing ini tidak perlu menghabiskan waktu banyak lagi, mungkin sekitar lima belas menit.                             
Air Terjun Maddenge / Bantimurunge
                                                 



Setelah puas mengambil beberapa gambar dan menikmati hembusan rintik air terjun kami memutuskan melanjutkan perjalanan ke tujuan utama. Cukup dekat karena tak sampai menyebrang kecamatan. Dari sisi jalan, dari arah Bone jalur masuk puncak makkaroewa ini ditandai dengan palang besio disisi kanan jalan. Apabila berangkat dari arah Maros, tidak jauh dari kantor desa Labuaja anda akan menemui jalur ini. Kalau bingung, silahkan saja bertanya ke warga setempat, katakan saja hendak ke puncak telkom.



Perjalanan ke puncak, dengan trek mendaki terus sampai ujung. Asli. Jadi, usahakan motor anda dalam keadaan sehat wal’afiat. Udara sudah terasa dingin ketika mendekati puncak. Di tempat parkir, akan ada panitia atau pengelola yang umumnya anak muda yang berkomunikasi dengan pengujung. Tidak dipasang tarif berapa biaya masuknya, hanya dari keikhlasan pengunjung saja.



Semilir angin yang sejuk merasuk tapi tak sampai ketulang, saya kurang paham bagaimana tulang saya mampu merasakan angin. Tapi yang saya rasakan di puncak ini benar benar sejuk. Bahkan siang ini sekitar pukul 15.00 wita disaat matahari masih cerah udara sangat bersahabat. Rindangnya pohon pinus dan indahnya pemandangan kota  camba dari puncak ini memberikan ketenangan jiwa. Beberapa pengunjung asik berselfie ria, ada yang membaca, ada yang ngecamp, aa yang mengobrol, dan masih banyak lagi aktivitas yang dilakukan disini. Kebetulan pada hari itu, ada pameran buku jadi cocoklah menikmati alam sambil bercengkarama dengan buku. Ukhi’, teman SMK,  salah seorang dari pengelola yang tergabung dalam anggota form pemuda Labuaja mengaku senang bisa menjadikan tempat ini jadi wisata baru dikalangan anak muda. Terbukti pengunjung yang terus bertambah, karena pengelola yang kreatif, mengadakan basar dan konser musik hutan di tempat ini.



Ada banyak lokasi untuk mengambil gambar, Silahkan saja datang dan nikmati sendiri.

 
Teman trip

Tak sempat menunggu senja di tempat ini karena hari kian menenggelamkan kenangan. Membawa cerita cerita indah yang sengaja dirangkai oleh kaki, tangan dan hati manusia. Semoga manusia senantiasa bersyukur atas nikm


at yang diberikan Allah swt.

Like this ya