Nenek Patih dan Pesona Bukit Maddo Barru

16:27 0


Hujan masih lembab membasahi subuh ini. Suasana pagi masih redup bersama sayup sayup lantunan adzan yang baru saja terdengar.



Setelah proses ngojek selesai, sobat sobat fillah yang telah dikabari semalam sebelumnya sudah siap untuk menarik putaran gas di lengan motornya.  Sudar dkk yang lain star dari masjid Almarkas Makassar, Bill dan Herman dari Villa mutiara, Akbar dari Bosowa. Nawir, Mikha dll menunggu di Pangkep. Untuk menyatukan beberapa lokasi yang jaraknya bisa membentuk rasi bintang apabila dilihat dari Google Map, butuh kesabaran hingga akhirnya terkumpul di Maros pukul 11.30 wita.



Perjalanan pun dimulai dengan arus Maros – pangkep yang cukup lancar, hingga akhirnya tiba di meet point “taman musafir Pangkep” istirahat sejenak mengingat sudah masuk waktu dzuhur.



Tujuan awal hari ini adalah ke Ma’rang kab. Pangkep, sekedar jumpa dengan nenek patih, yang tinggal sendiri. Sudah tua dan tinggal sendiri, astagfirullah. Dia bercerita tentang masa mudanya, bagaimana ia bisa ke Malang-Surabaya, menikah dengan pemuda Pinrang, pandangan pertama di Pelabuhan Makassar dan banyak kisah menarik yang ia ceritakan dengan bahasa campuran bugis-indonesia, tapi lebih sering memakai bahasa bugis.

Suasana kampung yang menjadi penghasil jeruk terbesar di Kabupaten Pangkep ini terasa bersahabat, karena sobat sobat fillah antusias mendengar cerita dari pejalan senior ini.



Nenek Patih - Pejalan Senior
Setelah puas menikmati (dengan pandangan) buah jeruk yang ada di depan rumah setiap warga disini, muncul sebuah saran yang melenceng dari tujuan sebelumnya yang mengajak ke leang surukang. “Bukit ma’ddo”, adalah tujuan selanjutnya, sebuah gambar di instagram yang memikat hati untuk dikunjungi. Sebenarnya sudah masuk ke daftar kunjungan bulan lalu setelah mengunjungi air terjun tomagelli, tapi batal karena waktu tidak merestui.



Kembali kami melajukan sepeda motor ke arah utara pulau sulawesi. Masuk di kabupaten Barru dengan panorama laut disebelah kiri membuat perasaan terasa tersungut. Bukit Ma’ddo terletak di dusun Maddo Kecamatan Tanete Rilau Kabupaten Barru. Jalurnya apabila berjalan dari arah Makassar, sebelum jembatan kembar-Bottoe terdapat masjid Mujahidin-Bottoe berwarna hijau yang cukup besar. Di depan masjid terdapat belokan ke kanan, kembali mengarahkan motor ke selatan, dan apabila anda menemukan lorong pertama kekiri setelah belok tadi, silahkan masuki lorong tersebut. Kami coba bertanya kepada warga pemilik bengkel yang ada di pertigaan jalan, tentang keberadaan bukit yang kami sebut dengan bukit ma’ddo ini. Tapi warga lebih mengenalnya dengan bukit teletubies. Setelah dapat petunjuk bahwa jarak sekitar kurang lebih 4 km dari bibir jalan poros melewati jalanan beraspal dan di penghujung jalan sebelum lokasi dasar bukit kondisi menanjak dan sesekali berlubang akan menjadi tantangan.



Motor diparkir didasar bukit, dan kembali melanjutkan langkah dengan semangat. Untuk mendapatkan view yang menarik dibutuhkan kesabaran dan tenaga untuk mencapai pertengahan bukit. Nah, dari posisi tengah ini, background sungai yang berbentuk S mengecil yang menjadi pengikat hati pengunjung, bisa didapatkan. Setelah puas jeprat jepret, kami berlima (saya, Akbar, Bill, Nawir dan Herman) melanjutkan perjalanan ke puncak bukit. Para ukhti (Sudar, Evhy, Rheni + Idar (bukan ukhti)) yang sedang berpuasa sudah tidak sanggup lagi untuk mencapai puncak, akhirnya mereka memutuskan untuk beristirahat saja di bawah pohon teduh (bukan pohon jomblo). Bagi yang tidak berpuasa dan mengkonsumsi cemilan atau minuman dan menghabiskannya disini, harap untuk tidak membuang sampahnya sembarangan. Karena untuk ketempat ini tidak dipungut biaya, dan tidak ada tukang kebersihan, penikmat alam tidak akan berani mengotorinya dengan sampah.

Atas (Nawir- Syukur-Akbar-Herman-Bill-Idar), Bawah (Rheni -Sudar - Evi)


Langkah yang tertatih, akhirnya bisa dikumpulkan hingga puncak, Subhanallah amazing view lebih dinikmati disini. Suasana timur dengan sungai, hutan dan jejeran pegunungan menjadi rangkaian gambar yang indah. Menilik ke arah barat tidak kalah kerennya. Suasana kota Barru dengan rumah rumah warga yang berjejer laksana itik yang berjalan di pematang sawah melengkapi pemandangan laut yang membentuk garis horisontal di penghujung pandangan. Matahari yang berada setinggi kurang lebih tiga puluh derajat lagi membuat kilauan cahaya dari arah laut, menerpa mata dan untuk memandangnnya dibutuhkan tangan yang menempel di atas mata (laksana seorang pelaut yang mencari daratan). Rasanya ingin berlama lama dan bangun camp disini. Tapi libur hanya sehari.




Setelah puas berfoto ria, rombongan anak muda yang mencari ketenangan di alam ini memutuskan untuk pulang, karena sore telah menyambut dengan sekias senyum.



Ceritanya lagi di rel - Bill - Nawir - Syukur - Herman - Akbar
Di perjalanan ke poros kami melewati rel kereta api, Maklumlah di sulawesi ini rel pertama yang dibuat, tak ada salahnya berfoto di atas rel ini. dan lihatlah aksi anak muda yang sebenarnya sudah sering melihat rel dijawa (Bill) hehe. Dia lebih antusias. Selang berapa menit menikmati pemotretan ala cover boy disini kembali kami lajukan motor ke arah selatan, melewati penjual dange di Segeri dan Jeruk di Ma’rrang. Tak lupa mereka membungkus sebagai oleh oleh atas perjalanan singkat hari ini.



Terima Kasih !!!


25 Mei 2017

Perjalanan ke Puncak Makaroewa Camba Maros

15:53 0

Hari ini, Kamis 12 Mei 2017. Bertepatan dengan tanggal merah yang selalu dinanti nantikan oleh para pekerja dan anak sekolahan. Suasana hari tampak bersahabat, sehangat perjanjian yang telah disepakati seminggu yang lalu.

Tujuan utama perjalanan ini adalah Puncak Makkaroewa atau puncak telkom yang terletak di Dusun Nahung, Desa Labuaja Kecamatan Cenrana Kabupaten Maros. Tempat ini baru baru saja jadi trend anak muda kekinian, disamping suasana alamnya yang begitu indah, letaknya juga yang berada di puncak memberikan kesan seperti halnya mendaki ke puncak gunung.



Meet point kali ini di rumah Haerul (Manuruki – Poros Bt. Murung km 7), sembari menunggu teman yang berangkat dari Kab. Pangkep kami mengecek kendaraan apakah layak pakai atau tidak. Dari aksi cek per cek, ada satu motor yang di nyatakan tidak bisa digunakan. Hal ini disinyalir karena sudah beberapa tahun akinya belum diganti dan harus melewati masa rehabilitasi di bengkel terdekat. Sekian laporan dari kami.



Lanjut, Siang itu fix berangkat pada pukul 10.00 wita, molor dari perkiraan awal yaitu pukul sembilan. Tapi tidak masalah, jam karet sudah sering kami temui.  Kurang dari sejam perjalanan, melewati liku jalanan menanjak dan sesekali tikungan delapan, tak terasa akhirnya sampai juga. Di Kecamatan Cenrana, bukan hanya puncak Makkaroewa yang menjadi tujuan utama kami, tapi disana, dirumah Mayang sari ia telah menyediakan beberapa makanan lezat yang mengisi perut perut lapar kami. Rumah mayang yang satu jalur ke wisata tanah tengah membuat kami menambah jadwal kunjungan hari ini. Melalu grup whatsapp Mereka saling share tempat tempat yang hendak dikunjungi. Dan akhirnya yang fix hanya air terjun Maddenge dan puncak makkaroewa saja, itu karena keterbatasan waktu sehari yang kami gunakan.



Trip baru kami mulai ba’dda duhur. Setelah puas mengisi bahan bakar untuk energi tubuh, kami yang sejumlah enam belas orang kurang separuh dari teman kelas di  keuangan dua,  melaju dengan kecepatan santai. Tujuan awalnya di Air terjun Maddenge’/Bantimurunge. Sebelumnya sudah pernah berkunjung kesini sekitar setahun yang lalu, tapi karena ada beberapa teman yang belum pernah, akhirnya ke sini lagi. Ternyata jalurnya sudah diperbaiki dan lebih memanjakan pengunjung. Untuk sampai ke puncak air terjun yang lebih mirip tebing ini tidak perlu menghabiskan waktu banyak lagi, mungkin sekitar lima belas menit.                             
Air Terjun Maddenge / Bantimurunge
                                                 



Setelah puas mengambil beberapa gambar dan menikmati hembusan rintik air terjun kami memutuskan melanjutkan perjalanan ke tujuan utama. Cukup dekat karena tak sampai menyebrang kecamatan. Dari sisi jalan, dari arah Bone jalur masuk puncak makkaroewa ini ditandai dengan palang besio disisi kanan jalan. Apabila berangkat dari arah Maros, tidak jauh dari kantor desa Labuaja anda akan menemui jalur ini. Kalau bingung, silahkan saja bertanya ke warga setempat, katakan saja hendak ke puncak telkom.



Perjalanan ke puncak, dengan trek mendaki terus sampai ujung. Asli. Jadi, usahakan motor anda dalam keadaan sehat wal’afiat. Udara sudah terasa dingin ketika mendekati puncak. Di tempat parkir, akan ada panitia atau pengelola yang umumnya anak muda yang berkomunikasi dengan pengujung. Tidak dipasang tarif berapa biaya masuknya, hanya dari keikhlasan pengunjung saja.



Semilir angin yang sejuk merasuk tapi tak sampai ketulang, saya kurang paham bagaimana tulang saya mampu merasakan angin. Tapi yang saya rasakan di puncak ini benar benar sejuk. Bahkan siang ini sekitar pukul 15.00 wita disaat matahari masih cerah udara sangat bersahabat. Rindangnya pohon pinus dan indahnya pemandangan kota  camba dari puncak ini memberikan ketenangan jiwa. Beberapa pengunjung asik berselfie ria, ada yang membaca, ada yang ngecamp, aa yang mengobrol, dan masih banyak lagi aktivitas yang dilakukan disini. Kebetulan pada hari itu, ada pameran buku jadi cocoklah menikmati alam sambil bercengkarama dengan buku. Ukhi’, teman SMK,  salah seorang dari pengelola yang tergabung dalam anggota form pemuda Labuaja mengaku senang bisa menjadikan tempat ini jadi wisata baru dikalangan anak muda. Terbukti pengunjung yang terus bertambah, karena pengelola yang kreatif, mengadakan basar dan konser musik hutan di tempat ini.



Ada banyak lokasi untuk mengambil gambar, Silahkan saja datang dan nikmati sendiri.

 
Teman trip

Tak sempat menunggu senja di tempat ini karena hari kian menenggelamkan kenangan. Membawa cerita cerita indah yang sengaja dirangkai oleh kaki, tangan dan hati manusia. Semoga manusia senantiasa bersyukur atas nikm


at yang diberikan Allah swt.

Pesona Hutan Batu Pangkep

23:58 0

Hantaman keras berbuah manis. Selepas terjatuh, Ia bangkit kembali sebagai seorang pemuda yang selalu kegirangan mendapati tempat tempat baru yang fenomenal dikalangannya. Alam misalnya, dia sangat suka menjelajah alam. Tapi tak sebegitu dalam rasa sukanya. Karena ia hanya manusia biasa yang punya keterbatasan. Keterbatasan waktu paling tepatnya.



Sabtu, 25/03/2017. Waktu itu menunjukan pukul 16.00 memasuki jalan poros ke gunung Bulusaraung Kabupaten pangkep. Tapat samping indomaret, ba’dda ashar. jadilah keempat pemuda yang baru saja kegirangan karena dosen tak mengajar ini menelusuri tempat yang tenar belum sebulan ini. Hutan batu Pangkep mereka menyebutnya. Tepatnya di Dusun Bonto Bonto Kelurahan Balleangin Kecamatan Balocci Kabupaten Pangkep (menurut info warga sekitar). Letaknya pada pertigaan yang kebeberapa ini, terdapat sebuah masjid tingkat dua yang bagian atasnya belum rampung, silahkan belok kanan dari arah jalan poros.



Kami sudah familiar dengan hutan batu, karena di Maros, ada hutan batu yang  tidak kalah fenomenalnya (baca : ramang ramang). Tapi hutan batu kali ini bertengger di tengah cagar alam / kawasan wisata alam Bantimurung Bulusaraung. Model batuannya pun tak bedah jauh dari yang ada di maros, (namanya juga karst). Hanya saja ketajaman irisannya jika kita terjatuh akan berakibat fatal.



Disarankan apabila anda mengunjungi tempat ini harap menggunakan alas kaki dari bahan tebal, karena jika hanya menggunakan spon sandal yang tipis maka bisa jadi kaki anda tertusuk bebatuan yang runcing.



Ada beberapa spot menarik untuk pengambilan gambar gaya anak alay jaman sekarang. Misalnya saja diatas bebatuan yang paling tinggi dengan background pemandangan gunung. Ada yang mengambil background bebatuannya, ada yang ngambil background  area persawaan atau kawasan alam lainnya.



Motor diparkir di bahu jalan. Biasanya hanya dijaga oleh anak muda setempat, kita hanya mempersiapkan ongkos parkir seadanya. Dan tak ada biaya masuk untuk ketempat ini karena pemerintah belum meresmikan kawasan ini sebagai kawasan wisata alam resmi layaknya Leang Leang.



Melewati pematang sawah, menyebrangi saluran air yang berukuran kecil sebanyak dua kali. Ketika melewati saluran air yang pertama, disana terdapat rumah nenek mumu yang tinggal sendirian. Jadi, diharapkan kepada pengunjung, agar bisa melihat keadaannya sekaligus mendoakan agar nenek mumu senantiasa diberi kesehatan. Lebih diharapkan lagi untuk memberikan bantuan sebisanya.



Alam mengajarkan arti kesyukuran. Jika kamu masih bergelar sebagai hamba, bersyukurlah tidak hanya dengan ucapan  tapi dengan tindakan, misalnya sholat, ngaji, puasa, sedekah berbuat baik kepada alam dengan menjaganya. Itu quotesnya hari ini.



Sayang sekali, telusur hutan batu  ini tak cukup lama, karena mendung yang sedari tadi menjadikan tempat ini sebagai sasaran utama sepertinya sudah semakin garang apalagi melihat kami  yang ada disini. Akhirnya ia menumpah ruahkan air hujan yang susah payah ia ambil di laut. Untuk membasahi yang seharusnya ia basahi.





Menyapa Alam di Danau Tanralili Kabupaten Gowa

08:11 0
Danau Tanralili

Kirim aku kedalam bait bait penuh makna dan bawalah daku terbang bersama burung dewata mengitari lingkaran air surga dari mata air salsabilah yang syahdu di surga sana. Tujuan liburan kali ini adalah danau tanralili. Sebuah surga kecil di lingkar kota Malino Kabupaten Gowa. Berangkat dari meet point di rumah Budi pada pukul 08.00 melalui jalur pintas, Batangase jalur Kostrad kariango, melalui pasar carangki belok kanan menuju Sipur dan tak lama kemudian meyatukan diri dengan pengendara lain di jalur Poros Malino.

Keramaian mulai terasa ketika memasuki jalan poros Malino. Memang pada saat liburan akhir pekan seperti ini, banyak yang suka nge-camp ataupun sewa villa di lokasi wisata alam yang terkenal dengan hawa dinginnya ini. Tidak begitu macet, tapi kami menghabiskan waktu sekitar kurang lebih tiga jam perjalanan. Hingga akhirnya tiba di pos registrasi.

Oiya, Jika ada yang bertanya dimana jalur menuju lokasi danau Tanralili ini, anda bisa memasuki jalur menuju air terjun Takapala, dan air terjun ketemu jodoh. Jika anda belum pernah ke air terjun ini, tenang saja, tak jauh dari pertamina akan ada papan petunjuk yang terpampang di tepi jalan poros yang menandakan arah menuju air terjun Takapala.

Letak strategis danau tanralili berada di kaki gunung bawakaraeng, pantas saja kabut sangat menggumpal kala di puncak puncak pendakian. Setelah menghabiskan waktu kurang lebih sepuluh menit di pos registrasi, kami melakukan doa bersama dan memulai perjalanan. Ada beberapa aturan untuk bisa ngecamp di danau tanralili, diantaranya dilarang membawa hammock, itu dikarenakan pohon pohon yang ada di sekitar danau tanralili memang masih kecil, jadi apabila bergelantungan dengan hammock disini maka akan mengganggu pertumbuhan pohon. Juga dilarang menyalakan api unggun karena rawan kebakaran, apalagi saat musim kemarau. Yang paling penting adalah dilarangnya laki laki dan perempuan yang bukan mahram menginap di satu tenda yang sama. Hal itu untuk mendukung terjadinya hal hal yang tidak sewajarnya. Syar’i banget. Salut sama pengelolah tempat wisata alam ini.

Perjalanan kali ini kami berempat, bersama Nawir, Ariawan dan Rahma (sepupu). Awalnya merencakan perjalanan ke lembah ramma, sesuai kesepakatan seminggu sebelumnya dengan Sudar, Evi, Idar dan teman teman yang lainnya.  Tapi, karena minim pengetahuan kami pikir lembah ramma sama dengan danau tanralili, apalagi Sudar dan Evi yang sudah berangkat sehari sebelumnya membuat kami semakin jauh dari haluan. Kami hanya menerka nerka dan memulai perjalanan dengan bismillah.

Perjalanan cukup santai, karena siang itu matahari tak begitu terik. Hanya pada langkah awal saja matahari menyengat, setelah itu sesekali awan mendung dan sesekali kabut yang menemani. Kami mulai berjalan di pukul 11.00 dengan membawa carel pada masing masing punggung yang begitu rapuh ini. Di perjalanan, begitu banyak pemandangan air terjun, baik yang dekat maupun hanya terlihat dari kejauhan. Ada yang bertingkat, ada pula yang terjal terjatuh, menghasilkan aliran sungai sungai kecil dari muaranya. Pada sisi kiri perjalanan terdapat sungai besar yang airnya sangat minim, padahal  pada saat kunjungan kesini musim belum kemarau parah hingga menyisahkan pemandangan bebatuan dan pasir yang menambah keelokan wilayah puncak kabupaten gowa.

Diperjalanan tidak usah begitu khawatir tersesat, karena jalur ke danau tanralili itu terbuka, dan banyak traveller yang lalu lalang pulang dan pergi. Ada pula beberapa warga yang berjalan berkelompok, entah kemana dan dari mana, saya tak sempat bertanya karena langkah mereka sedikit lebih cepat walaupun kebanyakan dari mereka kelihatan sudah tua.

Tanjakan pertama cukup menguras stamina, apalagi dengan carel yang lumayan berat diisi dengan air dan beberapa makanan serta perlengkapan camp. Tapi itu mampu  terlewati dengan bahu membahu serta saling menyemangati.
Perjalanan dua jam berlalu tanpa terasa, seolah lupa kalau ternyata masih berjalan di dunia, bukan akhirat. Berjalan dengan tertatih karena kami belum terlatih, tapi langkah kami pasti meskipun tujuan masih diterka terka. Di puncak kedua dari akhir, kabut tebal menyelimuti, sedikit mengganggu penglihatan yang memang payah ini. Akhirnya lelah yang disengaja harus dilawan untuk mempercepat langkah menuju tujuan utama. Pada tanjakan parah terakhir, belok kanan dan mata berbinar melihat sebuah kumpulan air yang menghijau. Alhamdulillah sudah terlihat. Tapi berada dipuncak ini seolah mengajak untuk istirahat sejenak, sembari menikmati gerimis yang basah, (iya basah kan air!). Sesekali mengambil pose terbaik dan bergantian mengambil gambar.

Tinggal beberapa langkah lagi sudah benar benar berada di danau tanralili. Pukul 13.30 dan akhirnya *hoaamm tiba juga. Suasana masih basah dari gerimis yang menyelimuti barusan, kabut pun perlahan mulai berjalan, ada yang menjauh ada juga yang mendekat.

Setelah sampai, karena nawir tiba lebih dulu, ia mencari Sudar, Evi, Idar dan beberapa teman lainnya yang diajak janjian. Ternyata nihil. Kami salah, ini bukan lembah ramma’. Ini Danau tanralili, surga kecil yang menyaingi ranu kumbolonya mahameru.  

Karena ketiga teman terlihat sudah kelelahan, maka kami memutuskan untuk istirahat sejenak, bertanya jalur menuju lembah ramma dari beberapa tenda yang sudah berada lebih dulu disini. Tenda pertama, tidak tahu, kedua pun begitu tenda ketiga juga tidak tahu tapi mengenal salah seorang warga yang kebetulan berada disekitar danau ini, “anda bisa bertanya kepada orang tua itu” katanya sambil celingak celinguk mencari seseorang yang disebutnya orang tua tadi. Karena lama tidak datang juga, akhirnya saya memutuskan mendatangi tenda yang ada diseberang sungai kecil yang kelihatannya lebih ramai.

“maaf  bolehji ber tanya, dimana jalur ke lembah ramma’?”  beberapa dari mereka menjawab bergantian, menjelaskan bahwa jalur ke ramma dari danau tanralili menghabiskan waktu sekitar dua jam lagi dari sini. Dan menyeberangi gunung serta sungai yang alirannya cukup ganas kalau musim hujan di maret seperti ini. Mereka sekelas remaja dan pemuda, wellcome dan berbaik hati menawari kami bergabung dengan kelompok mereka. Akhirnya karena melihat kondisi tenaga, cuaca dan pengetahuan yang minim tentang pendakian dadakan seperti ini, akhirnya kami memutuskan untuk ngecamp disini saja, karena awalnya bayangan kami memang lembah ramma itu disini, sama dengan danau tanralili. Hehe.

Saat setelah mendirikan tenda, mendung sudah menyelimuti langit yang terasa lebih dekat disini, dan tak lama kemudian hujan deras mengguyur, membasahi nafas yang sedari tadi tersengal. Perbincangan hangat ditemani kopi hangat dan cemilan yang kami bawa. Bersama dengan keluarga baru yang akan menemani dua hari satu malam kami disini. Mereka adalah mahasiswa dan anak SMA serta SMP yang satu kampung membentuk perkumpulan dan menamainya dengan MMJ (Mange Mange Jappa). Ma’ddi nama kepala sukunya, dan senang hati menyambut kami. Ini yang paling saya sukai dari setiap pendakian, bertemu dengan orang orang baik yang belum pernah ditemui sebelumnya tetapi sudah seperti keluarga dekat.


Sore yang masih teduh dari hujan yang sudah berakhir. Masih ada beberapa waktu ba’da ashar ini untuk explore bagian bagian kecil di surga ini. Mengambil beberapa peralatan untuk pose foto dan tak lupa baju tebal karena dingin. Terlihat beberapa pendaki lain baru sampai dan mencari lokasi untuk mendirikan tenda. Tak lama setelah itu malam pun menghampiri, semesta bertasbih untuk magrib yang sendu. Walaupun sunset tak terlihat hari ini, tapi pegunungan batu yang lembut ditumbuhi rerumputan dibalut kabut dari sisa hujan tetap saja bertengger dengan kekar membawahi air terjun yang terdengar bersahutan menyambut manusia manusia yang kurang piknik dan berusaha mensyukuri hidup melalui alam.

Malam pun semakin larut, bakwan yang dibuat keluarga baru ini membuat malam terasa nikmat. Di pertengahan malam mereka menghabiskan waktu untuk mendiksar anggota baru dari perkumpulannya dan sembari terdengar sahut menyahut dari beberapa pendaki yang baru datang dan mencari temannya. “Semoga teman kami yang ada di lembah ramma tidak khawatir tentang keberadaan kami” hanya itu doa yang selalu terucap dari lisan yang hina ini.

Hawa dingin di subuh itu menusuk sampai ketulang. Ingin rasanya pagi segera tiba menjemput jiwa jiwa yang kelelahan dibawah tenda kusam yang menyelamatkan kami dari hujan dan angin. Setelah pagi benar benar menjemput dan cahaya sudah semburat. Ternyata suara yang sahut menyahut semalam menghasilkan beberapa tenda yang sudah tak terhitung. Aku dan Nawir mencoba mencari spot baru untuk mengambil gambar. Akhirnya tiba di puncak lagi. Pemandangan danau tanralili benar benar terlihat dari puncak ini, danau yang bentuknya hampir menyerupai kupu kupu dan sayapnya yang dimekarkan.

Sungguh indah alam yang diciptakan Allah, alam sebagai sarana untuk tafakkur (mendekatkan diri kepada Allah dengan melihat ciptaanya) bukannya takabbur dari apa yang diucapkan.

Perjalanan kali ini mengajarkan akan indahnya berbagi. Saling mengenal, mengenal sesama manusia, mengenal alam dan mengenal pencipta sang ilahi rabbi.

Danau Tanralili 4 – 5 Maret 2017

Like this ya