Atmosfer Kampus

19:02 3
Kembali ke rutinitas. 

Hari ini atmosfer yang sama akan kembali kurasakan. Disaat hari kembali membuatku menjadi seorang pengembara di dunia kampus (sok mahasiswa ji). Iya berlagak menjadi seorang mahasiswa adalah hal yang sedikit tidak gampang. Selain cemoohan “penghabis uang”. Menjadi mahasiswa juga harus terlihat sok intelektual. Bukan suatu kutukan tapi menuntut ilmu adalah usaha yang beriringan dengan ibadah. Mulia sekali. 

Tampil sangar, dengan wajah yang dibalut dengan emosi dan mahal senyum kepada mahasiswa baru sepertinya menjadi hal yang harus dilakukan oleh mahasiswa tingkat akhir. Seolah dengan rambut yang “gondrong” akan membuktikan bahwa dirinya tidak pernah cukur selama tiga tahun terakhir. Rambut sebahu kata ustad Hannan Attaki adalah sunnah nabi. Setidaknya si gondrong (yang tidak acak acakan) berusaha mengikuti sunnah, meskipun hanya lewat rambut. 

Sebenarnya, tidak usah sesangar itu. Tampillah ramah, murahlah senyum. Sesungguhnya sedekah yang bisa dilakukan oleh orang miskin seperti kita, salah satunya adalah senyum. Bukan begitu?. 

Sepertinya kata kata “Hubungi dulu dosen ehh..” Akan kembali terdengar, ketika mahluk kesepian nan kebosanan sudah tidak kuat lagi menunggu. Benar, menunggu adalah pekerjan yang membosankan tapi bukankah menunggu jodoh sambil memperbaiki diri adalah pekerjaan yang cukup mulia juga?. Ehh Baper.  

Tuntutan judul skripsi akan segera menanti seiring dengan tuntutan pertanyaan kapan nikah yang menjelang bulan muharram ini sangat gencar dikalangan seangkatan. Benar benar cobaan yang bisa teratasi dengan berusaha tampil sibuk dan mengabaikan pertanyaan itu. Meskipun serangan pertanyaan itu tak henti hentinya menghujam diseluruh penjuru aktivitas. Cobalah berusaha tabah.
Menjadi mahluk tertua dikampus, setelah dosen dan bangunan bangunan angkernya. Mungkin bisa membuatmu sedikit dewasa. Setidaknya dewasa dalam bertindak tidak semena mena kepada orang yang bertindak semena mena kepada kita. Sipakatau (memanusiakan manusia), salah satu slogan Bugis Makassar yang bisa dipakai untuk menghargai orang lain. 

Harapannya semoga dapat pembimbing yang baik. Karena sejatinya yang tua akan dihargai jika yang muda disayangi. Mari kita saling menyayangi. ... Apakah  -_-

Hati Hati dengan Para Pembunuh

05:23 1
“Saya tidak segan segan membunuh jika ada yang merusak rasa nyamanku”

Tiba tiba saja ucapan itu terlontar dari mulut saya, entah karena saya merasakan sesuatu yang sangat tidak nyaman karena tingkah mereka yang mempermainkan atau mereka yang dengan sengaja memaka saya untuk berucap demikian. 

Foto terbaik yang telah kuperoleh dengan segenap tenaga dan cucuran keringat berjalan selama dua hari yang membuat betisku terasa keram dan butuh pijitan yang serius ditambah lagi beban carel dipungung yang membuatku seperti ingin mengkonsumsi susu penguat tulang yang di siarkan dengan heboh di iklan iklan tv. Tiba tiba saja kau menghapus foto itu. Sungguh kejam.
Saya benar benar tidak segan jika harus membunuh.

 Maaf, Bukan membunuh pelaku yang menghapusnya tapi membunuh nyamuk yang menggigit pelaku itu. Sekarang dia menginap dirumahku disaat nyamuk sedang berpesta darah manusia. Saya tidak tega jika nyamuk itu berani menyentuhnya. Segera kunyalakan obat yang berlabel obat nyamuk. Mungkin dengan memberikannya obat, kuberharap nyamuk itu bisa sehat dan berpikiran sehat (postif) untuk tidak menyakiti manusia dengan gigitannya dan mengambil darah manusia bak petugas PMI. 

Heran, jika ada manusia yang dengan tega memperlakukan manusia lain, bak nyamuk yang kuceritakan diatas. Manusia yang membunuh manusia lain tanpa sebab, setahuku dalam islam itu akan mendapat ganjaran yang luar biasa menyakitkan. Apalagi cara membunuhnya yang tidak manusiawi. Sungguh kejam. 

Memperlakukan manusia lain dengan tidak manusiawi saja itu sudah sangat buruk. Apalagi membunuh dengan cara yang tidak manusiawi. Lagi lagi persoalan agama. Kemarin malam di acara tv,  ada yang warga non islam yang menyatakan “orang yang memperlakukan manusia dengan tidak manusiawi itu bukan orang yang beragama, karena ajaran setiap agama adalah mengajarkan kasih sayang dan tingkah laku yang baik kepada semua orang. 

Semoga mereka yang berbuat kejam, segera sadar. Mari kita doakan.

Atas dasar perlakuan keji dan tindak semena mena dengan dasar perebutan daerah kekuasaan ataupun ketersinggungan perasaaan. Yang telah berlangsung bertahun tahun, seingatku di Indonesia juga pernah. Banyak komunitas, baik yang islam ataupun non islam rela meluangkan waktunya untuk peduli kepada mereka yang tersiksa. Mereka yang direbut haknya.  Para relawan ini berdalil bahwa “cukup menjadi manusia untuk merasakan kesedihan mereka”. Memang betul, mereka sangat manusiawi. Tak peduli dari golongan apa, agama apa, komunitas apa, mereka semua memberikan bantuan sebisanya. Minimal dengan berdoa. 

Semoga orang orang yang mempunyai rasa kepedulian yang tinggi bisa terus menciptakan rasanya itu, paling tidak mewariskan kepada keturunan ataupun orang orang terdekatnya. Amin.

Pesona Gunung Bawakaraeng di Ketinggian 2830 MDPL

02:23 0


H-1, Besok sudah berangkat. Beberapa persiapan harus dirampungkan malam ini. Sebagai pemenuhan kebutuhan konsumsi Asrul dan Wawan sebagai leader dan co-leader yang mengurus semuanya. Kami berangkat dari Bontolabbu Bantimurung pada pukul 08.00  wita, bergerak melajukan motor ke arah selatan Maros kemudian masuk ke wilayah Malino.

Karena sudah pernah ke tempat / jalan yang sama sebelumnya, saya tidak usah jelaskan, baca saja disini (Trip ke hutan pinus lembbanna) :D. 


Kami tiba di rumah warga sekitar pukul 10.30 karena perjalanan yang cukup santai, sembari menunggu Fandi, si guru yang harus menunaikan kewajibannya untuk mengajar. Kebetulan hari itu hari jum’at, kami menunaikan sholat jum’at di kampung Lembanna yang air nya seperti air lembah. Sangat dingin, walaupun siang itu sangat cerah. Sebelum nanjak, tak lupa Wawan si bendahara membeli bakso yang sengaja tidak diberi air untuk dikonsumsi dengan bumbu pecel nanti malam. 



Pukul 16.00 kurang lebih, ba’dda ashar perjalanan baru dimulai. Setelah memastikan posisi kendaraan dalam keadaan aman, kami tinggalkan rumah yang dijadikan base camp alias tempat penitipan motor dan helm. Melewati kampung lembanna yang umumnya warga disini bekerja sebagai petani sayur membuat perjalanan sehat ini terasa begitu sehat. Semoga saja sehat sampai ke atas dan sehat pulang kembali. 


Titik nol berada di hutan pinus lembanna. Kami berdoa disana, berdoa yang baik baik saja tentunya. Kami tidak saling mendoakan yang buruk antara satu dengan yang lain karena kami tidak saling bersaing memperebutkan hati seseorang, kami hanya ingin menaklukkan puncak Bawakaraeng. Puncak tertinggi kedua di sulawesi selatan. Berangggotakan tujuh orang, kami satu tim sekarang, dan kami wajib saling menjaga satu sama lain. Apapun yang terjadi satu lelah, harus lelah semua, satu makan, makan semua, satu tidur, tidur semua, bercerai kita runtuh eh salah, Bercerai kita akan kawin lagi. kwkwkw.


Pos nol ke pos satu dilalui dengan santai karena masih ada sisa tenaga dari warung bakso tadi. Meskipun sudah dibanjiri keringat itu sangat lumrah bagi pendaki amatiran seperti kami. Eh, kecuali Accul, Fandi dan Wawan, mereka mungkin sudah menyabet gelar pendaki menghampiri handal karena mereka didikan sispala buterfly waktu SMA dulu. Tapi yah, pendaki handal adalah manusia juga pastilah ada lapar dan haus yang menjadi kawan dalam perjalanan. 


Dari pos nol ke pos satu ini kami masih dapat jaringan internet. Meskipun samar samar dan terkesan dipaksakan karena kami sepertinya harus update status “otw gunung,.. bla bla bla” atau kata kata alay semacam itu yang pasti cukup memberi kabar masyarakat dunia maya bahwa kami ke gunung dan kami akan bahagia, udah itu saja. 
 

Cukup panjang dan trek yang dilalui cukup landai karena masih tahap awal, akhirnya ditemukan pohon yang diatasnya tertempel papan hitam berukuran kecil sekitar dua puluh kali sepuluh centimeter yang bertuliskan “pos satu”. Tulisan semacam ini akan menjadi tujuan kebahagiaan kami sebanyak sepuluh pos kedepan. Di pos satu, terdapat dua jalur, kalau ke kiri maka itu adalah jalur ke Pos dua Gunung Bawakaraeng, kalau ke kanan itu adalah jalur ke lembah Ramma. 
Pos satu ditandai dengan pohon ini


Pos satu menuju dua perjalanan lebih singkat dari sebelumnya, yah, namanya gunung kami hanya melihat pohon, tanah, batu, langit dan sesekali bentangan kayu yang tumbang menantang kami untuk terus berjalan. Di pos dua ditandai dengan adanya aliran air yang biasa digunakan hewan hewan disini untuk minum. Sapi sapi yang berkeliaran disini cukup gemuk, mungkin karena makanannya sehat sehat dan jauh dari bahan kimia. 


Pos dua ke pos tiga juga relatif singkat karena sore yang membuat udara sejuk  semakin dingin. Di pos tiga ini, saran dari fandi sebaiknya tidak usah istirahat kalau memang masih kuat. Konon katanya ada cerita mistis disana. Kami mengikuti saja sarannya karena kami memang masih kuat. Bukan pura pura kuat. Hutan lumut sudah mulai menyambut disini, beberapa batang pohon terlihat sangat putih seputih salju, katanya pohon itu sudah ganti kulit, kayak ular. Entah itu benar atau tidak untuk amannya saya percaya saja. 



Kondisi semakin gelap, sampai di pos empat ditandai dengan adanya kuburan yang konon katanya itu adalah kuburan pendaki tempo dulu. Setiap pejalan yang melewati pos empat ini singgah untuk mengirimkan doa (Islam;Al-fatiha) untuk penghuni kuburnya, semoga arwahnya tenang di alam sana.  Para pejalan sudah terbiasa dengan letak kuburan yang pas di bentangan pos empat, jadi tidak begitu horor. 


akibat telah terbakar
Dari pos empat ke pos lima kondisi sudah benar benar gelap, kami mengupayakan pencahayaan dari head lamp, power bank, ataupun dari senter hape masing masing. Agar kami bisa berjalan sesuai arah yang benar, Fandi tetap menjadi garda terdepan dan Asrul sebagai garda terbelakang (maksudnya yang paling belakang;penutup). Kondisi yang gelap gulita dan dingin yang sudah mulai menyeruak merasuk ke tulang tulang pemuda kelaparan ini, langkah yang terus dipacu karena kami harus sampai ke pos lima. Pos ini biasanya digunakan para pendaki untuk camp  sembari memulihkan tenaga. Kurang lebih pukul delapan malam, kami tiba di pos lima, berbagi tugas, ada yang memasang tenda, ada yang menyiapkan makanan, dan ada yang mengambil air dari di jarak yang cukup menguras tenaga. Setelah tenda terpasang, tak lupa sholat yang menjadi kewajiban setiap muslim harus kami tegakkan. Bukan hanya kebenaran dan keadilan yang harus ditegakkan. 

Lapar dan dingin yang menggerogoti membuat kami harus makan untuk energi yang bertahan. Wawan yang koki andalan memasak menu kesayangannya, bumbu pecel dicampur bakso yang dibeli tadi sore. Kami melahapnya dengan sangat girang, seperti anak ayam yang sangat kelaparan dan bersorak gembira ketika melihat makanan. 


Setelah makan, ngopi sebagai menu sunnah tak lupa kami kerjakan. Setelah itu, jangan lupa tidur. Jangan tidur terlalu larut karena mau dibilang jago begadang. Ini di gunung dan ketahanan fisik adalah hal yang utama kalau mau pulang dengan selamat. Otot yang dipacu sedari sore tadi harus diistirahatkan untuk melewati lima pos lagi besok. 


Malam yang indah, kurasakan lagi rasanya tidur diatas tanah yang dilapisi matras dibawah naungan kemah, beratapkan langit dipenuhi bintang. Dari pos lima terlihat di kejauhan kota Makassar kilauan cahaya lampu penemuan Thomas Alfa Edison yang menjadi sejarah dan memberi terang rumah warga kala malam tiba. Tapi dari sini kurasakan kilauan cahaya dari sang pencipta manusia, sang pencipta penemu penemu hebat yang memberi cahaya dan penerang kehidupan bagi seluruh ummat manusia, ialah Allah Swt.



Sabtu malam dilewati dengan mimpi mimpi indah yang diceritakan kala pagi menghampiri. Bersama segelas energen dan hewan "guk guk" yang menggeliat hebat di sekitaran tenda kami. Pagi yang teduh, setelah makan kami kembali membereskan tenda dan perlengkapan lainnya untuk melanjutkan perjalanan ke puncak. Tak lupa jeprat jepret ria mengisi aktivitas pagi itu. 

Pantai Bira dan Hempasan Air Laut di Tebing Apparalang

07:07 0
Bira, pantai pasir putih terbaik Sulawesi Selatan
Pantai Bira

Ya, tepat hari ketiga pasca lebaran 1438 H (2017 Masehi), 28-30 Juni 2017. Rencana untuk kedaerah pantai pasir putih ini akhirnya terealisasi. Tepat pukul 10.30, sepeda motor yang sudah memenuhi standar untuk melakukan perjalanan jauh akhirnya melakukan tarikan gas pertamanya menuju arah selatan pulau sulawesi ini. Dua kendaraan roda dua ini melaju dengan kecepatan standar, karena satu mobil belum berangkat. Sembari menikmati perjalanan melalui Kabupaten Maros, memasuki kota Makassar dan Melalui kabupaten Gowa akhirnya tiba di kabupaten Takalar untuk menanti waktu sholat dhuhur. 

Mobil yang berisikan sepuluh orang baru berangkat ba’dda duhur. Saya Nawir dan Ariawan mendahului beberapa puluh kilometer, kami menyempatkan singgah di rumah ayah nawir yang ada di Jeneponto, sembari bersilaturahmi menikmati makanan khas lebaran, dan melanjutkan ke masjid Agung kabupaten Jeneponto saat ashar tiba. Ba’dda azhar, perjalanan kembali dilanjutkan. Kabupaten Jeneponto yang terlihat kering di beberapa tempat membuat para penambak garam bahagia, beberapa hektar tambak garam terlihat memenuhi pandangan dengan rumah rumah khas untuk menampung garam.

Alun Alun Pantai Seruni
Setelah melalui tambak garam, Kabupaten Jeneponto yang cukup subur terlihat di sisi selatan ketika hendak memasuki kabupaten Bantaeng. Cukup menarik perhatian, Setelah memasuki kabupaten Bantaeng yang begitu tertata rapi kami menyempatkan singgah di  pantai seruni, setelah memarkir motor yang diatur langsung oleh satlantas bukan juru parkir liar.  Keramaian Kabupaten Bantaeng cukup terlihat disini, pantai yang di depannya berdekatan dengan rumah sakit dan lapangan membuat banyak masyarakat menghabiskan waktu sorenya disini. Ada yang bermain di lapangan sambil berkejaran, ada yang olahraga, dihiasi penjual halus manis yang kebanyakan penjualnya adalah anak anak. Di luar lapangan disediakan dokar yang beberapa pengunjung bisa menyewanya untuk berkeliling sekitar kawasan ini, di pantai seruni juga tersedia beberapa permainan anak - anak membuat kawasan pantai ini menjadi sentral kunjungan pantai yang menarik. Kami tiba disini sekitar pukul 17.00  sembari menunggu teman yang berkendara roda empat tadi. Cafe cafe juga berjejer rapi di tepi pantai seruni ini. kebanyakan dari mereka menjual jus yang bisa membantu melepas dahaga setelah seharian berkendara. Kami memilih box cafe, yang uniknya cafe ini terbuat dari box container yang di modifikasi sekreatif mungkin. Letaknya pun berdampingan dengan masjid yang pada saat waktu sholat tiba, masjid ini full bahkan sampai diteras, itu yang membuatku beranggapan bahwa kabupaten ini cukup beradab, disamping  banyaknya slogan slogan islami semisal “sudahkah anda sholat” yang terpampang di pinggir jalan.

Ba’dda isya perjalanan kembali dilanjutkan, kami sempatkan singgah di “Balla Lompoa Bantaeng”. Jika tampak dari depan ukurannya terlihat lebih kecil dibanding Balla Lompoa Gowa. Tapi desainnya begitu tradisional dengan dinding kayu yang mengkilap diterpa sinar lampu LED. Didalamnya pun begitu khas dengan gemerlap lamming  khas bugis makassar. 

Balla Lompoa Bantaeng
Melewati rentetan pepohonan, rumah warga dan laut kabupaten Bantaeng yang tertata rapi, akhirnya kabupaten Bulukumba pun menyapa. Aktifitas warga sudah tidak begitu nampak karena waktu sudah menunjukan pukul 21.00. Karena saya berada pada tempat duduk kedua di atas sadel motor, saya bebas mengamati keadaan sekitar, bagaimana kondisi masyarakat, bentuk bentuk rumah, tatanan kota dsb. (maklum baru kali ini kesini). Gas kendaraaan kembali dikendorkan kala tiba di alun alun kota Bulukumba. Sembari memastikan tuan rumah yang akan kita datangi rumahnya sudah siap menyambut kami tiga belas pemuda lajang yang katanya hendak berlibur ini.

Pukul 21.30 kendaraan kembali bersandar di salah satu rumah teman kuliah dari Adi (sebut saja leader). Rumah panggung yang berada di jalan poros menuju pantai Bira ini berhadapan langsung dengan rumah warga dan empang setelahnya. Kami yang sedari tadi sudah sangat kelelahan tingkat sedang ini mencoba membersihkan diri, mengisi perut dan mencari pembaringan yang memenuhi tingkat nyaman untuk meluruskan punggung yang mencoba kokoh di atas motor seharian. Bukannya sok kuat, tapi kami hanya ingin merasakan bagaimana si penunggang kuda pada masa peperangan di jaman nabi dulu merasakan kehebatan berkuda (bedanya kami hanya penunggang motor).

Subuh kembali menyingsing, adzan subuh yang sayup sayup kedengaran di telinga orang orang yang kelelahan akan sangat minim bahkan bisa sampai hilang. Jika tidak dibarengi keinginan untuk bangun yang lebih besar habislah kita dengan godaan syetan yang terkutuk.

Suasana pagi sama saja. Sejuk dengan suara burung yang berlomba, kebetulan burung disini berada dalam sangkar, di teras rumah panggung milik Feri. Di seberang jalan terlihat empang milik warga sekitar, dan di kejauhan terlihat kubangan  air yang biasa disebut  laut. Beberapa anak muda yang masih melanjutkan tidurnya dengan lelap, terpaksa harus bangun karena ibu Feri yang sangat antusias menyambut kami selalu mengajak makan dengan ajakan yang sulit kami tolak. Beberapa anak muda yang tahu diri hendak membantu pekerjaan dapur seperti; memasak dan cuci piring mendapat teguran keras (ala guru BP) dari ibu yang memiliki nama Marliang ini. Beliau sangat memuliakan tamu, membuat kami merasa tidak enak karena Feri tidak memiliki saudara perempuan yang bisa membantu ibunya. Untung saja ada tante Feri yang turut membantu . Mereka menyiapkan semua persiapan piknik kami dari segi logistik (makanan), ada ayam dan cobe’  cobenya serta makanan lain.

Pantai Bira

Pukul 10.00 kami melanjutkan perjalanan ke tujuan utama “pantai bira” jarak tempuh dari rumah Feri ke pantai  bira memakan waktu sekitar kurang lebih satu jam. Suasana laut begitu kental terasa ketika sudah melewati gerbang pembayaran karcis yang dikenakan per orang dan per motor. Kami memilih  lokasi istirahat yang bersentuhan langsung dengan pasir. Pasir putih tepatnya. Kami tiba saat matahari menyengat apa saja yang berada diatas kilauan pasir putih ini (harap memakai kacamata). Tapi, meskipun panas begitu menyengat itu tidak menghalangi para pengunjung libur lebaran ini menikmati  suguhan air laut  di salah satu pantai terbaik Sulawesi.  Ada beberapa wahana yang ditawarkan, seperti permainan banana boat, donat boat, dan bagi traveler yang ingin melihat penyu bisa mengunjungi pulau liukang dan pulau kambing.

Keseruan bermain di pantai dengan suguhan pemandangan laut yang begitu biru tidak lengkap tanpa santap siang di gasebo yang disediakan. Tak lupa kami membuka bekal yang dibuatkan oleh ibu Feri, masakannya lezat apalagi dinikmati oleh para pemuda yang kelaparan.

Beberapa teman yang berusaha menikmati  permainan airnya mencoba banana boat, mungkin rasanya sama saja di pantai lain, sensasinya saja yang beda dengan lokasi yang beda dan teman yang beda. Pasir putih yang terhampar di sepanjang pantai membuat anda bebas menikmati dari sisi mana saja. Pengunjung yang tidak mempunyai kerabat di sekitar kabupaten Bulukumba bisa memanfaatkan fasilitas penginapan dengan tarif yang berbeda beda, tergantung jenis dan ukuran penginapan yang diinginkan.

Tebing Batu Apparalang

Petunjuk arah ke Apparalang
Setelah lelah bermain air di pantai bira, kami melanjutkan trip ke Apparalang, suguhan tebing batu menjadi ciri khas tempat dengan karcis hanya Rp. 5000 per motor ini. Lokasinya cukup luas bisa dinikmati dari beberapa spot. Kami memilih spot yang paling tinggi dengan pemandangan cekungan tebing yang terlihat mengerucut ke laut. Setelah puas mengambil gambar disana, kami mencoba spot dimana pengunjung bisa menuruni anak tangga yang berjumlah puluhan. Cukup tinggi dan terbuat dari kayu.  Di bagian bawah, banyak pengunjung yang membasahi tubuhnya dengan loncatan loncatan indah ke laut, mandi disini terlihat lebih menantang, dengan hantaman air laut ketebing yang membunyikan suara hempasan.

Sungguh indah apa saja yang diciptakan tuhan, untuk dinikmati dan dimanfaatkan anak cucu adam. Dari sisi lain mungkin sisi utara apparalang, terdapat spot yang juga menarik, beberapa teman sudah berada disini lebih dulu. Mengambil beberapa gambar lebih banyak  dari  kami. Disisi ini terdapat jembatan kayu yang menghubungkan daratan batu yang ada disisi tebing batu. Pengunjung terlihat begitu bahagia dengan spot spot terbaik pilihan mereka. Kami disini hingga magrib menjelang. Sayang sekali sunset tidak bisa terlihat di  sisi timur Bulukumba ini. karena seharian berpetualang meskipun hanya dua spot yang sempat kami kunjungi (karena akan ada trip selanjutnya kesini), lelah yang menyeringai membuat kami memutuskan untuk kembali ke rumah Feri. Menikmati malam dan esoknya kembali ke kampung halaman.

Perjalanan pulang dihiasi dengan hujan di  beberapa titik di beberapa kabupaten, hanya di Takalar sampai Maros saja yang tidak diguyur hujan, alhamdulillah perjalanan aman aman saja. Semoga seaman dan setentram perasaan yang didamaikan ketenangan hamparan laut dan menghempas perasaan buruk ke tebing apparalang hingga tak tersisah.
 
Tebing Apparalang

Pantai Bira
Nawir-Agus-Idul-Heril-Hanaf-Agung-Surya-Syukur



Trip ke Hutan Pinus dan Air Terjun Lembanna Malino

07:34 0

Apa rasanya puasa 17 jam di beijing ?
Salah satu pertanyaan yang bisa dilontarkan untuk umat muslim disana. Wah, hebat yak. Di Indonesia saja yang puasanya 13 jam sudah ngos ngosan. Apalagi cobaan di sana lebih dahsyat lagi dengan musimnya, dengan aroma makanan khasnya juga orang orang dengan cara berpakaiannya. Beijing salah satu negara tropis yang cuacanya lumayan dingin beberapa derajat celcius. Sama halnya di Indonesia, beberapa daerah bagian di Indonesia memiliki suhu yang mencekam, utamanya di daerah pegunungan. Tidak jauh Jauh, Salah satu bagian di Indonesia bagian timur khususnya di Sulawesi Selatan ada salah satu objek wisata andalan yang terkenal dengan cuaca dinginnya. Malino, orang orang menyebutnya.
Hutan Pinus Lembanna Malino

Oke, trip kali ini saya akan menceritakan kisah sebulan yang lalu tepatnya di 24 - 25 April 2017. Bersama kawan trip, Nawir, Budi, Ariawan, Kahfi dan Ucup, kami melakukan diskusi, setelah menimbang lalu memutuskan dan memantapkan tujuan terciptalah sebuah keputusan bersama “Lembanna”. Salah satu lokasi camp yang bertaraf kekinian di kalangan anak muda.

Minggu 24 April, kami sempat memenuhi lima mata kuliah yang menjadi tuntutan wajib sekaligus amanah yang harus dilaksanakan. Kami tidak bolos, itu bukan tipe anak muda sejati. Meskipun dikampus mungkin sudah ada yang pikirannya bercabang sampai ke lembanna. Setelah jam mata kuliah berakhir, perlengkapan camp seadanya yang telah dikumpulkan di meet point (rumah Budi) kembali kami packing. Setelah semua siap, kami melakukan perjalanan di pukul ± 17.30 wita (menjelang magrib).

Dari jalur Maros kota, kami memilih jalur alternatif, berbelok masuk ke kostrad kariango, melalui sipur dan tembus ke Poros Malino pas Magrib tiba. Tak lupa kembali mengingat kepada sang pemilik bumi, karena kami bermusafir ke bagian lain dari buminya.

Motor kembali berbunyi, setelah menyaksikan kejadian kejadian tragis di magrib itu (biar kawan trip yang ingat) kami melanjutkan perjalanan dengan santai, menyiapkan beberapa bekal dan bergabung bersama pengendara lain yang juga hendak berlibur ke Malino. Suasana jalan poros cukup ramai dengan pengunjung yang lalu lalang. Ada yang baru pergi dan ada yang telah menghabiskan sabtu minggunya di sana.
Hutan Pinus Lembanna Malino


Dingin serasa mulai mencekam, mungkin karena sudah semakin dalam motor kami melaju. Beberapa warga lokal yang mendekap tubuh mereka dengan sarung sudah terlihat, pertanda bahwa disini sudah benar benar dingin. Perjalanan cukup santai, karena Ucup dan budi mengendarai vespa yang beberapa kali mengalami masalah alias mogok. Vespa Biru dan vespa merah ini mungkin sudah berumur tapi mereka tetap setia menjadi barang tunggangan yang baik dengan suara yang khas.  Setelah melewati beberapa tempat keramaian, terlihat dari beberapa villa sekelompok manusia tengah menikmati malam dengan asap mengepul dari gelas gelas keramik di hadapannya. Ada yang meneguknya dengan penuh cinta bersama keluarga, sahabat dan hubungan apapun yang mengikat diantara mereka. Bahagia sekali.

Sekarang tiba di lokasi tanjakan tanjakan yang terakhir. Suasana sepi kembali menyapa dan gelap menghampiri,  karena sepertinya lampu jalan disini mati, atau memang tidak ada. Untung saja masih ada nyala lampu motor yang menjadi penerang ditengah longlongan anjing yang terdengar menakut nakuti. Nah, sekarang motor Nawir lagi yang mengalami masalah, standar dari honda beat biru ini terlepas. Karena kontak otomatis membuat motornya pun ikut mati. Beberap menit dihabiskan untuk mencari standar yang lepas ini kemudian kembali memasangnya.

Bertanya kepada warga tentang lokasi Pendakian ke Bawakaraeng mungkin solusi yang cukup jitu. Berhubung karena ini langkah perdana kami ke tempat ini, makanya belum ada yang tahu jalur. Selang berapa menit setelah bertanya, melewati kebun pemetikan strowberry akhirnya kami menemukan tikungan ke arah kanan dengan papan petunjuk =>Lingkungan Lembanna, Air Terjun Lembanna, Hutan Pinus, Lembah Ramma dan Gunung Bawakaraeng.

Lokasi camp di hutan pinus Lembanna

Setelah memasuki lorong ke pendakian bawakaraeng, anda akan menemukan palang yang dijaga oleh warga setempat dan mungkin dijadikan sebagai tempat menambah pengasilan. Satu motor dikenakan tarif Sekitar Rp. 3.000 – Rp 5.000. Pemandangan malam dari jalur masuk ini luar biasa. Gemerlap lampu buatan manusia yang terlihat terpendar dari arah kota Makassar terlihat indah ketika disaksikan di daerah ketinggian Kabupaten Gowa ini. Masya Alllah.

Kembali ke palang tadi, Kami bertemu rombongan anak muda yang usianya terlihat lebih muda dari kami, karena mereka juga menuju Lembanna kami menawarkan diri untuk ikut, akhirnya mereka menerima (meskipun para tetua ini berusaha untuk tidak terkesan ikut ikutan).

Dari pertigaan yang menjadi pilihan setelah melewati palang tadi, untuk menuju jalur pendakian Bawakaraeng silahkan belok kiri dan parkir motor anda di rumah rumah warga. Semua warga disini cukup welcome dan menerima pendaki dengan senang  hati, asalkan para pendaki tahu diri juga, bisa menjaga etika. Hampir semua rumah warga disini dipadati kendaraan baik roda dua maupun roda empat yang mungkin para pemiliknya juga sedang melakukan pendakian atapun camp di sekitar sini.

Suasana sejuk mulai amat terasa, beberapa hembusan nafas sudah terlihat berasap, cuaca semakin dalam bersama malam yang kian larut. Sudah hampir pukul 22.00. Kami melanjutkan dengan berjalan kaki sekitar kurang lebih lima belas menit. Tidak begitu terjal, tapi melewati sungai kecil atau lebih cocok disebut pengairan warga.

Setelah sampai di lokasi camp, cukup dua menit mencari tempat mendirikan tenda dan melakukan persiapan masak lalu makan malam, kondisi perut tidak bisa menyesuaikan dengan tempat dingin seperti ini. Tak lupa menggantung hammock, diantara pohon yang berdekatan. Ada empat hammock yang dibawa namun hanya tiga yang bisa digunakan, selebihnya dijadikan tempat penyimpanan barang.

Satu camp untuk enam orang cukup membuat sesak, awalnya budi dengan selimut tebal yang memenuhi carell hanya menggantung diri di hammock, tapi karena malam membuat dingin semakin mencekam ia memutuskan untuk bergabung kedalam tenda yang sudah sesak ini.

Malam kian larut bersama nyanyian pengunjung lain yang masih samar samat terdengar. Subuh pun menyambut dengan embun yang masih basah. Masih terdengar suara ngorok dari manusia manusia yang (antara kelelahan atau menikmati tidur). Suasana masih gelap, dan bara api dari perapian dekat kantin milik warga setempat masih menyala, hal itu mengundang langkah kaki untuk menghampirinya sekedar untuk menghangatkan badan. Apabila anda pengunjung yang rajin menabung, masalah toilet dapat teratasi, karena disediakan disini. Air pun terus mengalir dari ledeng – ledeng yang tersedia disini.

Pagi yang ditunggu - tunggu membuat mata melek dengan hamparan sayuran yang terlihat landai berbukit bukit. Dekapan pohon pinus pun membuat teduh pagi ini. Mentari yang bersinar cerah dari ufuk timur membuat para pemuda menyiapkan perlengkapan mengambil gambar. Sepertinya itu juga dilakukan oleh pengunjung lain, seolah berfoto adalah salah satu agenda rutin yang tidak bisa terlepas bagi manusia saat ini. Cengkarama yang bersahabat membuat kopi hangat terasa semakin hangat. Berbagai kesibukan liburan terlihat juga dari beberapa tenda yang ketika pagi terlihat semakin banyak. Mungkin ada yang datang juga setelah kami.           

Air terjun Lembanna
Air Terjun Lembanna (Malino, Gowa)
Pukul sepuluh, setelah semua kebutuhan telah terpenuhi termasuk jeprat jepret ria, kami melanjutkan perjalanan ke Air Terjun Lembanna. Salah satu agenda yang bisa dirangkaikan apabila mengunjungi hutan pinus Lembanna adalah air terjun ini. Letaknya, apabila dari tempat parkir untuk menuju gunung bawakaraeng terdapat sebuah gerbang  yang terbuat dari seng, belok kanan untuk menuju hutan pinus lembanna/star point ke bawakaraeng, dan belok kiri untuk menuju wisata air terjun. Dari pertigaan pertama jaraknya sekitar satu kilometer.

Cukup santai karena treknya tidak begitu culas. Suguhan pemandangan alam serta bukit bukit sayuran segar membuat mata semakin segar dengan yang hijau hijau seperti ini. Semakin dekat semakin terdengar suara gemuruh air. Akhirnya terlihat juga, Pas sampai ke air terjun ini posisi awal kita sejajar dengan puncak air terjun. Ada dua pilihan berfoto, dari atas air terjun atau dari bawah air terjun sembari menikmati dinginnnya air. Kami pilih yang kedua. Menyegarkan mata dengan pemandangan alam, menyegarkan hati apabila dekat dengan ilahi, menyegarkan pikiran dengan refreshing dan untuk membuat segar suasana badan, berenang dan menikmati air terjun salah satunya caranya (versi saya).



Rupanya disini ada camp juga yang didirikan oleh anak muda lain. Salah satu alternatif menarik untuk camp yang recomended. Semakin lama menikmati air terjun lembanna, pengunjung pun semakin bertambah. Kahfi yang punya jadwal cuci piring membersihkan piringnya disini, karena air cukup bersahabat. Menjelang dhuhur kami sudahi petualangan hari ini, kembali kelokasi parkir terlihat ada beberapa warga yang sedang membersihkan ladangnya, ada pula yang memetik buah yang terlihat sangat segar. Biaya parkir disini tidak ditentukan, biasanya warga hanya memasang semacam toples tertutup yang bisa diisi oleh pengujung sebagai ucapan terima kasih seadanya.

Cukup sekian trip singkat hari ini, Pengalaman berfoto di tugu pendakian bawakaraeng sudah bisa membuat kita merasakan bagaimana serunya bisa berdiri disana (Insha Allah next trip ke Puncak Bawakaraeng)
Jalur pendakian ke Bawakaraeng


Kalau lapar, Jangan lupa beli bakso ditengah kabut.

Terima Kasih.
 Homes, 01 Juni 2017 - Hari Pancasila

Like this ya